MANUSIA ≠ TRANSAKSI
Tresna Dian
“Anak-anak. Hari ini kita akan membahas kegiatan jual beli. Sekarang ibu ingin bertanya terlebih dahulu, kalian pernah ke pasar?”
“Pernaaah.” Semua serentak menjawab.
“Kalian pernah jajan di warung?”
“Pernaaaah.”
“Nah, itulah yang disebut kegiatan jual beli. Dimana kita menukar suatu barang atau jasa dengan nilai tertentu. Nilai ini biasanya berupa uang. Kegiatan jual beli dilakukan oleh manusia sebagai pemenuhan kebutuhan…….”
Bu Guru menjelaskan dengan panjang sekali. Aku hanya menyimak, tidur, dan menyimak kembali pada bagian transaksi. Tanganku sedari tadi menyangga pipi gembul yang hendak tumpah bersamaan dengan air liur yang menetes karena aku setengah tertidur. Aku terbangun kembali ketika teman di depan berputar arah menghadap dan memelototiku karena sadar air liurku menetes sedikit jatuh mengenai rambutnya. Sebelum digebuki, aku kembali duduk tegak. Dan di situlah Bu Guru menjelaskan tentang transaksi. Katanya, transaksi itu kesepakatan dari jual beli yang menguntungkan satu sama lain. Aku juga setiap hari melakukan transaksi. Hari ini bel pulang tiba. Aku bersorak riang. Tas cokelat canvas aku angkat di punggungku. Kemudian menyalami Bu Guru. Hari ini aku akan mencontohkan transaksi, hehe. Setelah melewati gerbang sekolah yang menjulang tinggi berwarna putik dengan ujung-ujungnya berbentuk meliuk-liuk sampai membuat mataku pusing. Di ujung sana ada Abah yang siap dengan buah-buah segar dalam gerobak kaca. Air liurku sedikit menetes menatapnya. Ini bukan karena aku suka ileran ya. Aku hanya lapar saja dan sebelum buah-buah itu diserbu orang-orang. Aku berlari menghampiri Abah.
“Abah Abah! Aku mau nanasnya satu ya!” Seruku sambil mengeluarkan uang selembar.
Abah tersenyum, “Eh, Nak Ila sudah pulang?”
“Iya!” Jawabku senang.
Bagaimana tidak? Pulang sekolah aku bisa tidur siang, menonton animasi kesukaanku lalu bisa bermain dengan teman-teman di taman komplek, kemudian bergelantungan di atas pohon ceri. Karena tidak ada yang punya, aku suka memakannya. Aku akan menggigit anak-anak yang memakan ceri di tanganku. Ambil saja sendiri, apa susahnya kan? Kalau mau dapat buah gratis harus usaha. Seperti sekarang aku mengusahakan buah nanas dengan selembar uang 2 ribu.
“Nak Ila, ini nanasnya.” Itulah kata Abah. Sekarang aku sedang melakukan transaksi.
“Terima kasih, Abah. Eh?” Aku menatap keresek putih yang diserahkan Abah. Aku angkat sedikit. Ada sesuatu di dalamnya. Berwarna pink. Aku yakin itu bukan karakter stroberyshortcake kesukaanku. Sepertinya itu jambu.
“Abah. Ini ada jambu. Bukan punya Ila.” Heranku pada Abah.
Abah terkekeh. “Bonus buat Ila. Karena suka membeli buah di Abah.”
Aku berseru heran tapi langsung tersenyum senang dan berterima kasih. Aku melanjutkan perjalanan pulang. Bersenandung riang menatap keresek. Asyiik, dapat buah gratis lagi. Eh tapi tunggu dulu. Bukankah ini salah ya? Tadi itu bukan transaksi. Karena Abah dirugikan. Kalau aku kalkulasikan, Abah rugi 2 ribu. Sepanjang jalan aku sibuk berpikir. Berpikir dan berpikir sampai akhirnya perutku mengaum jelek. Katanya lapar. Ya sudah, aku mencari tempat duduk. Di ujung jalan menuju rumahku ada tempat duduk umum. Kudekati lalu pantatku menempel di sana. Keluarlah nanas terlebih dahulu dari keresek putih. Mulutku menganga dan bersuara Aaa~ lalu hm~ buah nanas suwedap sekali. Nanasnya seperti meledak di dalam mulut lalu menyapa gigi-gigiku dengan penuh air segar dan manis. Tapi sepertinya nanas tidak suka dimakan karena dia selalu meninju lidahku kecil-kecil. Rasanya cekat-cekit.
Sambil sibuk mengunyah. Di seberang sana ada warung om kumis. Aku lupa namanya. Tapi aku ingat om itu ada kumis. Walau tipis sih. Dia banyak menjual makanan. Kalau laparku sedang mengamuk Mama biasanya menyarankanku makan di sana dahulu sebelum pulang sekolah. Katanya daripada perutku menggigit dirinya sendiri dengan sebal. Warung Om Kumis tapi selalu sepi. Padahal makanannya enak. Kenapa ya? Apa karena warungnya tersembunyi? Atau terlalu mini? Om kumis juga ramah sekali kok. Aku mengayunkan kakiku yang tak sampai menginjak trotoar. Lalu aku tersenyum sumringah menatap ke seberang jalan. Ada pembeli. Dia seorang kakek-kakek tua. Bajunya kenapa lusuh ya? Kontras dengan kulitnya yang hitam legam. Dari sini terlihat kakek itu datang bersama anak kecil memegang perutnya dan membawa wajahnya yang cemberut. Kakek itu ragu-ragu menghampiri warung Om kumis. Suaranya pelan sekali sampai tidak terdengar. Iya, sih. Mana mungkin terdengar dari seberang sini. Tapi aku yakin suaranya kecil sekali sampai harus membuat om Kumis menunduk. Telinganya mendekati kepalanya ke mulut kakek. Kalau telinga om kumis yang mendekati mulutku sudah pasti terkena air liurku. Sekali lagi, ini bukan karena aku ileran ya! Untungnya kakek itu tidak menyipratkan air liur. Jadi Om Kumis terlihat biasa saja. Om Kumis lalu menatap anak kecil itu dan tersenyum mempersilahkan keduanya duduk. Om Kumis sibuk menyiapkan makanan. Aku sendiri sibuk makan sambil memperhatikan Om Kumis sibuk menyiapkan makanan. Lalu waw seporsi mi mengepul menghampiri meja Kakek dan anak kecil itu. Wajahnya yang cemberut berubah riang. Dia makan tidak kalah lahap sepertiku. Pulang nanti aku ingin mi ayam ah. Minta Mama. Tanpa sadar aku memperhatikan kegiatan mereka sampai makanan mereka dan aku sudah habis. Nah ini juga transaksi bukan? Pasti habis ini kakek itu menukar sejumlah uang.
Kakek dan anak itu berdiri. Kakek tersenyum dan sepertinya mengucapkan terima kasih dari yang terlihat. Om Kumis tersenyum dan menjawab. Mereka berdua lalu pergi. Eh tunggu? Bukannya mereka belum bayar ya? Kok sudah pergi? Apa kakek dan Om Kumis lupa melakukan transaksi? Aku bingung. Kepalaku miring untuk berpikir kembali. Aku mengaduh ketika setetes air menimpuk jidatku. Semakin lama semakin terasa banyak. Ternyata hujan. Langsung saja seperti tancapan gas aku berlari melanjutkan perjalanan pulang. Untunglah sampai tujuan walau dalam keadaan sedikit basah. Aku menekan bel rumah, mengucap salam dan masuk begitu saja. Mama terdengar menjawab salamku (bukan kegiatan memberi daun salam).
“Aduh, kamu kehujanan ya? Kok lama sekali baru pulang jam segini. Kamu ke mana dulu, Ila?
Aku nyengir (bukan nyengir kuda), menggaruk sedikit kepala karena memang gatal. “Tadi makan dulu di tempat duduk yang ada di trotoar seberang warungnya Om Kumis.”
“Makan apa? Kan di sekolah sudah diberikan makan siang di kantin kan? Kamu tinggal ambil.”
“Aku beli buah, Ma. Abah yang di luar dekat pagar sekolah itu loh. Kalau di kantin buahnya tidak ada nanas. Adanya semangka. Ila tidak suka. Ila juga sedang melakukan transaksi karena hari ini Bu Guru mengajarkan kami tentang jual beli dan transaksi. Jadi Ila praktekkan tadi.”
Mama akhirnya mengangguk, “Ya sudah ganti bajumu, mandi. Shalat dan Kerjakan PR-mu baru kamu boleh menonton TV. Habis itu kita makan malam ya.”
“Iya, Ma.”
Sesuai perintah Mama aku mengerjakan semuanya. Mandi, menggunakan baju tidur dan melihat kembali tugas. Aku membaca ulang buku paket yang diterangkan oleh Bu Guru hari ini. Karena aku sedikit terlewat dan bingung. Siang hari tadi cuacanya bagus sih untuk tidur, hehe (tidak untuk ditiru ya). Selain karena terlewat, aku sebenarnya memang selalu mengulas ulang pelajaran sekolah di rumah. Agar aku selalu ingat. Aku mengetuk-ngetuk pensilku. Setelah mengulas ulang dan mengerjakan PR. Rasanya transaksiku dengan Abah, Om Kumis dan Kakek itu, masih membingungkan. Kenapa ya? Ya sudahlah. Berat-berat sekali kupikirkan. Lebih baik aku menonton Doraemon!
Tidak terasa 1 jam terlewat begitu saja. Aku selesai menonton. Adzan maghrib telah tiba. Aku, Mama dan Dada (Nama panggilanku untuk Papa) melaksanakan shalat bersama. Biasanya Dada selalu shalat di Masjid setiap Shubuh, Dzhuhur, Ashar, dan Isya. Maghribnya di rumah bersama-sama. Aku suka sekali karena Dada selalu di rumah. Kata Mama, Dada itu kerja remote. Saat mendengar hal itu kukira Dada kerjanya memegang-megang remot. Ternyata maksud Mama artinya itu kerja dari jarak jauh. Keren sekali. Terus Dada selalu menggunakan bahasa yang bunyinya seperti ablo abla seperti itu pokoknya saat di telepon. Lalu Dada tertawa saat aku bertanya itu bahasa apa lewat bunyi yang kusampaikan. Dada bilang itu Spain language atau kalau kata Mama bahasa spanyol. Dada keren sekali, kalau aku hanya bisa 2 bahasa. Dada dan aku berbicara dalam bahasa inggris. Aku dan Mama berbicara dalam bahasa Indonesia. Dada sendiri bisa 4 bahasa, Indonesia, Inggris, Mandarin dan Spanyol. Mama juga tidak kalah keren karena bisa bicara 4 bahasa, Bahasa Jepang, Indonesia, Inggris, dan Arab. Lalu bonus Eyang dan Mbah juga bisa bicara 3 bahasa, Indonesia, Jawa dan sunda. Hihi. Aku besar nanti mau bisa 10 bahasa ah. Berarti aku harus belajar 8 bahasa lagi. Aku mau belajar bahasa kucing, bahasa spanyol, bahasa sunda, bahasa burung pipit, bahasa isyarat, dan oh iya! Aku ingin bisa bahasa duyung! Ituloh ikan duyung. Yang mirip anjing laut. Bunyinya auk auk auk. Lalu kadang-kadang sembari tepuk tangan.
Dalam shalat aku malah memikirkan bahasa duyung! Fokus! Untunglah shalat sudah hampir usai. Lalu makan pun tiba. Nyam, bagian kesukaanku. Hari ini Mama masak Ayam ketumbar, nasi daun jeruk, sop iga, sayur capcay dan ada salad buah juga. Baunya membuatku ngiler (Sekali lagi ini bukan karena aku suka ileran). Dada menyiapkan makanan dari dapur, Mama membantu membawa 3 piring. Dada juga menyiapkan air minum. Kami lalu berdoa bersama dan makan. Berhubungan dengan makan aku jadi teringat kembali terkait transaksi.
“Dada, I want to ask you something.”
”What’s that, sweety?”
“Ila today are buying some fruit for practice about transaction. Ila got teached that transaction is an activity to make a benefit for the seller and buyer. But today Ila buy a pineapple at Abah in front of school and Abah give me an extra fruit. He said it’s a bonus for Ila. Why Abah do that? Is he not disadvantanged? And is it still called a transaction?”
“Well, when you buy the pineapple, it is still called a transaction. But the bonus is a gift for you. Is it Abah get disadvantanged from giving Ila bonus? Dada think it is not. Because maybe Abah was happy Ila always buy a fruit from Abah. Maybe Abah happy if Ila eat more fruit, so you can grow strong and healthy. Got it, Sweety?”
Aku mengangguk, oh begitu rupanya. Abah kasih Ila bonus karena Abah suka dengan Ila. Abah ingin Ila tumbuh sehat dan kuat. Aw Abah baik sekali. Semoga pahalanya berkali-kali lipat (Ayo ucapkan Aamiin). Kepalaku rasanya lebih ringan seperti balon udara. Sisa satu pertanyaan lagi. Aku tanpa sadar mengerutkan dahi, kusut seperti baju belum disetrika.
“Kenapa, Ila? Masih bingung?” Mama bertanya karena melihat dahiku yang kusut.
“Enggak, Ma. Kalau yang tadi sudah paham. Hanya Ila juga tadi itu makan di seberang warung Om Kumis.”
“Pak Arkom namanya, sayang. Bukan Om Kumis. Lagi pula seinget Mama dia gak ada kumisnya.”
“Ada, Ma! Tapi tipis sih.”
Dada terkekeh mendengarnya. Mama tersenyum menggelengkan kepala.
“Lalu, apa yang buat kamu pikirkan?” tanya Mama.
“Ila tadi kan makan di seberang itu. Lalu Ila lihat ada pembeli ke warung Om Kumis. Kakek-kakek bareng sama anak kecil. Mukanya cemberut sambil pegang perut, gak tahu kenapa. Lalu mereka makan mi di warung Om Kumis. Tapi setelah itu mereka pergi dan tidak bayar. Ila pikir Om Kumis kayaknya lupa kalau belum dibayar. Kakeknya juga lupa. Ila tapi lihat kalau sebelum pergi, Kakek bilang makasih terus Om Kumis jawab juga. Jadi transaksi Om Kumis rugi dong? Soalnya Om Kumis gak kasih bonus kayak Abah. Tapi kasih gratis. Padahal warung Om Kumis sepi sekali. Kasihan tidak ada yang beli.”
Mama dan Dada terdiam dan salin tatap. Ih aku juga mau tatap-tatapan. Mama lalu bergantian menatapku. Tersenyum lalu mengusap rambutku gemas.
“Tidak begitu cara pikirnya, Ila. Manusia tidak sama dengan transaksi. Memang benar transaksi itu kegiatan yang dilakukan oleh pembeli dan penjual. Tapi yang Ila lihat bukanlah sekedar transaksi. Om Kumis dan Abah entah itu memberikan bonus atau memberikan makanan gratis, semua itu dilakukan karena mereka sayang sesama manusia. Mereka peduli dengan orang lain. Walaupun keadaan mereka sedang berdagang dan seharusnya fokus melakukan transaksi, tapi mereka tidak sungkan untuk berbagi dan berbuat kebaikan.”
“Tapi bukannya jika dilihat secara ekonomi, itu merugikan?”
“Betul, Ila. Namun secara praktek kita tidak hanya memikirkan untung rugi. Namun juga kita harus memanusiakan manusia.”
“Memanusiakan manusia itu maksudnya gimana, Ma?”
“Maksudnyaa, kita harus menghormati dan menghargai orang lain. Jika seseorang perlu bantuan dan kita bisa membantunya maka kita harus menolongnya. Karena Rasullah pernah bilang kalau orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat.”
“Kalau jadinya malah dimanfaatin orang gimana, Ma?”
“Dalam tolong menolong, memang resiko seperti itu ada, Ila. Namun kita harus ingat bahwa kita menolong orang bukan untuk mengharap balasan, tapi karena itu adalah seruan untuk berbuat kebaikan. Kita juga harus bijak dan pintar dalam menolong. Menjadi orang yang bermanfaat bukan berarti kita membiarkan diri kita diperlakukan tidak adil. Jika ada orang yang jahat dan memanfaatkan kesempatan itu, kita boleh berhenti, membatasi atau mengatur cara kita menolong.”
Mulutku membentuk bulatan O. “Jadi Abah dan Om Kumis juga tetap tahu cara mengatur hal itu ya, Ma?” Aku memastikan.
Mama mengangguk. “Betul sekali.”
“Also, if we do a good things, it will be comeback to us in every unexpected way. So, we don’t have to worry. Allah will give us a very special treats for kind people, sweety.”
“Okay, Dada and Mama. Terima kasih.”
“Kalau begitu, ayok sikat gigi. Habis itu kita baca buku seperti biasa.”
“Horee! Baca buku!”
Selain makan, membaca buku sebelum tidur adalah kegiatan kesukaanku yang kedua. Mama biasanya membaca novel atau buku ilmiah. Dada biasanya membaca buku yang ada herbal-herbalnya atau ada tulisan bisnis bisnis gitu. Kalau aku sih sudah pasti buku cerita hehehehe. Mama terkadang membelikanku buku cergam, terkadang juga novel anak (karena aku masih anak-anak), atau buku ilustrasi bergambar. Aku suka sekali. Ada juga buku kisah inspiratif tokoh-tokoh Islam. Aku suka sekali semua ceritanya. Biasanya Dada memberikanku waktu 15-30 menit untuk membaca. Kadang aku minta mundur lagi karena seru, 5 menit lagi, lalu 10 menit lagi, lalu 5 menit lagi, sampai sebenarnya aku membaca sampai adzan isya, hehe. Setelah itu aku diantar Mama dan Dada ke kamar tidurku.
Hari ini aku membaca kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sahabatnya Rasul yang super green forest. Aku suka dengan awal ceritanya. Umar Bin Khattab itu suka sekali bersaing untuk melakukan kebaikan dengan Abu Bakar. Karena penasaran apa saja yang dilakukan Abu Bakar, Umar pernah menguntit Abu Bakar setelah shalat shubuh. Diikuti sepanjang jalan, melewati rumah, kota, hingga sampailah di pinggiran kota. Dengan sebuah gubuk lusuh. Umar berhenti ketika melihat Abu Bakar masuk ke dalam. Ditunggunya 5 menit, 10 menit, beberapa menit kemudian Abu Bakar lalu keluar. Umar ini kepo sekali. Mungkin dia sedang berpikir apa yang telah dilakukan Abu Bakar di dalam sana. Ternak lele? Ah tidak mungkin. Main kartu Uno? Mana ada zaman itu. Aku juga jujur penasaran sih saat membacanya. Kemudian karena Umar masih kepo, esok hari dia menguntit lagi Abu Bakar karena penasaran. Kejadiannya berulang seperti kemarin. Setelah Abu Bakar pergi. Umar diam-diam masuk ke dalam sana.
Ternyata di sana ada nenek-nenek. Matanya buta, dia terbaring tidak bisa apa-apa. Umar lalu bertanya tentang apa yang telah dilakukan oleh orang tadi (a.k.a Abu Bakar). Nenek itu lalu mengungkapkan semuanya.
Abu Bakar ternyata membersihkan rumah Nenek ini dan menyapunya lalu menyiapkan makanan untuknya dan pergi tanpa bicara sepata kata pun. Mendengar itu Umar menangis. Beliau kagum sekali dengan Abu Bakar. Sahabatnya itu rela melakukan semua itu setiap pagi. Aku jadi teringat Om Kumis yang juga berbaik hati memberi makan dan Abah yang yang baik padaku. Aku rasa orang yang melakukan kebaikan itu merasa senang di hatinya. Seperti bunga-bunga bermekaran di dalam sana. Rasanya senang jika hal besar maupun kecil dapat membahagiakan orang lain.
Hmm, semakin lama mataku semakin berat. Aku mengantuk. Dada sudah membawaku merebahkan tubuh di atas kasur. Mama lalu menyelimutiku. Aku membaca doa tidur. Lalu menutup mata. Mama dan Dada mencium pipiku kanan dan kiri (ini bukti bahwa aku tidak ileran).
“Nighty night, Sweety.” Kata Dada.
“Mimpi indah.” Kata Mama.
“Thank you for caring me every day, Ma, Da. I’m really happy to have both of you. I love you.”
Setelah itu aku tidak sadar bahwa ucapanku itu membuat hati Mama dan Dada seperti bunga yang bermekaran dan perutnya berlarian kupu-kupu terbang. Hari itu aku belajar melihat ‘manusia’, bukan transaksi.
-Tamat-