Karya-karya berikut ini merupakan hasil praktik menulis deskripsi berdasarkan gambar pemantik pada kegiatan “Bingkai Ilmu dan Kajian Kepenulisan 2024” yang diselenggarakan oleh UKM KI Al-Qolam UPI.

Bandara
Sosoknya kembali memenuhi alam sadarku. Benarkah ia yang sedang menggandeng anak berusia sekitar 7 tahun itu. Nampaknya semesta kembali mengizinkanku untuk kembali bersua di tempat ini, tempat awal perpisahan 5 tahun silam. Ingin aku kembali menggapai, tetapi tempat berpijakku ini nampaknya mencoba memenjarakan langkahku. Lagi, seperti saat itu.
Desing mesin pesawat dapat terdengar pelan, bersamaan dengan decitan roda-roda koper yang ditarik entah dengan berbagai tujuan yang berbeda. Sementara diri ini hanya terduduk di salah satu kursi tunggu, menatap langit bandara yang berubah jingga dari balik jendela.
Penulis: Fina Fitriyatul
Di Bandara, kala senja itu, aku menatap orang-orang yang sibuk mendorong kopernya, menunggu kedatangan dan menanti kepergian untuk memulai langkah baru dalam kota yang hendak mereka kunjungi. Pesawat tak kunjung tiba, padahal hati mereka tak sabar melewati udara sambil memikirkan kejadian apa yang terjadi selanjutnya.
Penulis: Meytha
Sejauh penantianku hingga detik ini, ku alihkan pandanganku ke kanan dan ke kiri. Orang-orang sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Untuk kesekian kalinya, aku menarik dan menghembuskan nafasku, mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah jalan terbaik yang kupilih, dan ini merupakan takdir terbaik dari Tuhan. Aku berjanji mulai detik ini, aku akan mencoba membuat diriku bertumbuh seperti bunga yang bermekaran di taman. Aku bisa, aku pasti bisa!
Penulis: Gia Nurapni
Fana Merah Jambu
Senja merayap pelan, menyelubungi bandara dengan cahayanya yang hangat, nyaris magis. Langit terbakar dalam warna jingga, melemparkan bayangan panjang yang melintasi lantai marmer, memantulkan kilauan emas di setiap sudut. Suara mesin pesawat yang tadinya memenuhi udara kini mereda, seperti raksasa yang perlahan terlelap. Di sekeliling, roda-roda koper berderak lembut, menjadi latar bagi langkah kaki yang tak terburu-buru. Sesekali terdengar bisikan, tetapi kebanyakan terhanyut dalam pikiran, seakan sore ini mengajak semua orang untuk merenung.
Penulis: G4N1
Sembari duduk untuk beristirahat aku mulai melamunkan kegiatan-kegiatan penat hari ini. Warna jingga dengan siluet-siluet pesawat yang mengangkasa di balik luasnya jendela besar itu membuatku tertegun takjub dengan keindahannya. Namun, Suara-suara dari langkah kaki dan seretan koper di lantai membuatku terbangun dari lamunan dan menyadarkanku untuk segera pulang mengistirahatkan tubuhku yang begitu lelah.
Penulis: Riska
Hati yang Tersenyum
Suara bising mulai memenuhi indra pendengaran. Sebagian orang menarik kopernya, menimbulkan suara yang khas. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi dan bandara telah dipadati pengunjung yang akan melakukan perjalanan panjang. Sebagian besar bertujuan kampung halaman guna merayakan hari raya Idul Fitri, agar dapat berkumpul bersama keluarga yang dirindu selama berada di tanah rantauan. Satu dua orang mengangkat telepon, menghubungi teman ataupun kerabat, saling bertukar kabar dengan senyuman yang lebar. Anakanak tampak berlarian seolah tak sabar akan segera menaiki pesawat terbang yang sering terlihat melintasi langit di atas rumah rantauan. Pemandangan yang akan selalu terasa indah untuk setiap tahunnya.
Penulis: Nada Sabiluna Mujahidah
Di antara sedikit waktu yang kita miliki, bandara menjadi tempat pelabuhan simfoni kesedihan yang nyaris tak terucap. Gema-gema suara pengumuman pun tertutupi sayup-sayup percakapan yang bercampur sedihnya kepergian. Sosoknya semakin kecil, tertelan oleh hiruk pikuk yang tak lagi terdengar. Genggaman tangannya tak lagi terasa hangat, hanya tersisa hampa dari rindu yang seharusnya tidak muncul hari itu. Langit-langit yang megah itu membawanya semakin jauh, hingga sorot matanya perlahan hilang bersama semua harapan yang pernah kita ceritakan. Di sini, pada perpisahan yang tak mengenal waktu, terdapat hati yang tertinggal di antara jejak langkah yang tak bisa lagi dijangkau.
Penulis: Julfa Bela Liani (Kota Bulan)
Hari itu, hari yang tak akan pernah kulupakan. Hari dimana hatiku sangat riang gembira, duduk menunggu kedatangan saudaraku satu-satunya di bandara sembari memaju-mundurkan kedua kakiku, dan terlihat banyak sekali orang-orang yang datang juga pergi sembari membawa koper, aku yakin sekali dari sekian ribu orang yang datang, pasti salah satunya ada dia, saudaraku. Aku terus melihat ke arah langit yang mulai berganti warna menjadi jingga, beberapa kali aku mengecek jam tanganku yang bertengger di tangan kanan. Pada akhirnya, hatiku yang gembira itu terpatahkan setelah melihat pesan yang masuk ke ponselku dan berhasil membuat air mataku menetes, tanpa pikir panjang lagi aku menerobos rombongan orang-orang dan keluar bandara.
Penulis: Anne L.
Berlanjut ke bagian 3~