Lompat ke konten
Beranda » Blog » Aku yang Dipercaya – Prosa

Aku yang Dipercaya – Prosa

KARYA TULIS YANG TERINSPIRASI DARI LAGU
“迷星叫”


Judul Lagu: 迷星叫
Penyanyi:
MyGo!!!!!
Jenis Karya:
Prosa

AKU YANG DIPERCAYA
Karya: Yarina Dya

Setiap melakukan sesuatu yang benar, aku selalu berharap bahwa ini mungkin titik balikku. Meski akhirnya, itu tak menjadi apa-apa. Lihat. Bahkan saat aku menyimpan gelas di meja yang agak miring itu, airnya saja enggan tumpah. Sama seperti niat setengah hatiku.

Suatu kali aku berjalan sendiri di tengah gemerlap kota malam hari. Aku ditinggal temanku karena kunci motornya hilang. Malam itu anehnya sangat indah, tenang, dan dingin karena hujan baru saja turun. Cahaya warna-warni menari di lantai batu yang berkilau. Sumbernya ada jauh di atasku, dari jajaran papan lampu di atas gedung itu. Warnanya pasti menempel ke mataku sekarang. Menyilaukan.

Aku melewati banyak wajah dengan berbagai raut berbeda. Ada yang tertawa, marah, bahkan tergesa. Seketika aku sadar bahwa aku sendirian dan melawan arah jalan. Fakta bahwa aku selalu bersama diriku selalu terasa mengejutkan. Padahal aku memang tahu bahwa setiap manusia memang hanya akan membawa dirinya sendiri hingga ke liang lahat bersama amalnya. Namun tak jarang, aku juga sering merasa tersesat sendirian.

Sesekali aku takut untuk menatap diriku di cermin. Bukan karena takut berubah wujudnya, tapi karena aku tahu itu hanya sebuah topeng dan wujud yang Tuhan titipkan padaku. Dan aku tahu bahwa wajah itu penuh kebohongan. Terkadang aku membencinya karena tahu betapa busuknya sosok dibalik wajah itu, betapa pengecutnya dia.

Tapi apa boleh buat? Aku juga sayang padanya. Itu diriku juga. Jiwa rapuh yang ingin dijaga, tubuh lemah yang ingin dirawat, dan manusia yang berusaha untuk hidup selayaknya manusia.

Melihat hari berlalu tanpa arti rasanya menyesakkan. Masih bisa bernapas keesokan harinya saja aku sudah bersyukur.

Aku tak pandai meniru orang. Maka ini adalah satu-satunya caraku bertahan hidup. Mereka tak akan peduli apakah aku terluka atau tidak, jatuh atau terguling, merangkak atau mati. Yang mereka peduli adalah siapa aku sekarang yang padahal terbentuk dari semua rasa sakit tak terlihat itu.

Tanpa alasan, masa depan yang tak kuinginkan bisa saja terjadi. Harus berapa kali lagi aku percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatannya? Aku selalu percaya itu. Hanya saja terkadang aku tak dapat menyuarakannya. Suaraku tersenggal setiap kali berusaha. Aku benci fakta bahwa aku malah tumbuh menjadi sosok dewasa yang tak kuinginkan saat kecil.

Aku tak ingin melawannya lagi. Rasa dipaksa untuk hanya menerima sisi baik dunia. Jangan beri aku terlalu banyak afirmasi. Aku juga tahu dunia tak selalu hitam-putih. Membayangkannya berwarna abu-abu, seperti fragmen tersesat yang kadang menghilang demi menjaga warna utama tetap bersina. Ah, itu aku.

Aku akan menjadi diriku. Hanya itu. Hanya itu yang bisa kulakukan.

Meskipun tersandung, terseret, terlupakan. Aku akan menjadi diriku. “Aku” yang telah Tuhan ciptakan untuk berada di atas takdirnya. “Aku” yang Tuhan percaya untuk menjaga hidup yang dititipkan pada jiwa ini.

Tidak. Aku tidak iri pada mereka yang lebih bersinar dariku. Aku tahu, aku punya cahayaku sendiri. Tapi aku iri pada mereka yang tahu orbitnya, tahu tempatnya, dan tahu kemana harus pulang saat dunia membuatnya kecewa.

Seringkali aku egois untuk mengandalkan akalku yang berujung menyesatkan. Atau mengandalkan sesuatu fana yang akhirnya mengecewakan. Atau terlalu bergantung pada diri sendiri yang padahal sama rapuhnya.

Aku ingin lepas dari itu semua. Membuang diri lamaku untuk menuju sesuatu yang jauh lebih tahu diriku daripada aku. Kepada-Nya aku memohon agar diri ini tak lebih lama tersesat dan terombang-ambing di antara gelembung ragu.

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *