Perjalanan Tangga Mei
(Karya: Dari Bulan Mei)
Pagi yang dingin. Gadis itu berdiri di depan gerbang besar yang dulu sering ia lalui dengan tawa tanpa beban. Kini, ia kembali bukan sebagai siswa, melainkan mahasiswa tingkat akhir dengan setumpuk map di pelukannya. Melihat para siswa berseragam putih abu-abu, ia merasa sedang melihat versinya yang dulu—yang masalah terbesarnya hanyalah tugas matematika dan jatuh saat berolahraga.
Perlahan-lahan, langkah kakinya berjalan menyusuri ruang kelas yang penuh suara hatinya. Melewati lapangan basket, suaranya semakin riuh. Ia teringat betapa perasaan ingin cepat-cepat lulus, ingin segera bebas dari aturan sekolah, dan ingin “menjadi dewasa”. Sekarang, di tengah lelahnya mengolah data dan revisi, ia justru rindu pada jam istirahat yang sederhana. Ia menyadari: Dewasa ternyata adalah proses kehilangan banyak hal sederhana untuk mendapatkan hal-hal yang bermakna.
“Lantai ini masih sama dinginnya, tapi kenapa langkahku terasa jauh lebih berat ya?” gumamnya sambil memeluk map penelitian. Dulu, ia berlari di koridor ini mengejar bel masuk. Sekarang, ia berjalan pelan mengejar bel tenggat waktu.
Bulan ini bulan Mei. Sudah lama sejak ia lahir. Sudah lama sejak ia pertama kali melihat dunia, dan kini dunia melihatnya melalui cara yang berbeda. Di antara deru napas yang lelah karena revisi, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya: karyanya resmi dipublikasikan. Tepat di bulan kesayangannya, sebuah pencapaian lahir. Ia sadar, Mei bukan lagi sekadar bulan di kalender untuk bertambah usia, tapi sebuah penanda bahwa ia telah berhasil menyelesaikan satu babak besar dalam hidupnya.
Saat draf karyanya resmi rilis, ia menyadari sesuatu. Rasa rindu pada masa putih abu itu bukan berarti ia ingin kembali, tapi itu adalah cara hatinya berpamitan. Menjadi dewasa berarti berani melangkah dari satu anak tangga (sebagai pencari ilmu di sekolah) ke anak tangga berikutnya (sebagai pemberi ilmu melalui karya). Kado ulang tahun terbaiknya di bulan Mei ini bukanlah hadiah fisik, melainkan sebuah kesadaran: bahwa meskipun ia merindukan masa lalu, ia jauh lebih mencintai versi dirinya yang sekarang—yang tangguh dan mampu menyelesaikan apa yang telah ia mulai.
TERHARUUUU 😭😭😭 relate bangettt. Selamattt atas karya menyentuh di bulan lahirmu inii @daribulanmei 🥹🫶