Pelayaran Menyeberang Pulau
Cer Muthe
Angin membawa kapal yang dinaiki Solis dan Ara semakin jauh dari pulau.
“Konon laut memakan mereka yang mencoba pergi dari Pulau Ekana,” ujar Ara dengan suara bergetar. Matanya tak berkedip memandangi garis pulau yang kian kabur.
“Aku tak percaya,” tantang Solis. angin berembus mengibaskan rambutnya ke belakang. Membuat tatapan matanya tampak jelas, menantang laut.
“Bapakku bilang begitu!”
“Bapak kamu bilang alasannya? Nggak kan? Kalau begitu kita coba saja membuktikannya.”
“Jangan, Solis! Aku masih mau hidup, aku mau ketemu bapak dan ibu di rumah,” mata Ara mulai berkaca-kaca, dan untuk sesaat, Solis mempertanyakan kembali keinginannya.
“Baiklah, kita kembali,” Solis mengubah haluan kapal yang mereka naiki. Angin sore ini tak menjadi hambatan bagi Solis. Bertahun-tahun mengemudikan kapal membuatnya hafal bagaimana membaca arah angin dan arus.
Di tepi pulau, sudah berdiri sosok yang sangat ia kenali dan beberapa orang di sekitarnya. Ara melambaikan tangannya dan senyum kegirangan. Sosok yang berdiri paling dekat dengan laut itu adalah bapaknya Ara.
“Dari mana saja kalian? Harus berapa kali kami peringatkan kalau laut akan memakan semua yang mencoba pergi dari pulau ini?” gertak Pak Tera, bapaknya Ara, sambil memeluk putrinya yang berlari ke arahnya. Bentakan itu memang hanya ditujukan pada Solis.
Solis hanya diam tak berucap. Ia sudah memperkirakan situasi ini bahkan sebelum kapalnya meninggalkan pulau.
“Asal kamu tau, laut inilah yang membuatmu tidak punya orang tua sejak kecil!” Pak Merde, sesepuh pulau ini ikut menimpali. “Kalau kau memang ingin menyusul orang tuamu, jangan bawa-bawa anak orang,” lanjutnya.
Lagi-lagi Solis hanya diam, ia berjalan pulang setelah orang-orang bubar.
“Kek, Kakek pernah berlayar jauh dari pulau ini gak, Kek?” tanya Solis pada kakeknya.
“Pernah, tapi tidak sejauh mak dan bapak kamu berlayar dulu.”
“Bapak sama mak berlayar sejauh apa, Kek?”
“Kakek tidak tau, Solis, mereka belum kembali sampai hari ini.”
“Orang bilang mereka ditelan laut, apa benar, Kek?”
“Sampai hari ini, Kakek belum sepenuhnya percaya hal itu, tapi Kekek belum bisa membuktikannya. Mungkin ini kesempatanmu, Solis. Kakek pernah berlayar jauh, rasanya sudah jauh sekali dari Pulau Ekana ini, tapi Kakek kembali. Kakek tidak tau, Solis.”
“Kek, Solis mau berlayar jauh. Solis mau cari Bapak dan Mak di sana,” Anak 16 tahun itu menegakkan kepala. Matanya berkaca-kaca, tetapi sorotnya tetap teguh.
“Solis, Kakek gak akan larang kamu. Kalau kamu mau berlayar, pesan Kakek, persiapkan perjalanan dengan baik.”
“Kek, Solis bakal siapkan bekal dan alat pancing, kakek tenang aja, doakan Solis ya, Kek.”
Malam berlalu. Ombak telah menyapu sisa jejak kemarin. Perlahan bintang-bintang dikalahkan cahaya mentari. Terangnya sekaligus menyuguhkan pemandangan laut yang tak berujung. Orang-orang beraktivitas sebagaimana biasanya. Ada yang menyapu dedaunan di halaman rumahnya, atau menjemur pakaian, pedagang dan pembeli saling menawar di pasar, bahkan anak-anak bermain berlarian. Di tengah semua itu, seorang anak tengah bersiap dengan tekad yang bulat. Perjalanan panjang akan dimulai hari ini.
Hingga sore tiba, Solis siap berangkat. Dengan membawa sebuntal perbekalannya dan berjalan menuju kapal, tujuannya jelas terbaca oleh orang-orang sekitar, termasuk Pak Merde yang berusaha menghentikannya.
“Solis, jangan pergi jika kamu masih mau hidup! Laut itu ganas, dia gak akan mengembalikan jasadmu,” cegah Pak Merde. Nadanya meninggi, tangannya menarik badan Solis agar tidak pergi.
“Aku mau menyusul Mak dan Bapak,” tak ada yang bisa menghentikan Solis. Ia sudah bulat dengan tekadnya.
“Solis, jangan pergi! Kamu temen aku satu-satunya, nanti aku gak ada temen,” Ara turut mencegahnya. Ia memang 4 tahun lebih muda dari Solis, tapi anak-anak lain di lingkungannya sering mengejeknya, karena dia satu-satunya perempuan di antara yang seusianya.
Solis tak menanggapinya. Ia terus berjalan. Seberapa pun Ara berusaha mengejar Solis, bapaknya tak melepaskannya. Orang-orang mengutuknya. Berharap laut benar-benar tak akan membiarkannya selamat. Amarah dan ujaran kebencian menghujani Solis. Ia tetap berjalan dengan penuh keyakinan. Kalaupun ia ditelan laut, setidaknya ia akan bertemu orang tuanya. Solis berlayar meninggalkan Pulau Ekana. Ia menjauh, seiring dengan mentari yang tenggelam.
Tak ada lagi yang melihat Solis. Hari terus berganti. Namun, kutukan dan makian masih mengalir dari bibir penduduk Pulau Ekana, seolah Solis telah menghianati tradisi Pulau Ekana. Bahkan harapan Ara perlahan luruh bersama waktu. Ia berhenti menunggu bayangan perahu yang tak pernah lagi muncul. Hanya sang kakek yang tetap bertahan pada keyakinannya, menyelipkan nama Solis dalam setiap doa yang dipanjatkan.
Sementara itu, Solis berlayar di tengah laut, berhari-hari lamanya. Ia bertarung melawan kesepian dan ketakutan. Bertahan hidup dengan bekal dan peralatan seadanya. Solis semakin percaya bahwa laut tak akan memakannya. Mungkin laut akan membawanya pada suatu tempat, sebagaimana ia membawa mak dan bapaknya belasan tahun lalu. Harap itu semakin terpancar kuat dari jiwanya.
Pagi ini, Solis menemukan segaris pulau di ujung sana. Solis segera mengarahkan kapalnya ke pulau tersebut. Di dermaga, ramai orang berlalu-lalang. Solis menepikan kapal dan berjalan bangga. Inilah yang ia impikan selama berhari-hari di atas kapal.
“Mungkinkah laut membawa Mak dan Bapak ke pulau ini juga?” gumamnya, penuh harap.
Di tengah langkahnya, seorang pria dewasa mencegatnya, sebab Solis tampak asing bagi dia yang mengenal hampir semua orang di lingkungan tersebut. “Hei, siapa kamu?” matanya menatap tak berkedip, dengan kerutan di dahinya.
“Saya pendatang baru, berasal dari Pulau Ekana, boleh saya ikut tinggal di pulau ini?” Solis menjawab dengan lugas. Hari-hari yang dihabiskannya di tengah laut, ditemani badai dan ketidakpastian, telah mengikis rasa takut yang pernah dimilikinya.
“Pulau Ekana? Seperti pernah dengar. Kalau tidak salah, dulu ada yang pernah merantau dari pulau sana,” pria itu segera mengganti ekspresinya dengan ramah. Ia tampak tak keberatan dengan kehadiran pendatang.
“Apakah itu 11 tahun lalu? Di mana orang itu sekarang? Mungkin itu Mak dan Bapak yang berlayar dulu,” Solis bertanya penuh semangat. Nadanya memuncak penuh harap, sorot matanya berbinar. Ia yakin betul itu orang tuanya, sebab tak ada penduduk lain yang seberani mak dan bapaknya.
“Mari, aku antar pada orang yang pernah menampungnya,” ajak pria itu, sambil beranjak ke tengah pulau. “Dulu Kakek Sava pernah menampung orang dari Pulau Ekana.”
Solis mengikuti langkah pria itu. Hatinya tak henti menanti kabar baik. Sungguh keajaiban besar baginya yang tak sabar bertemu orang Pulau Ekana itu.
“Permisi, Kek, aku membawa anak dari Pulau Ekana. Ia bilang ingin tinggal di pulau ini,” pria tersebut membuka pintu rumah dan memasukinya.
“Siapa nama kamu, Nak?”
“Saya Solis, Kek. Oh iya, Kek, boleh saya tau orang Pulau Ekana yang dulu sempat Kakek tampung? Mungkin itu Mak dan Bapak saya, Kek,” Solis bertanya dengan napas yang memburu.
“Mungkin itu memang orang tua kamu, Nak. Kakek sempat menampung sepasang suami istri. Mereka tinggal di sini sekitar dua pekan.”
“Lalu mereka ke mana, Kek?” Solis memotong cerita Kakek. Keinginannya untuk mendengar kabar orang itu mengikis kesabarannya.
Kakek tersenyum dan membelai rambut Solis, kemudian menjawab pertanyaannya, “Mereka kakek tampung di sini, sebelum akhirnya meninggal,” kalimat tersebut membuat ruangan itu hening seketika. Kakek melihat Solis yang tertunduk lesu. “Nanti Kakek antar kamu ke makamnya, sekarang makan dulu yuk,” Kakek berusaha menghibur.
“Kek, aku boleh ikut tinggal di sini sementara?”
“Boleh, tinggallah dulu di sini.”
Hari-hari berikutnya, Solis jalani dengan tinggal bersama Kakek.
“Kek, apa di pulau ini ada larangan berlayar jauh? Di Pulau Ekana, siapa pun yang berlayar terlalu jauh selalu dianggap telah ditelan laut. Padahal, bisa jadi mereka hanya menepi di pulau lain, sama sepertiku atau seperti orang tuaku dulu,” tanya Solis penasaran.
“Di sini, orang-orang tidak dilarang untuk berlayar jauh, selagi kapal yang mereka naiki dalam keadaan siap. Orang-orang tidak akan membiarkan saudara atau tetangganya berlayar jika kapalnya terlihat tidak baik,” terang Kakek.
“Kek, aku senang bisa menepi ke pulau ini dan bertemu Kakek. Aku senang karena bisa menjelajahi dunia yang lebih luas. Di sini, gak ada lagi batas-batas yang kaku dan semu, semua ditentukan dari ilmu dan pengetahuan. Aku mau banyak belajar di sini, Kek. Aku mau berlayar lebih jauh lagi nanti.”
“Di sini, kamu belajarlah dulu, Kakek yakin, ada banyak hal baru yang bisa kamu ambil. Lain waktu, kembalilah ke pulaumu. Buktikan bahwa alam ini tak terbatas, kamu bisa berlayar jauh dengan kapal-kapal yang lebih hebat lagi.”