KARYA TULIS YANG TERINSPIRASI DARI LAGU
“Dia Danau”
Judul Lagu: Dia Danau
Penyanyi: Panji Sakti
Jenis Karya: Cerita Motivasi

Tuhan, Kuketuk Pintu, Kutitip Cinta
Taqiyan Azzarah Warits Al Haqq
Sama seperti biasanya, sore itu jalan penuh kendaraan, macet, berasap, tidak nyaman. Namanya juga kota, kata mereka. Ya, nyatanya memang siapa yang senang dengan rutinitas melelahkan seperti ini. Selalu sama setiap harinya. Tugas yang menumpuk setiap hari, perjalanan satu jam menuju rumah yang kadang lebih lama karena macet dan hujan, hingga manusia-manusia tak beradab yang sesekali harus dihadapi.
Tapi rasanya, hari ini agak berbeda.
Angkutan umum yang biasanya penuh di pukul 5 sore itu, hari ini tidak penuh. Langit hampir gelap, udaranya tetap pengap seperti biasanya. Seorang anak dengan seragam putih merah lusuh itu naik tepat di perempatan lampu merah, mengangguk sejenak menyapa dengan sopan. Aku menatapnya sesaat lebih lama, tidak pernah berpapasan sebelumnya.
“Pak, ini lewat ke pasar kan, ya?” Dia bertanya sambil duduk di bangku samping pintu.
“Iya,” dijawabnya oleh sang sopir.
Atensiku kembali beralih pada ponsel, mencari kesibukan apapun itu agar tak canggung. Namun lagi-lagi, entah mengapa rasanya ada dorongan untuk berbicara dengan anak itu. Aku mengangkat kepalaku, tatapan kami bertemu.
“Baru pulang ya Dek? Habis kerkom kah?” Anak itu tersenyum, menggeleng.
“Nggak, Teh, saya tadi bantu-bantu dulu di toko buku punyanya Pak Topi.”
Aku mengangguk. Pak Topi adalah pemilik toko buku di ujung kota, bahkan lokasinya hanya berjarak setengah kilo dari kota sebelah, itu lokasi yang sangat jauh dari tempat anak ini naik angkutan umum.
“Loh, kenapa kamu gak naik angkot yang biru aja? Lebih dekat naik yang itu kan, dan kamu ga perlu naik dua kali,” kembali aku bertanya dan kemudian dijawab dengan kekehan.
“Kalau saya naik angkot biru kemahalan Teh, uang jajan saya gak cukup untuk bayarnya,” dia tersenyum, seolah itu bukan hal yang besar. “Saya tadi jalan ke perempatan ini, sekalian habisin dagangan hari ini.”
Tangannya yang mungil itu mengangkat sebuah kresek hitam yang mungkin masih terisi seperempatnya. Dia mengeluarkan satu bungkus makanan dari dalam sana, itu camilan kering, mungkin harganya sekitar dua ribuan. Napasku tertahan, haruskah anak sekecil ini bekerja dengan begitu kerasnya?
“Hari ini dagangannya terjual banyak loh, Teh, biasanya hanya terjual sepertiganya.”
Dia kembali merapikan barang bawaannya kemudian menatapku.
“Teteh pulang kerja ya? Atau pulang kuliah?” Dia bertanya dengan penasaran.
“Aku pulang kuliah,” jawabku.
Matanya membulat, “wah, kuliah seru ya, Teh, katanya guru di kampus pintar-pintar ya, Teh? Tapi kata Bu guru, sebutannya bukan ‘guru’, apa ya namanya, dosen?” Matanya menatapku, menunggu jawaban. Aku mengangguk.
“Iya, disebutnya Ibu atau Bapak dosen.” Aku menelan ludah, “Kamu belajar yang rajin ya, biar nanti bisa belajar sama Ibu dan Bapak dosen.”
Anak itu tersenyum.
“Kalau Tuhan beri saya kesempatan ya, Teh, Mama bilang hanya orang-orang hebat yang bisa kuliah, orang-orang yang mama dan bapaknya tinggal di rumah besar.” Wajahnya menatap tas dan kresek di depannya, tas yang bahkan sepertinya sudah dijahit berkali-kali agar terus bisa dipakai. “Saya tinggal di dekat pasar, Teh, bukan di rumah besar, bisa bersekolah seperti sekarang juga sudah sangat bersyukur.”
“Kalau kamu belajar yang rajin pasti bisa kuliah kok.”
Anak itu tersenyum, menggeleng pelan, “Tuhan sudah sangat baik memberikan saya kesempatan untuk belajar, Teh, saya juga sangat beruntung, Teh, teman saya banyak yang berhenti sekolah karena tidak bisa lagi membayar uang bulanan.”
Aku terdiam sesaat, kemudian bertanya dengan suara pelan, “Kamu kelas berapa sekarang? Sudah bisa baca tulis?”
Dia mengernyit bingung, “Eh? Kelas dua, Teh, sekarang, dan saya bisa baca tapi gak begitu lancar.”
Aku mengangguk singkat, kemudian dengan gerakan cepat tanganku mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen dari ransel. Lima detik, aku melipat kertas itu kemudian memberikannya ke anak tersebut.
“Dibaca nanti ya, di rumah, kalau belum bisa kamu baca, kamu harus belajar yang rajin sampai paham tulisan yang aku kasih ke kamu.”
Tidak bertanya banyak, anak itu mengangguk singkat. Dia membuka mulutnya sebelum kemudian sang supir berhenti dan mengatakan sudah tiba di pasar. Anak itu mengangguk kepada pak supir dan menatapku, tersenyum mengucap terima kasih melalui tatapannya yang hangat itu.
Tepat ketika anak itu tak lagi terlihat di belokan terakhir, sesuatu membuat napasku sesak. Aku terdiam lama, menangis tertahan.
Tuhan, bukankah hamba terlalu serakah dengan nikmat yang telah kau berikan?
Tuhan, bukankah hamba terlalu banyak mengeluh dengan ujian darimu yang tak seberapa?
Tuhan, bukankah hamba keterlaluan?
Maka, Tuhan, kuketuk pintu-Mu, kupinta rahmat-Mu, kutitip cintaku pada hamba-Mu yang lain yang mungkin tak bisa menempuh pendidikan dengan baik sepertiku, yang mungkin malam ini tak bisa makan karena tak punya beras, yang mungkin esok hari harus bangun kedinginan karena tidak punya tempat untuk tidur, dan yang mungkin selalu memohon dengan lirih di sepertiga malam-Mu.
Maka Tuhan, jiwanya seperti sekuntum bunga, yang diterpa angin, hujan, dan panas yang bergantian selama berbulan-bulan, namun tetap berdiri dengan cantiknya. Tuhan, hanya Engkau yang dia punya, hanya pada-Mu dia meminta, hanya pada-Mu dia berharap. Maka biarkan, biarkan langkahnya terarah pada citanya. Biarkan kesempatan-kesempatan itu datang padanya. Biarkan doa-doanya terkabul satu-persatu.
Maka, Tuhan, kuketuk pintu-Mu, kupinta rahmat-Mu, kutitip cintaku.
Dan biarkan tulisan pada selembar kertas itu menjadi saksi, coretan gemetar berbunyi “Aku tahu Allah kan membantumu, maka janganlah lagi kau pertanyakan, jangan lagi kau ragukan, nikmat Tuhan mana lagi yang kan kau dustakan”.