Lompat ke konten
Beranda » Blog » Dekat Namun Jauh – Cerita Motivasi

Dekat Namun Jauh – Cerita Motivasi

Dekat Namun Jauh
Karya: Yolanda Carina
—————————-—

Kata orang bijak, proses bertumbuh itu sama seperti pohon. “Loh, kenapa begitu?” Tanyaku pada kakak. Kami selalu membahas topik acak, biasanya, kakak yang memulainya. Hari ini kami baru saja pindah di jantung Kota Edelweis, kota yang sejuk dan ramah. Ada pohon besar di luar pagar rumah kami, sehingga tanpa sadar kami membahas tentang pohon. “Entahlah. Tapi, coba pikirkan, pohon yang bertahan lama bukanlah pohon yang paling tinggi, melainkan pohon yang akarnya paling dalam di tanah. Jadi,—” Jawab kakak. “Masa sih? Lagi pula, mana ada pohon tinggi yang akarnya pendek.” Potongku. “Dengar dulu, bukan itu intinya!”, “Iya, iya, lalu apa?” Aku seperti ingin mendengarkan tapi sebetulnya pikiranku melayang kemana-mana. “Nah, jadi, pohon itu ibaratkan diri kita. Akar itu diibaratkan pengetahuan kita, karakter kita, mental kita,—” Kakak sedang menjelaskan, lalu aku memotong, “Mental?” Tanyaku. “Huh, anak kecil mana tahu. Itu loh, kejiwaan kita.” Kakak berusaha memberitahu meski aku tetap bingung, “Itu loh, kalau orang gila artinya dia gangguan jiwa.” Sebentar, kalau menyangkut orang gila, berarti itu, “Akal pikiran?” Tanyaku, kakak terdiam sejenak. “Tapi lebih luas, mental itu— hm, ya, semacam batin kita, perasaan kita, pokoknya tentang jiwa kita. Berbeda dengan fisik. Pada intinya seperti itu.” Aku hanya mengangguk agar cepat, sepertinya kakak tampak kesal melihat aku yang sulit mengerti. “Iya, lalu?” Tanyaku agar kakak melanjutkan pada inti ucapannya tentang pohon-pohon tadi. “Ya begitu, akar itu diibaratkan mental kita, karakter kita, pengetahuan kita, prinsip hidup kita, pokoknya hal-hal yang menjadi pondasi dalam hidup kita. Kalau itu semua sudah terpenuhi dengan baik, sudah kita rawat dengan baik, sudah kita bentuk dengan baik, maka kita akan bertumbuh semakin kuat.” Jelas kakak kepadaku. “Oh, jadi maksudnya kita harus jadi orang cerdas?” Tanyaku lagi. “Hm, itu juga betul, tetapi tidak hanya cerdas secara pengetahuan umum saja, namun juga cerdas secara emosional.” Jawab kakak. “Dan yang terpenting itu, orang bilang, kita harus merawat jiwa kita. Kalau secara rohani kita sehat, fisik pun akan ikut sehat.” Tambahnya. “Ah, masa sih begitu? Saat kakak patah kaki, kakak juga terus menangis kesakitan.” Ujarku yang sebetulnya hanya untuk mengejek kakak. “Tidak begitu. Hm, iya juga. Ah, tetapi, aku tetap mau makan-makan enak karena itu membuatku senang. Lihat sekarang aku sudah bisa lompat, itu karena aku tetap bersabar dan yakin aku akan sembuh. Aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan yang membuatku kehilangan nikmat dalam menjalani hidup.” Jawab kakak dengan bangga. “Tapi, bukannya semua orang begitu?” Tanyaku lagi. “Tidak. Tidak semua yang ketika mengalami sesuatu yang berat dalam hidupnya akan mudah bangkit. Kakak mungkin hanya patah kaki dan ada potensi untuk sembuh, jadi—” Kata-kata kakak terpotong karena aku, “Bagaimana jika buntung?” Tanyaku spontan. Raut wajah kakak berubah, “Nah, yang seperti itu, entahlah, mungkin kakak akan sedih karena akan sulit berjalan normal.” Kakak menjawab tanpa marah, apa mungkin kakak pernah terpikir begitu, aku jadi merasa bersalah mengatakannya. “Tapi karena ada potensi sembuh, kakak semangat untuk menjalani pemulihan, makanya kakak makan banyak dan selalu minum susu.” Tambah kakak. “Wah! Apakah artinya kakak sekarang sudah dewasa?” Tanyaku benar-benar ingin tahu. “Hm, tidak begitu. Ya, meski kedewasaan itu tidak diukur dari umur, tapi sepertinya aku belum sampai di titik itu.” Jawab kakak. “Sekarang, ayo kita lomba, siapa yang duluan sampai di kamar yang ‘itu’, maka dia yang boleh menempatinya!” Seru kakak. Kebetulan, kami sedang berebut kamar yang paling ingin kami tempati. Kamar ‘itu’ adalah kamar yang paling luas, jadi kami berdua sama-sama menginginkannya. Ah, mana bisa begitu, kenapa yang menentukan kapan lomba larinya dimulai adalah kakak? Tentu saja, yang menang adalah yang memulai. Tidak adil, pikirku.

Sesuai dugaan, kakak yang menang. Apalagi kakak tinggi, tentu ia bisa melangkah lebih lebar. Tetapi, pada akhirnya aku ingin tertawa puas. Bagaimana tidak, ternyata kamar ‘itu’ sudah dipilih bapak dan ibu untuk mereka. “Hahaha, yang berusaha tetap kalah dengan yang berpunya.” Ujarku mengejek kakak. Kakak tidak ingin terlihat menyedihkan, meski tadi sempat kesal hingga adu mulut dengan Ibu, sekarang ia tetap tertawa bersamaku. “Lihat, meski begitu, kakak tetap menerimanya dengan lapang dada. Terkadang ada orang yang bahkan tidak bisa menerima kenyataan hingga perlahan-lahan merusak jiwanya.” Kakak berkata begitu sambil menyusun pakaiannya ke rak-rak lemari. Aku hanya melihat saja karena aku bukan anak yang rajin. Aku malas mengerjakan pekerjaanku, lagipula Ibu akan mengurusnya untukku nanti. Lagi-lagi kakak membahas tentang itu, pikirku. “Apakah kakak terobsesi untuk menjadi pohon?” Tanyaku. “Hei, bukan begitu. Kakak hanya baru membaca kata-kata mutiara itu di facebook, menurut kakak itu cukup keren, jadi kita harus belajar untuk merawat jiwa kita.” Jawab kakak. “Kau tau, ada yang bilang, semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerpanya, kalau-kalau kakak jadi orang hebat di masa depan, maka kakak harus menyiapkan mental tahan banting dari sekarang.” Tambah kakak. “Wah, orang hebat? Pasti kakak jadi kaya raya ya? Nanti minta uang ya kak.” Aku tidak sabar menunggu kakak menjadi kaya raya. “Ya.” Jawabnya singkat. Beberapa detik kemudian kakak tertawa terbahak-bahak seperti sadar sesuatu. “Ya betul, kakak harus menyiapkan mental dari orang-orang sepertimu di masa depan.” Kakak seperti mengatakan hal itu untuk dirinya sendiri. Aku tidak begitu menyadari apa yang kakak katanya karena aku sudah dipanggil ibu untuk membereskan kamarku. Dan sepertinya pikiranku salah, ibu tidak akan menyusun kamarku karena sudah sangat sibuk dengan pekerjaan yang lain. Sekarang, ia mengomel agar aku membereskan barangku segera juga, jika tidak, aku tidak boleh ikut makan malam.

Sambil menyusun pakaian milikku ke lemari, aku bertanya pada diriku sendiri, Kalau kakak jadi orang hebat, maka aku jadi apa ya di masa depan?, tanyaku dalam hati. Aku tidak benar-benar bisa membayangkan diriku di masa depan karena aku menyukai aktivitasku yang sekarang, bersekolah dan bermain. “Dik, ayo makan malam.” Ajak kakak yang suaranya kini semakin mendekat. “Belum selesai.” Balasku. “Bu! Adik belum selesai!” Teriak kakak untuk memberitahu Ibu. “Ditinggal dulu, makan sini!” Jawab Ibu. “Ayo.” Ajak kakak. Di meja makan, aku bertanya kepada kedua orang tuaku, “Dulu, cita-cita bapak dan ibu apa?” Tanyaku penasaran. Semua masih sibuk dengan makanan masing-masing. Hening cukup lama setelah pertanyaanku tadi, seperti tidak ada yang berniat menanggapi pertanyaanku. “Kalau ketika adik dewasa tidak bekerja dan selamanya disini, apakah boleh?” Tanyaku. Entahlah, bukankah hidup seperti ini lebih enak. Makan tinggal makan karena ada ibu yang memasak, uang jajan juga aman karena ada bapak yang memberikan, dan kalau bingung dengan sesuatu tinggal tanya kakak karena kakak pandai belajar. Bapak menoleh ke arahku, “Mau menjadi pengacara?” Tanya bapak. “Eh, bukan, adik tidak suka hukum, mengerikan, seperti di berita.” Jawabku. “Iya itu, adik mau jadi pengacara? Pengangguran banyak acara, maksudnya.” Balas bapak, disambut tawa oleh ibu dan membuat bapak ikut tertawa. “Tidak ada yang seperti itu dik. Kalau sudah dewasa, kita harus bekerja.” Tambah kakak. “Diri kita, ya tanggung jawab sendiri. Kalau kamu dewasa, kamu harus bisa menghidupi dirimu sendiri.” Ibu ikut menimpali. “Memang adik tidak punya cita-cita?” Tanya bapak. “Ada! Adik ingin jadi kaya raya. Tapi bagaimana caranya?” Aku menanggapi pertanyaan bapak. “Belajar yang rajin. Orang-orang cerdas jaman sekarang saja sulit mencari kerja.” Bapak berkata begitu sambil tetap fokus pada makanannya. “Kalau diri kita tanggung jawab diri sendiri, terus kenapa ada keluarga?” Tanyaku. “Memang adik mau langsung hidup sendiri?” Tanya bapak dan ibu kembali tertawa. “Tidak begitu. Kenapa tidak sampai dewasa saja seperti ini terus?” Tanyaku lagi. “Bapak dan ibu senang saja kamu selamanya disini, toh bapak dan ibu jadi tidak kesepian.” Jawab Ibu. “Coba tanya kakak, apa kakak mau seperti ini terus?” Bapak mengalihkan kepada kakak. “Hm, tidak. Ngapain seperti ini terus, artinya hidup kita gini-gini aja, tidak ada perubahan.” Jawab kakak. “Lagi pula, kakak mau mengejar cita-cita kakak.” Tambah kakak. “Memang cita-cita kakak apa?” Tanyaku. “Menjadi astronot! Kakak akan kuliah di MIT kemudian bekerja di NASA.” Kakak mengatakannya seperti penuh keyakinan. “MIT, kau tau itu di mana?” Tanya kakak, aku langsung menggeleng. “Kalau NASA?” Aku masih menggeleng karena aku benar-benar tidak tahu itu di mana. Jakarta? Bandung? Kalimantan? Atau Papua ya?. “Itu di luar negeri.” Kakak berhenti sejenak untuk minum, “Kakak akan terbang ke bulan atau bahkan planet lain.” Tambah kakak. “Bahkan kakak berencana untuk melangkah jauh dari bapak dan ibu.” Ujar bapak, sekarang makanan di piring bapak telah habis, sedangkan makanan di piring ku masih penuh. “Sambil makan makanannya.” Ibu memperingati. Aku gelagapan sambil buru-buru memakan makananku. Bapak meneguk air mineral di gelasnya sampai habis, lalu diam sejenak untuk mengatakan, “Keluarga tetaplah keluarga, itu suatu hubungan, tidak ada sangkut pautnya dengan cita-cita dan apa yang ingin kamu lakukan di masa depan. Mungkin sekarang adik bisa bilang ingin selamanya seperti ini, tetapi, jika adik bertambah usia, adik akan menyesal dengan perkataan itu. Tidak ada manusia yang ingin hidupnya begitu-begitu saja, bapak yakin adik pun juga begitu. Adik tahu mengapa anak-anak perlu sekolah? Karena mereka perlu belajar. Adik jangan hanya mengerjakan apa yang guru katakan, tetapi coba pahami apa yang guru sampaikan. Belajar itu tidak hanya soal pelajaran, loh. Adik berbicara dengan teman adik, itu juga salah satu cara belajar, artinya adik sedang belajar bersosialisasi, belajar bagaimana cara menyampaikan pendapat, belajar bagaimana menjadi teman yang baik, dan lain-lain. Semakin banyak yang adik pelajari, semakin banyak yang adik pahami, dan semakin besar kemungkinan adik sedang bertumbuh.” Ujar bapak panjang lebar. “Bertumbuh? Seperti pohon?” Tanyaku yang mengingat ucapan kakak. Bapak menoleh kearah kakak yang baru saja menghabiskan makanannya. “Iya pak, manusia bertumbuh seperti pohon. Fokus memperkuat tumbuh akar, baru tumbuh tinggi.” Ucap kakak lalu ia menghabiskan minumnya buru-buru untuk segera menghampiri Ibu yang memanggilnya di dapur. “Kata kakak, kita harus jadi orang yang cerdas dan berjiwa sehat.” Aku menambahkan. Bapak mengangguk, “Betul itu. Banyak orang yang cerdas dan berprestasi di masa muda, tetapi kehilangan tujuan ketika dewasa karena ia hanya tumbuh tinggi, ia tidak benar-benar tahu apa yang ingin ia lakukan untuk hidupnya.” Bapak melihat ke arah piringku yang masih belum habis juga, aku buru-buru menyendokkan makanan ke mulut ku. “Pelan-pelan, tapi jangan sampai tidak habis.” Bapak mengatakan itu setelah melihatku hampir tersedak. “Lalu, bagaimana kita tahu tujuan hidup kita, pak?” Tanyaku setelah meneguk air yang diberi bapak. “Perlahan-lahan saja. Semakin bertambah ilmu dan pengalaman hidup, adik akan mengetahuinya.” Jawab bapak yang sekarang mulai berdiri dari kursinya. “Tetapi, karena kita adalah muslim dan muslimah, kita tidak hanya melihat tujuan hidup sebagai urusan duniawi. Adik juga harus ingat bahwa adik adalah hamba Allah SWT.” Tambah bapak. “Tumbuh tidak hanya tentang menjadi apa nanti adik di masa depan atau berapa penghasilan adik nantinya, tetapi bertumbuh juga tentang seberapa bermakna hidup yang adik jalani.” Sekarang bapak berpindah tempat ke sofa ruang TV. Setelah diam hening cukup lama, kakak memanggilku, “Ayo cepat habiskan makanannya. Kakak sudah selesai cuci piring, piring mu itu cuci sendiri ya.” Kakak mengatakan itu sambil menjalan menuju kamarnya. Sekarang adalah suapan terakhir. Aku masih ada pertanyaan. Tetapi aku harus mencuci piring ini dulu, pikirku.

Aku berjalan menuju dapur dan mendapati ibu sedang menyimpan lauk-pauk di kulkas. Sembari mencuci aku bertanya kepada Ibu, “Ibu, bagaimana cara membuat hidup bermakna? Apakah hidup yang ibu jalani sekarang bermakna?” Tanyaku. Ibu diam sejenak, sepertinya untuk berpikir, namun tangan ibu tetap bergerak menyusun kulkas. “Hm, entahlah, mungkin tiap orang beda-beda sayang. Menurut ibu, ketika kita bisa mensyukuri berbagai hal yang datang dalam hidup kita, meski itu terlihat kecil sekalipun, atau paling tidak dapat berarti bagi orang lain. Hidup kita akan lebih bermakna jika kita mengejar ridha Allah SWT.” Jawab ibu yang sekarang menutup kulkas. Ibu menoleh ke arahku sejenak, lalu berkata “Lap piringnya hingga kering dan langsung taruh ke rak.” Aku melakukan seperti apa yang Ibu katakan. Setelah itu aku berlari menuju ruang TV. “Kalau begitu, aku ingin tumbuh menjadi orang yang bermanfaat dan menjadi seorang ibu agar disayang oleh banyak orang!” Ucapku dengan bangga. “Ya, lakukanlah.” Ibu menanggapi. “Hahaha, ingin menjadi apa itu sudah bagus menurut bapak. Namun dengan tujuan agar disayang banyak orang, itu agaknya akan membebanimu di masa depan.” Tanggapan bapak sedikit berbeda. “Pastikan kamu melakukan hal yang ingin kamu lakukan bukan atas dasar menyenangkan orang lain, karena pendapat orang tentang diri kita bukan tanggung jawab kita. Kita juga tidak ada hak menuntut mereka untuk bahagia dengan apa yang telah kita lakukan kepada mereka.” Bapak mengatakan itu dengan santai sambil menonton TV. Aku sedikit bingung, namun aku yakin, ketika aku dewasa aku akan memahaminya. “Kalau untuk di sayang Allah, boleh?” Tanyaku. Bapak menoleh ke arahku sejenak, “Ya, bagus, memang harus begitu. Jangan tumpukan harapan pada manusia, nak, berharaplah hanya kepada Allah. Allah adalah sebaik-baiknya sandaran bagi jiwa manusia yang rentan akan rapuh.”

Aku berusaha belajar dengan giat seperti yang bapak sampaikan. Aku tidak benar-benar yakin apakah aku sudah tumbuh dengan baik? Bahkan aku tidak yakin apakah jiwaku masih sehat? Entahlah. Di usiaku yang sekarang, aku malah berpikir bahwa, sudah syukur aku hidup dengan tidak sakit-sakitan. Meski aku yakin, pikiran itu tidak akan bertahan lama. Hanya saja, usiaku saat ini memang peralihan dari remaja menuju dewasa— yang aku yakin, transisi itu cukup mengobrak-abrik ruang tenang masa mudaku untuk membentuknya menjadi pribadi yang siap akan dunia orang dewasa. Aku bertumbuh dengan berbagai perasaan, tidak ada hari yang hanya menghasilkan satu perasaan saja. Ada satu titik aku merasa percaya dengan diriku sendiri, pada sisi yang lain aku terus mempertanyakan apa yang sebenarnya yang bisa aku lakukan. Di Hari berikutnya aku mendapatkan banyak kebaikan dari orang lain, tetapi di jam berbeda aku melakukan hal yang memalukan dalam hidupku. Seminggu penuh aku di puji oleh orang-orang atas hasil kerjaku, namun di dua bulan berikutnya hasil kerjaku tidak dilirik sama sekali. Hari ini aku merasa jengkel dengan kedua orang tuaku, namun di tahun depan aku menangis merindukan mereka karena jarak kami telah jauh. Hidup terombang-ambing dengan perasaan sendiri, meski sebetulnya aku tetap menikmati perjalanan ini, terasa “hidup” karena ada emosi yang menyertainya. Dan, yang terpenting adalah terus berusaha mencari hikmah disetiap kejadiannya— terkadang hal berat sekalipun terasa melegakan setelah mengetahui pesan yang ingin Allah sampaikan di baliknya.

Orang bijak bilang, kunci untuk bertumbuh adalah mengenal diri sendiri. Aku bahkan terus memikirkan hal ini, ya, bagaimana bisa sosok yang paling dekat malah terasa jauh. Maksudku, diriku sendiri, bahkan aku tidak dapat sepenuhnya memahaminya. Namun, aku tidak ingin terburu-buru mengetahui banyak tentang diriku. Aku berpikir, untuk mengenal diriku, aku harus menghadapi banyak hal lebih dulu. Mungkin tidak semua hal siap aku lalui, jadi aku memutuskan untuk menikmatinya perlahan-lahan.

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

  • Yolanda Carina, salah satu prajurit pena di UKM KI Al-Qolam UPI yang masih terus mencoba mengeksplorasi dunia kepenulisan. Gadis asal Palembang yang memiliki ketertarikan pada puisi ini akrab dipanggil Yola. Ide-ide yang ia tuangkan dalam tulisannya seringkali berupa hasil pengamatan acak terhadap sekelilingnya dengan sedikit didramatisasi lewat imajinasi-imajinasinya. Meski masih ragu dan malu dalam mempublikasikan tulisannya, ia berusahan untuk terus belajar agar dapat menciptakan karya-karya yang bermanfaat dan berkesan bagi dunianya atau jika beruntung juga untuk dunia orang lain.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *