Karya-karya berikut ini merupakan hasil praktik menulis deskripsi berdasarkan gambar pemantik pada kegiatan “Bingkai Ilmu dan Kajian Kepenulisan 2024” yang diselenggarakan oleh UKM KI Al-Qolam UPI.

Cakrawala Mimpi
Di bandara, waktu seakan membeku di antara detik-detik keajaiban. Langit yang berwarna keemasan mencerminkan harapan dan impian di balik jendela kaca yang luas cahaya matahari masuk dengan sempurna. Pesawat-pesawat, seperti burung-burung besar dari besi dan mesin, menari di landasan dengan elegan, siap menerbangkan cerita-cerita tak berujung ke penjuru dunia. Di dalam ruangannya, gemericik langkah-langkah penuh harapan berbaur dengan suara halus dari perbincangan para pelancong, menciptakan melodi perpindahan yang lembut. Setiap sudut bandara memancarkan aroma penantian dan petualangan, menghubungkan jiwa-jiwa yang mencari arah baru di cakrawala tak berujung.
Penulis: Thenessa Nova Yanti
Aku menatap orang-orang yang sedang berjalan-jalan di sana bersama-sama dan pasti mereka tidak memikirkan akan kemana mereka.
Penulis: Farrah
Langit sore di Bandara memancarkan pesona yang luar biasa, menambah keindahan suasana perpisahan. Di antara rona jingga yang merekah, siluet beberapa orang yang membawa koper tampak bagai para pelancong yang beranjak meninggalkan jejak cerita di tanah asing.
Penulis: Dari Makhluk Bumi
Aku menatap sekeliling, netraku berfokus pada orang-orang yang sibuk menarik kopernya. Aku menitikkan air mata kala memandang seorang anak kecil dan ayahnya yang saling berpelukan, kemudian sosok pria itu perlahan menjauh dari anaknya sambil melambaikan tangan.
Penulis: Liaa
Langit biru mulai berganti menjadi berwarna jingga, orang-orang silih berganti melewati diriku yang masih duduk di kursi dengan perasaan yang tidak aku kenali. Rencana yang sudah aku persiapkan untuk meninggalkan kota ini, kini seperti angin yang hanya lewat. Langkah kaki dan berisiknya orang-orang tidak bisa merubah perasaanku yang semakin tenggelam bersamaan matahari yang akan tenggelam.
Penulis: Kirana
Senja itu di sebuah bandara ternama di kotaku ditemani mentari yang akan terbenam aku menunggu jadwal penerbangan ditemani sekotak teh manis.
Penulis: Dewi
Bandara
Bandara terkadang memang tempat dimana banyak orang merasakan kesedihan karena perpisahan, banyak orang yang menangis di tempat ini daripada didalam tempat ibadah. Bahkan, disore ini banyak orang orang yang sedang menatap indahnya langit senja san harunya perpisahan. Ada yang harus berpisah dengan istrinya, anaknya, untuk pergi mencari apa yang ia cari, ohh kehidupan… dimana ada pertemuan disitulah ada perpisahan.
Penulis: Juan Alkausar
Senja
Semburat jingga terpancar memenuhi bandara sore itu. Para penumpang hilir mudik keluar dan masuk. Suasana sibuk tergambar jelas di sana. Namun siapa sangka ada hati yang tertinggal ketika kaki mulai melangkah memasuki gerbang penerbangan. Sesak namun harus pergi jua. Seperti malam yang akan berganti dengan siang begitu pula kehidupan tak akan selalu ada ditengah kegelapan. Hati menangis namun hasrat itu semakin memuncah. Impian akan masa depan yang begitu indah tergambar jelas didepan mata. Selamat tinggal tuan sampai jumpa lagi ketika diri sudah sampai pada kesuksesan.
Penulis: Abelia
Semua tetap berjalan meski ada yang hilang. Suara-suara itu terdengar bising, seolah menertawakan keadaanku yang mulai kehilangannya dibalik kaca bening pembatas kami. Dia yang masih setia menatapku seakan tidak ingin perpisahan ini terjadi. Lucu sekali. Orang-orang di sekitar tampak tak peduli padahal aku sedang meratap menangis di sini. Dadaku seakan teriris melihat pesawat mulai lepas landas. Pada akhirnya, kami kehilangan satu sama lain. Matahari yang ditelan ufuk itu pun mengucapkan bela sungkawanya pada kami. Berusaha menghiburku meski air mata tak kunjung kering sampai purnama.
Penulis: Miftakhul Hasanah. Sosial media: @miiftaa.sn
Berlanjut ke bagian 2~