Lompat ke konten
Beranda » Blog » Semesta Merayakanmu – Cerita Motivasi

Semesta Merayakanmu – Cerita Motivasi

Peraih penghargaan “Karya Terbaik” dalam kategori Cerita Motivasi pada Monthly Words Weaving Al-Qolam Juni 2024

Semesta Merayakanmu
Oleh Kota Bulan

“Jika Tuhan membawamu ke suatu perjalanan,
Dia akan membantumu untuk melewatinya.” – Unknown

 Hangatnya mentari pagi menyapa Elora dari kejauhan pada pukul setengah enam, waktu di mana ia dan keluarganya baru saja menapaki kota Bandung, kota di tengah permata hijau yang dikelilingi kabut abu-abu. Dengan udara sejuk yang menyelimuti, Bandung menawarkan tempat pelarian dari hiruk-pikuk dunia, terutama bagi Elora yang akan melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Persis seperti apa yang ada di benak Elora; Bandung dan jalanan kotanya yang dihiasi pohon-pohon rindang merupakan bentuk hidup dari lukisan alam yang memanggil jiwanya untuk berkelana meskipun harus tinggal jauh dari orang tua.

 Selama beberapa bulan menyusuri kehidupan kuliah yang ternyata tidak selalu menyenangkan, Elora semakin akrab dengan aroma bunga bermekaran yang menyatu dengan wangi kopi dari kafe-kafe kecil di pinggir jalan. Dia pun semakin tegar melangkah menapaki jalan-jalan berliku, menjelajahi setiap sudut kota penuh haru, dan berdiri tegar di antara gemuruh rindu. Di kamar kos yang kecil dan sederhana, ia menenun mimpi-mimpi indahnya di bawah langit malam yang bertabur gemintang. Setiap hari, di heningnya pukul tiga pagi, Elora berdoa memohon kekuatan kepada Tuhan, berharap dapat tumbuh menjulang seperti pohon besar yang akarnya menembus bumi, hingga seringkali angin lembut membawa aroma sejuknya embun dan menyampaikan bisikan semangat kepadanya.

 Kerinduan kerap kali bertamu pada hati kecilnya yang dipenuhi sedu sedan. Namun, meskipun demikian, Elora terus mempertahankan mimpinya di antara bayang-bayang keraguan yang gemar menghantuinya tiap malam. Dia selalu berusaha tegar mengingat bahwa setiap langkahnya menjadi sebuah perjuangan yang tidak hanya dipersembahkan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang mencintainya. Saat malam berganti hari, Elora berulang kali merenung di tepi balkon kosnya yang sunyi sehingga cahaya bulan pun dengan lembut membelai wajahnya yang lelah, sementara bayangan kenangan masa lalu masih menyisakan ketakutan yang belum hilang dari hatinya. Setiap kali ia merasakan tangisnya akan tumpah, dia selalu mengingat salah satu kutipan yang tidak sengaja ia baca ketika masih terjaga dari tidurnya, tulisan itu berbunyi seperti ini; “Jika Tuhan membawamu ke suatu perjalanan, Dia akan membantumu untuk melewatinya.” Dan tulisan itu pun menjadi satu-satunya mantra yang selalu ia genggam ketika harinya mulai membiru dan ketika ia merasa semangatnya tak lagi menderu.

 Dalam keheningan itu, suara hati mengingatkannya akan segala hal yang telah dia korbankan; waktu, tenaga, pikiran, biaya, dan kebahagiaannya. Ia merenung tentang bagaimana pengorbanannya telah membawa secercah cahaya bagi orang-orang di sekitarnya meskipun terkadang ia merasa seperti menempuh lorong perjalanan tanpa ujung. Pengorbanannya bukan sekadar berjalan di jalur yang gelap, tetapi ia juga berkorban dengan merangkul kesulitan, merengkuh ketidakpastian, dan memeluk kesepian dengan tabah. Bagi Elora, perjalanan ini bukan hanya tentang mencari ilmu, tetapi juga menjaga api semangat yang terbakar di dalam dirinya, api yang telah hampir padam tetapi ia terus usahakan agar tetap menyala sampai pada hari ia benar-benar bahagia.

 Elora menyadari bahwa setiap doa yang ia dipanjatkan adalah sebuah pengorbanan hati; sebuah permohonan agar ia dan orang-orang tercintanya dapat melalui segala ujian yang dihadapi. Dari perjalanan yang terlihat tak seberapa ini, dia belajar bahwa pengorbanan bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu bertahan dan terus berjuang meskipun terkadang terasa berat dilakukan. Di balik hari-hari yang silih berganti, Elora terus menapaki jalan hidupnya dengan tekad yang semakin menguat. Di setiap senyum yang ia hadirkan, terukir pengorbanan yang tak terucap dan keberanian untuk tetap melangkahi jalan-jalan di kota Bandung yang penuh gemerlap.

 Pada akhirnya, ketika cahaya mulai menampakkan hangatnya, Elora merasa ada kelegaan dalam hatinya, mengingat setiap langkah kecil yang telah ia perjuangkan membawanya lebih dekat dengan tujuan. Maka dari itu, di hari ulang tahunnya yang ke-22, Elora memberanikan diri untuk merayakan semua keraguan, ketakutan, dan kekhawatiran yang selama ini ia hindari. Itu adalah momen di mana Elora menyadari bahwa setiap perjuangan dan pengorbanan yang telah dia lakukan tidaklah sia-sia. Semua pengorbanan itu adalah bagian dari sebuah cerita yang bermakna, tentang cinta, kasih saying, kekuatan, ketulusan, dan ketabahan dalam menjalani kehidupan. Di hari itu, Elora menatap cermin dan melihat satu sosok gadis kecil berusia 10 tahun yang tersenyum tulus berkata;

 “Terima kasih karena kamu sudah menjadi Elora yang bahagia.”


Sumber gambar: –

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

  • Kota Bulan adalah nama pena dari salah satu penulis puisi yang juga merupakan bagian dari prajurit pena UKM KI Al-Qolam UPI. Kota Bulan atau akrab dipanggil Bella dalam kehidupan sehari-harinya mulai menunjukkan ketertarikannya dalam dunia sastra semenjak masa remaja. Lahir pada 30 Juni 2002 di Banjarnegara, ia gemar menulis karya-karyanya dalam sajian yang romantik dan melankolis. Dengan penulisan yang penuh makna mendalam, ia sering mengeksplorasi tema cinta, kehidupan, kesedihan, dan kerinduan tetang seseorang. Meskipun belum terkenal secara luas, Kota Bulan aktif berbagi tulisan-tulisannya melalui media sosial Instagram @kotabulan_ dan Wattpad @kotabulan dengan harapan dapat menemukan pembacanya.

    Lihat semua pos

2 tanggapan pada “Semesta Merayakanmu – Cerita Motivasi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *