Lompat ke konten
Beranda » Blog » Cita, Peluk, dan Pulang – Cerita Motivasi

Cita, Peluk, dan Pulang – Cerita Motivasi

Cita, Peluk, dan Pulang
Karya: Dwi Fitri Anggraini

Malam jum’at di ruang kos-kosan ukuran 4 x 4 cm, di kasur biru yang seadanya, Helena menangis tersedu-sedu, air matanya terus keluar membasahi bantal, dadanya perih bagikan luka terkena garam.

Ia sibuk mempertanyakan “apa yang salah dari dirinya?” “berhakkah ia dicintai?” dan “mengapa ia terus diperlakukan seenaknya dengan tidak adil?” tangisnya malam ini ternyata disebabkan oleh kejadian tadi pagi, ketika ia mendengar dari sudut paling pojok diruangan dosen, Dosen matkul kimia kesukaannya, sedang berbincang dengan dosen lainnya. dosen itu membicarakannya dan berkata “si Helena anak semester 5 itu ya Bu, sebetulnya seperti tidak punya masa depan, bapaknya hanya buruh lepas, ibunya bekerja membersihkan rumah orang lain. Bagus sih dianya pintar jadi bisa kuliah di sini dan bisa bantuin penelitian saya tentunya. Tapi setelah lulus nanti entah jadi apa anak itu.” Dosen tersebut tertawa terbahak-bahak kemudian melanjutkan perkataannya.

“Kalau bukan karena saya yang baik hati dan ngasih dia kesempatan ikut penelitian saya, mana ada yang mau sama dia. Dia juga cerita bu, pengen kuliah ke luar negeri, Haduuh, pengen ketawa saya dengernya.”

Dan di malam itu Helena baru bisa tertidur pukul 02.00 malam, Ia lelah terus menangis.

Sudah dua hari sejak kejadian itu berlalu, Helena masih berada di atas kasurnya bukan berarti ia tidak bangun sama sekali, Ia tetap makan namun seadanya, Ia tidak pergi berkuliah. Hatinya masih sakit, tidak lagi peduli pada dirinya dan mengabaikan semua pesan dari teman-temannya.

Kini, waktu menunjukkan pukul 11 malam, Helena duduk memeluk lutut di sudut kasur, menatap kosong ke arah dinding.

Kalimat itu terus terngiang.

“Helena anak semester 5 itu ya Bu, sebetulnya seperti tidak punya masa depan, bapaknya hanya buruh lepas, ibunya bekerja membersihkan rumah orang lain.” Suara dosennya. Suara orang yang selama ini paling ia kagumi. Dosen favoritnya.

Raras menunduk dalam di atas kasur. Dadanya kembali sesak mengingat semuanya. Ia mencoba tidur. Namun matanya panas. Air mata kembali jatuh.

“Aku capek…” Suaranya nyaris tak terdengar. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa dirinya begitu kecil.

Begitu tidak berharga. Entah kapan akhirnya ia tertidur.

Helena membuka mata perlahan, angin hangat menyentuh pipinya. Ia mengerjap bingung, langit biru membentang luas di atas kepalanya. Rumput hijau bergoyang pelan tertiup angin dan aroma tanah dan bunga liar memenuhi udara.

“Ini… di mana?”

“Kakak!” Suara kecil yang melengking terdengar dari kejauhan.

Helena menoleh. Seorang anak perempuan berlari ke arahnya dengan tawa riang. Usianya mungkin sekitar lima atau enam tahun. Rambutnya sedikit berantakan. Sepatunya penuh tanah.

Anak itu berhenti tepat di depannya sambil tersenyum lebar.

“Ayo main!”

“Kamu siapa?” Helena bingung.

Anak kecil itu malah tertawa.

“Kakak lucu.” Sebelum Raras sempat bertanya lagi, tangan kecil itu sudah menariknya berlari menembus hamparan rumput luas. Mereka tertawa. Berlari tanpa arah, dan untuk beberapa saat, Raras lupa rasanya sesak di dada. Ia lupa tangisnya. Lupa semuanya. Anak kecil itu terus bercerita tanpa henti. Tentang kupu-kupu, tentang langit, tentang cita-cita.

“Aku nanti mau jadi dosen!”

Helena tersenyum kecil.

“Dosen?”

“Iya!” jawab anak itu semangat. “Aku mau ngajar di universitas luar negeri!”

Helena terdiam. Kalimat itu terasa familiar.

Anak kecil itu lalu duduk di atas rumput sambil mencabuti bunga liar kecil di dekat kakinya.

“Tapi kata mereka cita-citaku ketinggian.” Jelas sang anak sambil terus mencabuti bunga liar

“Kata siapa?” Tanya Helena dengan nada sedikit naik

“Teman-teman.”

Anak kecil itu menirukan suara seseorang dengan wajah cemberut.

“Emang orang tua kamu kerja apa?” Sang anak menirukan teman-temannya.

“Mana mungkin kamu bisa jadi orang hebat.”

“Cuma anak buruh.”

Helena terpaku, angin mendadak terasa dingin, adegan di sekelilingnya berubah perlahan. Kini ia melihat anak kecil itu berdiri di depan beberapa anak lain di sebuah kelas sederhana.

Wajah kecil itu merah menahan marah, namun matanya tetap berani.

“Memangnya kenapa kalau orang tuaku kerja buruh?” Suara kecil itu bergetar.

“Kerjaan ayah ibuku halal. Dan aku bangga sama mereka.”

Helena menatapnya tanpa suara, dadanya terasa penuh.

Adegan kembali berubah.

Kini anak kecil itu sedang duduk di boncengan motor tua bersama ayahnya di malam hari. Sang ayah mengenakan jaket lusuh yang basah oleh hujan.

“Kamu harus kuliah ya nanti.” Suara ayahnya lembut.

“Biar hidup kamu lebih baik dari ayah sama ibu.”

Lalu berganti lagi.

Ibunya sedang menghitung uang receh di meja makan.

“Kalau kurang nanti ibu cari tambahan lagi.” Jelas sang Ibu dengan mantap.

“Tapi aku bisa cari beasiswa, Bu.”

“Ibu tahu anak ibu pintar,” jawab ibunya sambil tersenyum. “Tapi doa ibu enggak pernah kurang buat kamu.”

Helena menunduk. Air matanya jatuh satu per satu. Ia menatap anak kecil di depannya lagi, anak itu masih tersenyum cerah seolah dunia belum pernah melukainya.

Sedangkan dirinya sekarang…

Hancur hanya karena beberapa kalimat.

“Kenapa kakak nangis?” Helena cepat-cepat menghapus air matanya.

“Enggak apa-apa.” Helena Bohong.

Anak kecil itu mendekat pelan.

“Kakak habis dimarahin ya?” Helena tidak menjawab. Kemudian anak itu duduk di sampingnya.

“Aku pikir nanti kalau udah besar…” katanya pelan, “aku bakal jadi orang keren.” Tangis Helena pecah. Ia menutup wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia menangis keras tanpa menahan suara.

Karena ia sadar. Anak kecil ini… Adalah dirinya sendiri, dirinya yang dulu begitu percaya pada mimpi. begitu bangga pada orang tuanya., begitu yakin bahwa ia pantas dicintai.

Sementara dirinya sekarang justru lupa semua itu.

Helena menatap anak kecil itu dengan mata basah.

“Nama kamu siapa?” Anak kecil itu diam sebentar. Lalu tersenyum kecil.

“Kakak lupa?” Angin berembus lembut.

“Namaku Helena.” Dunia seakan berhenti. Raras menatap wajah kecil di depannya dengan napas gemetar. Cara anak itu tersenyum. Cara menggenggam rumput saat gugup. Sorot matanya. Semuanya…Adalah dirinya.

Helena berlutut, dadanya terasa sesak sekaligus hangat, bertahun-tahun ia mencoba menjadi kuat untuk semua orang, sampai lupa bahwa ada bagian kecil dalam dirinya yang juga ingin dipeluk.

Air matanya jatuh semakin deras.

“Sini…” Suaranya bergetar.

“Peluk aku.”

Anak kecil itu langsung memeluknya erat. Hangat. Sangat hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Helena merasa dirinya pulang.

Helena terbangun dengan napas tersengal. Pagi sudah datang. Cahaya matahari masuk dari sela tirai kamar. Dadanya masih terasa berat. Namun entah kenapa, tidak lagi sehancur kemarin. Ia duduk perlahan di tepi kasur. Ia membersihkan meja belajarnya perlahan. Lalu membuka
laptop. Dan tanpa ragu, ia mengetik surat pengunduran diri dari penelitian dosennya.Tangannya masih sedikit gemetar. Lukanya belum sepenuhnya hilang. Namun kini ia tahu satu hal. Perkataan seseorang tidak pernah bisa menentukan nilai dirinya. Karena jauh sebelum dunia mencoba meruntuhkannya, pernah ada seorang anak kecil yang percaya penuh bahwa ia pantas memiliki masa depan. Dan anak kecil itu… masih hidup di dalam dirinya.

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *