KARYA TULIS YANG TERINSPIRASI DARI LAGU
“INSHA ALLAH”

Judul Lagu: Insha Allah
Penyanyi: Maher Zain
Jenis Karya: Cerpen
You’ll Find Your Way
Karya: Nailah Amani Nuryaman
Kilau biru cahaya langit tertutupi awan, suara guntur mulai bersahut-sahutan. Hujan deras membasahi bumi. Satu persatu orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh. Tapi kali ini, ada seorang pemuda yang tetap diam biarpun air sudah membasahi seluruh tubuhnya. Namanya adalah Azmi.
Ia berjalan di trotoar dengan langkah pelan. Orang-orang yang melewatinya hanya melirik lalu pergi begitu saja. Tak ada yang peduli padanya. Dirinya sendiri pun tidak ingin ada orang yang memperhatikannya. Biarlah. Dia ingin sendirian. Ia ingin hujan menutupi air matanya. Ia juga berharap… semua masalah bisa ikut larut bersama hujan ini. Walau tentu ia sangat mengetahui hal itu tidak mungkin terjadi.
Segala masalahnya dimulai beberapa bulan lalu. Bisnis ayahnya bangkrut dan ditipu. Ia dan keluarganya harus menjual hampir seluruh harta untuk ganti rugi. Dunianya berubah. Awalnya ia hidup dengan limpahan harta. Rumahnya besar, mobilnya ada dua, ia juga memiliki motor pribadi hadiah dari ayahnya karena sudah masuk SMA.
Akan tetapi, sejak ayahnya bangkrut dan kena tipu, ia dan keluarganya harus pindah rumah. Rumah yang kecil. Kendaraan pun hanya ada motor matic bekas. Makanan pun bukan makanan mewah lagi. Hanya lauk pauk murah yang bisa dibeli di warung tegal.
Sejak itu ayah dan ibunya berusaha mencari pekerjaan ke sana kemari. Dirinya dan adiknya yang masih kecil pindah ke sekolah negeri. Seusai sekolah hanya terdiam di rumah, sembari menunggu orang tuanya kembali.
Lalu hari ini, bertambahlah kabar menyedihkan. Siang hari, saat masih jam istirahat sekolah, ia dihubungi oleh rumah sakit. Orang tuanya mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Dengan secepat yang ia bisa, ia pergi menuju rumah sakit. Di sana ia mendapati tubuh dingin kedua orang tuanya.
Hatinya sesak. Tubuhnya lemas. Ia hanya bisa berlutut dan menangis penuh pilu.
Bagaimana ia harus melanjutkan hidup? Ia tak tahu harus apa jika tidak ada orang tuanya. Ia juga memiliki adik yang masih perlu pengawasan orang dewasa. Bagaimana ia harus memberi tahu adiknya bahwa ia sudah tidak bisa menemui orang tuanya lagi?
Mengapa segala nasib buruk ini terjadi padanya?
***
Seusai ia menghubungi bibinya -adik almarhum sang ayah- untuk membantu sebagai walinya dan mengurus pemakaman orang tuanya, ia pun berjalan keluar rumah sakit. Langit yang mendung seperti ikut bersedih bersamanya. Tak lama hujan pun turun. Akan tetapi ia masih melangkah, entah menuju ke mana. Ia pun tak tahu.
Malam harinya, ia baru sampai di rumah. Bendera kuning dikibarkan di pagar rumah. Suara adiknya yang meraung meminta agar bisa bersama orang tuanya terdengar begitu ia memasuki pekarangan rumahnya.
Begitu masuk rumah, bibinya langsung bertanya dengan khawatir, “Azmi, kamu ke mana saja dari tadi? Mengapa kamu basah kuyup seperti ini? Mari masuk lalu langsung mandi dan ganti baju.” Ia hanya bisa menurut dan masuk ke kamarnya.
Seusai mandi, ia mendekati bibinya yang sedang mendekap adiknya. Lalu ia mendekati bibinya, “Bi, sini biar saya saja.” Bibinya menyerahkan adiknya, Farhan kepadanya.
“Abang… ibu sama ayah gak mau bangun. Bangunin mereka bang. Falhan mau sama mereka. Hiks.” Rengek Farhan dengan suara cadelnya. Azmi hanya bisa diam. Air matanya turun tanpa bisa dicegah. Bagaimana ia bisa menjelaskannya? Bagaimana caranya membuat seorang anak kecil memahami arti ‘kematian’? Ia juga tidak tahu. Ia hanya bisa diam sambil menimang adiknya. Berharap adiknya tertidur dan tidak bertanya lagi.
Setelah isya, orang-orang mulai berdatangan. Acara tahlilan pun dimulai. Yang memimpin adalah suami bibinya. Banyak yang datang karena turut berbelasungkawa. Lalu pemakaman diadakan esok harinya.
Setelah pemakaman, bibinya mendatanginya, “Azmi, kamu dan adikmu mulai sekarang tinggal di rumah bibi saja. Terlebih adikmu masih sangat kecil. Bibi akan merawat kalian.” Azmi hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah itu, ia dan adiknya mulai tinggal di rumah bibinya.
***
Hari-hari berjalan seperti biasa. Bedanya, kini yang menyambutnya di rumah bukan lagi orang tuanya. Tetapi keluarga bibinya.
“Assalamu’alaikum.” Ucapnya begitu memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam. Gimana sekolahnya?”
Azmi menyalimi tangan bibinya lalu menjawab, “Sama seperti biasa Bi.”
“Yaudah kalau begitu. Sana ke kamar, ganti baju, setelah itu ke ruang makan. Udah ditunggu sama yang lain.”
“Iya Bi.”
Sesampainya di ruang makan, sudah ada pamannya, kedua anak pamannya, dan juga adiknya. “Abangg!” Panggil Farhan. Azmi mendekat lalu mengelus kepala Farhan, ia pun duduk di sebelah Farhan.
“Tadi Falhan dibeliin susu tau sama Paman. Yang lasa coklat. Nih liat.” Farhan memamerkan sekotak susu yang berwarna kuning dengan gambar gelas yang berisi susu coklat. “Udah bilang makasih belum sama Paman?”
“Belum… Hehe.” Jawab Farhan dengan cengiran. Lalu Farhan menoleh ke arah pamannya. “Makasih ya Paman.”
“Iya sama-sama.” Jawab Pamannya sambil tersenyum.
Tak lama, bibinya datang membawa lauk untuk makan siang. Setelah itu mereka makan siang dengan khidmat.
Tetapi keseharian yang tenang itu tidak bertahan lama. Azmi mulai jenuh. Ia lelah. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Ia juga harus mengurus adiknya. Bahkan sering kali juga mengurus anak bibinya karena bibi dan pamannya bekerja. Segala kesedihan dan rasa lelah yang bertumpuk membuatnya berubah.
Di sekolah ia malah berteman dengan anak-anak berandal. Suka bolos, suka berbuat ulah di sekolah, dan masih banyak lagi. Ia juga mulai bersikap dingin pada keluarga bibinya. Bahkan pada adiknya.
Ibadah pun mulai jarang ia jalani. Biasanya ia salat tepat waktu. Tetapi sekarang, ia bahkan sering meninggalkan salat. Entah kapan pula terakhir ia membaca Al-Qur’an. Hidupnya benar-benar melenceng.
Bibinya sudah sering menasihatinya. Tetapi ia tak hiraukan perkataan bibinya itu.
***
Dua setengah tahun kemudian, setelah lulus SMA, bibi dan pamannya mengajak berbicara.
Di ruang tamu, bibi dan pamannya duduk bersebelahan. Azmi duduk di hadapan mereka. Mereka terdiam cukup lama. Lalu pamannya menarik napas dalam-dalam. Dengan raut wajah gelisah, ia mulai berbicara. “Gini Azmi, sekarang kan kamu sudah lulus SMA, kamu juga sudah bisa mandiri. Sebenarnya, keuangan kami juga sudah pas-pasan. Sepertinya kami sudah tidak bisa membiayai kamu lagi. Untuk adikmu, mungkin kami masih bisa menanggungnya sampai lulus SMP. Atau paling lama SMA. Tapi maaf, sepertinya kami tidak bisa membiayai kamu lagi. Mungkin paling lama hanya sampai akhir bulan ini. Jadi…”
Azmi terdiam. Ia paham. Mungkin bila dikatakan secara kasar, ia sedang diusir dari rumah ini. Ia juga sebenarnya sadar bahwa paman dan bibinya juga sedang kekurangan uang. Ia bersyukur karena keluarga bibinya masih menampungnya hingga sekarang. “Baiklah Paman. Jika itu akhir bulan, artinya seminggu lagi ya. Saya akan pergi seminggu lagi. Terima kasih sudah merawat saya selama dua setengah tahun ini, Bibi, Paman.” Azmi hanya bisa tersenyum pedih.
Seminggu kemudian, ia sudah siap pergi dengan membawa tas ransel dan juga tas travel jinjing yang berisi pakaian dan beberapa barang pentingnya.
“Abangg… Jangan pergi. Kalo Abang mau pergi, ajak Farhan juga.” Rengek adiknya yang sekarang sudah berusia 9 tahun itu. Kedua tangannya memeluk erat pinggang kakaknya.
“Maafin Abang ya. Sekarang Farhan tinggal sama Bibi dulu ya. Nanti Abang bakal sering mampir. Farhan jadi anak yang baik ya sama Bibi dan keluarganya.” Bujuk Azmi sambil mengelus kepala adiknya.
Bibinya yang melihat adegan tersebut ikut menangis. Ia juga tidak tega. Tapi keadaan ekonominya sekarang memang cukup sulit. Bahkan suaminya juga sudah beberapa kali meminjam uang ke tetangga dan teman-temannya. Uang warisan yang didapat dari almarhum kedua orang tua Azmi juga sudah hampir habis terpakai untuk keperluan Azmi dan Farhan. Sisanya disimpan untuk pendidikan Farhan beberapa tahun ke depannya.
Berulang kali kata maaf terucap di mulutnya. Tapi rasa bersalah itu malah semakin besar. Azmi pun hanya tersenyum sebagai respon.
Sang Paman mendekatinya. “Ini, sedikit biaya dari kami, mungkin cukup untuk beberapa minggu. Maaf kami tidak bisa memberi lebih.” Ujarnya sambil memberi amplop berwarna putih. Azmi mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih Paman. Terima kasih juga sudah merawat saya. Mohon jaga Farhan dengan baik.” Keduanya akhirnya berpelukan.
Setelah pamit dengan semuanya, ia pun pergi diiringi tangisan Farhan yang masih belum reda hingga semakin lama suaranya menghilang akibat dari jauhnya jarak.
***
Ia berkeliling ke banyak tempat. Mencari kamar kos yang murah sekaligus mencari pekerjaan. Uang yang diberikan Pamannya hanya 500 ribu rupiah. Sebenarnya itu sangat tidak cukup. Terlebih untuk biaya tempat tinggal dan makan. Untunglah ia mendapat kosan dengan harga cukup murah. Sekitar 250 ribu sebulan. Meski kamarnya sangat kecil dan kamar mandinya pun digunakan bersama, tapi tak apa. Uang sisanya harus ia hemat sebisa mungkin. Dan setidaknya, bulan ini ia harus mendapat pekerjaan.
Minggu pertama, ia mendapat pekerjaan, tetapi ada saja peristiwa yang membuatnya diberhentikan. Begitu pula di minggu kedua hingga keempat. Rasanya, dunia ingin membuatnya putus asa dan sengsara.
Berawal dari rasa frustasi, lalu emosinya menjadi tidak stabil. Ia jadi sering marah, mudah tersinggung, hingga orang-orang menjauhinya.
Kemudian, pemilik kos mengusirnya karena ia sudah nunggak cukup lama.
Kali ini, ia tak punya uang sama sekali. Hanya tersisa 5 ribu rupiah. Mungkin hanya cukup untuk sekali makan.
Dengan pakaian dan rambut kusut, ia berjalan membawa kedua tasnya dengan pandangan kosong. Bagaimana ia harus hidup sekarang? Ia tak punya uang. Tidak punya tempat tinggal. Ia juga tidak ingin kembali ke rumah bibinya karena tidak ingin merepotkan.
‘Ke mana aku harus pergi?’
Ia berjalan tak tentu arah. Hari sudah petang. Tapi ia tak ada niat sedikit pun untuk mencari tempat tinggal.
Setelah berjalan cukup lama, ia samar-samar mendengar suara lagu. Nadanya terasa begitu familiar. Seakan ia sudah pernah mendengar lagu tersebut. Tapi di mana? Dan kapan?
Semakin mendekat, ia menyadari itu adalah lagu sholawat dengan judul “Insha Allah” karya Maher Zain. Ia teringat saat ia kecil, dulu ibunya sering memutar lagu tersebut.
Every time
You feel like you cannot go on
You feel so lost and that you’re so alone
All you see is night
And darkness all around
You feel so helpless you can’t see which way to go
Mendengar lirik lagu tersebut, ia bergumam, “Entah mengapa rasanya lagu ini sedang mendeskripsikan diriku.”
Don’t despair And never lose hope
‘Cause Allah is always by your side
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan
Insya Allah, Insya Allah
You’ll find your way
‘Kapan ya, aku terakhir kali mengingat bahwa Allah selalu disisiku? Ah, mungkin ini karma karena aku melupakan Allah selama ini. Tapi, apakah Allah akan memaafkanku yang sudah melupakannya?’
Every time
You commit one more mistake
You feel you can’t repent and that it’s way too late
You’re so confused
Wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full shame
But don’t despair And never lose hope
‘Cause Allah is always by your side
Insya Allah, Insya Allah
Insya Allah ada jalan
Insya Allah, Insya Allah
You’ll find your way
‘Benar, Allah kan maha pengampun. Mungkin saja, setidaknya aku bisa sedikit mengurangi dosaku.’
Turn to Allah
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
Ooh ya Allah
Guide my steps, don’t let me go astray
You’re the only one who can show me the way
Show me the way
Show me the way
Show me the way
Azmi melihat sekelilingnya. Suasana sangat ramai. Terlihat banner bertuliskan ‘Lomba Nasyid’ dan ‘Maulid Nabi’. Sepertinya hari ini diadakan lomba memperingati kelahiran Nabi Muhammad.
Tak jauh dari sana, ia melihat masjid yang berada di seberang lapangan besar tempat diadakannya lomba tersebut. Perlahan, ia melangkah menuju masjid. Memasuki teras masjid, entah kenapa rasa rindu yang mendalam memenuhi hatinya. Air matanya seketika menetes.
Kapan ia terakhir kali ke masjid? Kapan terakhir kali ia salat? Entahlah. Ia sudah tidak ingat.
Waktu sudah menjelang salat maghrib, sebelum waktu habis, ia ingin salat ashar.
Dengan segera, ia ke tempat wudhu. Setelah itu ia mulai salat ashar. Dalam sujud akhirnya, ia terdiam lama. Ia berdoa, dan memohon ampun. Air matanya luruh begitu saja.
Seusai mengucap salam, hatinya menjadi lebih tenang. Beberapa menit kemudian, ada seseorang yang masuk dan mulai mengumandangkan azan.
Tiba waktu salat maghrib. Lomba nasyid dihentikan sementara. Para warga sekitar yang tadi melihat lomba, mulai memasuki masjid untuk salat berjamaah.
Beberapa orang mulai salat qobliyah, adapun anak-anak, ada beberapa yang saling menjahili satu sama lain. Para remaja juga ada yang hanya duduk sambil mengobrol dengan temannya.
Mata Azmi berkaca-kaca. Rasanya sudah lama ia tidak merasakan suasana ini. Mungkin terakhir kali ia merasakan adalah ketika sebelum keluarganya bangkrut.
Azmi tersenyum. Ia berdiri, lalu mulai salat qobliyah. Lalu 20 menit kemudian, seusai salat magrib ia beranjak sambil membawa tasnya untuk mencari tempat untuk dirinya tidur malam ini.
Tapi baru beberapa langkah dari masjid, ada yang memegang bahunya. “Azmi, kamu Azmi bukan?” Tanya seorang pemuda.
“Iya, ada apa ya?” Jawab Azmi sambil memperhatikan pemuda tersebut. Entah kenapa ia merasa familiar. Ia menggali ingatannya.
“Ini aku, Atha. Dulu kita tetanggaan.”
“Ohhh, Athalah yah? Yang dulu sering ajak keliling rumah-rumah buat bangunin orang sahur?”
“Iya betul. Ya ampun. Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”
“Baik. Kamu?”
“Alhamdulillah, bi khair. Ini kamu mau ke mana bawa-bawa tas segala?”
“Oh, umm. Sebenarnya lagi nyari tempat tinggal. Tapi bingung. Uangku habis soalnya.”
“Loh, emang gak tinggal bareng keluargamu?”
“Nggak. Orang tuaku meninggal dua setengah tahun lalu. Setelah itu aku tinggal di rumah bibi. Tapi setelah lulus SMA aku pergi karena bibiku sudah tidak sanggup membiayai. Bibiku hanya bisa menyanggupi membantu merawat adikku. Jadi sekarang karena aku sudah dewasa dan bisa hidup mandiri jadilah aku tidak tinggal di sana lagi.”
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, turut berduka atas orang tuamu.”
Azmi hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Atha terdiam beberapa saat. “Kalau begitu gimana kalau tinggal di pondok pamanku? Ada di dekat sini kok. Aku juga sekarang sedang menempuh pendidikan di situ. Jangan memikirkan masalah biayanya. Kamu bisa membayarnya nanti.”
“Tapi…” Azmi memasang wajah sungkan.
“Tidak apa-apa. Nanti aku yang akan jelaskan ke Pamanku. Jika kamu merasa tidak enak hati, mungkin, jika ada lowongan nanti, Pamanku bisa mempekerjakanmu. Setelah itu baru kamu cicil bayar sedikit demi sedikit. Bagaimana?”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak Tha.”
“Ahahaha. Santai saja. Kita kan teman lama. Tentu aku akan membantumu. Lagi pula kamu juga sering membantuku dulu.” Jawab Atha santai sambil merangkul Azmi.
Setelah itu, Azmi dan Atha pergi ke pondok paman Atha. Di sana, ia disambut baik. Ia diberikan tempat tinggal, ia mendapat pekerjaan, lalu di sana juga ia menambah ilmu. Ia kembali mempelajari Islam. Ia juga mulai rajin beribadah.
Saat ia sudah mendapat gaji pertamanya, sebagian ia gunakan untuk membayar biaya tinggal di pondok, sebagian ia simpan untuk dirinya sendiri, dan sebagiannya lagi ia gunakan untuk ke rumah bibinya mengunjungi adik serta keluarga bibinya.
Beberapa tahun kemudian, ia membuka usaha hingga sukses. Setelah itu ia membawa adiknya untuk tinggal bersamanya, ia juga memberikan uang rutin kepada bibinya sebagai balas budi, serta uang sedekah untuk pondok yang telah menerimanya ketika ia dalam masa sulit.
Terima kasih Ya Allah. Terima kasih Engkau telah membawaku kembali ke jalan-Mu.
Selesai