KARYA TULIS YANG TERINSPIRASI DARI LAGU
“CERITA RINDU”
Judul Lagu: Cerita Rindu
Penyanyi: Monica Christiani
ft. Fiersa Besari
Jenis Karya: Cermin
DI BAWAH LAMPU MERAH
Karya: Summerin
Pagi ini kota yang kusinggahi setia dengan keramaian dan riuhnya hilir-mudik kendaraan. Polusi mengepul di udara menandakan semua pemilik jalan tengah bergegas ke peraduan. Lampu merah menahan beberapa di antaranya, menyebabkan suara melengking keluar dari dua hingga empat roda kendaraan. Beberapa pengendara berseragam sekolah, berbaju formal untuk pergi ke kantor, menggunakan baju dinas, ada pula yang hanya mengenakan kaos dan celana olahraga. Sepertinya jenis pengendara yang terakhir memiliki banyak waktu luang dan tidak perlu kesulitan di hari Senin. Tidak seperti aku yang setiap hari selalu merotasikan hidupku pada pekerjaan. Bagiku setiap hari adalah mengulang kebiasaan. Hari besok adalah pengulangan dari hari sebelumnya. Seperti roda yang terus berputar dalam satu poros yang sama.
Derap langkah orang-orang melaluiku segera setelah aku sadar bahwa aku terlalu banyak termenung. Lampu merah telah berganti hijau pertanda kesempatan untuk menyeberang jalan telah usai. Dering ponsel dari dalam tas mengalihkan perhatianku. Suara yang tiga tahun ini tak kujumpai perawakannya dengan penuh hangat menyapa, “Assalamu’alaikum. Sudah berangkat kerja, Nak?”
“Wa’alaikumsalam. Sudah Bu, ini masih di jalan,” jawabku dengan suara yang sedikit kencang karena tidak mau kalah dengan suara bising kendaraan. Tak lama kemudian suara perempuan yang kupanggil ibu bertanya kembali, “Sudah sarapan belum?”
Lagi, aku menjawab dengan suara kencang, “Belum sempat, Bu.”
Suara di ujung ponsel itu kembali bertanya, “Kok belum sempat? Kalau menunggu sempat, ya tidak akan sempat-sempat.”
Aku tidak menghiraukan pertanyaan itu, kuanggap sebagai permintaan ibu yang kesekian kalinya. Pertanyaan selanjutnya kembali dilayangkan, “Macet, Kak di jalan?”
Aku menundukkan kepala, dan menghentak-hentakkan satu kaki karena pegal berdiri. “Iya, Bu,” jawabku singkat. Aku bukan tidak ingin menjawab panjang-lebar pertanyaan-pertanyaannya ibu. Hanya saja pertanyaan tersebut selalu berulang setiap hari, di waktu, tempat, dan suasana yang selalu sama. Sehingga aku tidak bisa mengimprovisasi jawaban.
Pertanyaan ibu masih berlanjut, “Sudah minum vitamin belum? Awas jangan lupa.”
Aku tidak menjawab pertanyaan itu karena aku melupakan rutinitas tersebut. Biasanya aku selalu ingat, entah kenapa hari ini aku melupakannya. Karena aku tidak menjawab, ibu bertanya dengan nada khawatir, “Kak, halo? Halo? Halo, Kak?”
“Iya, Bu,” segera aku menjawab sebelum ibu semakin khawatir. Sepertinya ibu tidak puas dengan jawabanku tadi, karena setelahnya ibu langsung meminta konfirmasi seperti manajer perusahaan, “Iya apa? Jadi bingung Ibu.”
Aku menghela nafas dan menjawab, “Iya, maaf Ibu. Kakak lupa gak minum vitamin. Tadi pagi Kakak buru-buru jadi kelupaan.” Sebentar, sepertinya itu jawaban terpanjang selama tiga tahun terakhir aku bercengkerama dengan ibu melalui ponsel. Entah kenapa ibu tiba-tiba meminta jawaban lebih, biasanya jika aku tidak menjawab ibu hanya akan berpindah ke pertanyaan selanjutnya tanpa menghiraukan pertanyaan yang tidak ada jawaban tuannya itu.
Hening beberapa saat, saat ini aku tidak bisa memprediksi pertanyaan selanjutnya. Seharusnya jika sudah bertanya tentang vitamin, ibu akan bertanya tentang jam pulang kerja, setelah itu ibu akan mengingatkan aku lagi untuk tidak lupa makan, dan terakhir ibu akan mendoakan aku.
Doa dari ibu di ujung telepon selalu menjadi penutup percakapan kami. Hebatnya panggilan telepon dari ibu selalu selesai bertepatan dengan bergantinya lampu merah ke hijau.
Pertanyaan selanjutnya dari ibu hampir sesuai dengan prediksi tapi sedikit berbeda dari hari biasanya, “Kakak kalau pulang dari kantor suka ngapain?”
Aku masih mencerna pertanyaan itu, kenapa tiba-tiba sekali. Dengan nada dan ekspresi yang kebingungan aku menjawab, “Emmm, bersih-bersih, makan, rekap data harian kantor, kalau ada pesanan kue Kakak buat kue dulu, kalau ada panggilan buat rapat, Kakak rapat dulu.”
“Tidurnya kapan?” tanya ibu dengan nada penasaran. “Setelah itu baru tidur Bu,” jawabku diikuti dengan senyuman kecil. Senyum itu tiba-tiba datang entah dari mana, seolah pagi hari ini aku menyukai kemacetan jalanan. Sepertinya perasaanku merespon baik perubahan dari pertanyaan-pertanyaan ibu. Karena tidak biasanya aku tersenyum saat berangkat kerja.
Pertanyaan selanjutnya sangat aku nantikan, aku senang bisa bercerita lebih tentang keseharianku pada ibu. Karena aku bukan orang yang akan bercerita terlebih dahulu atau orang yang bisa membuka pembicaraan. Jadi aku senang bila ibu banyak bertanya, apalagi jika bukan pertanyaan yang itu-itu saja. Tapi sayangnya lampu hijau sudah berganti merah, aku memutuskan untuk melangkah sembari memegang ponsel di telinga kananku. Belum satu langkah aku melewati trotoar pertanyaan ibu berhasil membuatku terdiam, “Capek ya, Nak?”
Seketika suara bising dari kendaraan tidak terdengar, langkah orang-orang di sekitarku perlahan hilang. Aku hanya menatap kosong ke arah depan. Bibirku kelu tak bisa menjawab, seakan tak pernah ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu atau lebih tepatnya tak pernah ada pertanyaan seperti itu dalam hidupku.
Ibu tak menuntut jawaban. Ibu tidak kembali bertanya, selanjutnya ibu menyampaikan permintaan, “Pulang, Nak.”
Saat itu juga air mataku perlahan hadir, menggenangi segala rasa dan kerinduan yang tak pernah terucapkan. Kota ini memang ramai, dipenuhi oleh lautan manusia, tapi ibu adalah orang yang pertama kali menanyakan hal itu. Sudah lama tubuh ini berkelana, melintas hari demi hari yang selalu sama, aku seakan menanti waktu datangnya pertanyaan itu. Karena setelah ibu bertanya tentang hal tersebut aku merasa seluruh pertahananku hancur. Aku selalu merasa baik-baik saja, jika ditanya tentang kesehatanku, aku akan menjawab aku sehat. Jika ditanya tentang bagaimana pekerjaanku, aku bisa menjawab pekerjaanku lancar. Jika aku ditanya sudah makan atau belum, aku bisa menjawab belum sempat atau sudah, dan jawaban serta alasan lainnya.
Tapi, jika ditanya apakah aku lelah, aku tidak bisa berbohong tapi aku tidak bisa menjawab. Aku tidak ingin mengeluh, pun aku tidak ingin membuat ibu khawatir. Maka hal yang bisa aku lakukan hanya menangis, berharap ibu tidak mendengar tangisanku dari ujung telepon.
Triiiing-triiiing-triiing
Suara dering alarm dari ponselku berbunyi. Aku terbangun dengan air mata yang menetes dan pikiran yang kacau. Kualihkan pandanganku ke segala sudut ruangan. Harumnya masih ada, kehangatannya masih terasa, namun kehadirannya sudah tak terlihat.
Hari ini tepat tiga tahun kepergian ibu. Hari yang sama saat aku mendengar suara ibu untuk terakhir kalinya dari ujung telepon. Hari yang sama saat terakhir kalinya aku bisa berbincang dengan ibu di bawah lampu merah, ditemani keramaian jalanan kota.
Aku menatap kosong ke arah bingkai foto di atas nakas, lalu perlahan air mata itu kembali menyapa dan dengan suara parau aku menjawab pertanyaan terakhir ibu.
“Iya, aku lelah Bu, dan aku sudah pulang.”