Rembulan dan Kalbu
Karya: Dwi Fitri. A
“Kamu pernah kepikiran gak si, kenapa manusia lain hidupnya enak? Kayak gak ada beban, makan tinggal makan, baju dicuciin, rumahnya bagus, kendaraan mereka keren-keren, sementara dibelahan dunia lainnya, ada beberapa orang yang mau makan aja harus ngegali sampah dulu, boro-boro nyuci baju, toh itu satu-satunya baju yang dipunya, apalagi soal rumah, kayaknya dinginnya malam udah jadi temen keseharian mereka, boro-boro kendaraan, kaki mereka bisa gerak aja sebuah anugerah yang begitu luar biasa. Kenapa, ya? Kayak… keadilan di kehidupan ini sebenarnya adanya dibagian mana? Pernah ga kamu mikir begitu?” Tanya Wisnu sambil berjalan mendekati seseorang remaja perempuan berbaju ungu yang sedari tadi duduk memperhatikan indahnya rembulan di lantai atas rumahnya.
“Pernah, terus kenapa?” Jawab remaja perempuan itu, yang semula memberikan pertanyaan hanya mengangkat bahu tertanda tidak tahu, ia merasa hanya ingin mengutarakan isi hatinya saja.
“Gini, menurutku sebetulnya keadilan dalam kehidupan ini akan selalu ada dan terjadi, karena keadilan itu sendiri banyak bentuknya, Cuma kita sebagai manusia yang berpikiran sempit jadi susah buat paham bentuk keadilan yang gimana yang Tuhan kasih ke kita, gitu? Kamu paham ga?” Wisnu menggeleng pelan.
“Aku pun pernah mikir kayak kamu, ngerasa Tuhan nggak adil. Waktu itu, seseorang pernah mencuri tasku sewaktu masih jadi mahasiswa baru, didalam tas itu ada laptop yang baru dibeli sekitar tiga bulan sebelum aku kehilangan tas itu? Aku sempat marah banget. Terus mikir, kenapa Tuhan membiarkan gadis polos yang bahkan belum paham dunia ini kehilangan barang berharganya? Kenapa harus aku yang ngalamin? Saat itu aku juga ngerasa jadi beban keluarga. Gagal. Nggak bisa jaga barang sendiri, dan bikin orang lain repot. Aku juga ngerasa malu sekaligus marah sama diriku sendiri, harusnya sebagai kakak, aku jadi contoh yang baik buat adik-adik ku, tapi aku malah jadi anak yang paling ngerepotin orangtua ku. Berkali-kali aku nanya ke Tuhan: kenapa harus aku? Salahku apa? Sampai barang-barangku harus hilang kayak gitu.” Remaja perempuan itu menarik napas panjang, matanya menatap langit malam yang dihiasi rembulan.
“Tapi kamu tau? Di saat aku ngerasa sendirian dan nggak tahu lagi harus minta tolong ke siapa… beberapa temen angkatanku yang bahkan belum kenal dekat, mau bantuin aku. Mereka nyisihin waktu, tenaga, buat nolongin aku. Entah karena kasihan atau tulus, tapi dari situ aku sadar: aku nggak sendirian. Aku ditolong. Dan aku bersyukur banget atas itu. Setelah kejadian itu, aku pulang ke rumah. Nangis setiap malam. Tidur pun susah, karena tiap kali merem, kejadian-kejadian itu keulang lagi di kepala. Sampai aku ngerasa bener-bener hancur, akhirnya aku hubungi guru SMA-ku. Aku ceritain semuanya. Dan kamu tahu apa yang beliau bilang? Beliau bilang: ‘Maafin dirimu sendiri dan orang yang ngambil tasmu.’ Meskipun waktu itu banyak yang beliau bilang, tapi intinya ya itu, aku disuruh maafin diriku sendiri dan pelaku.”
“Terus gimana, gimana caranya kamu maafin dirimu sendiri dan orang itu?” tanya Wisnu kepada perempuan itu, kali ini dengan lebih antusias.
“Caranya? Kamu harus mulai sayang sama dirimu sendiri. Jangan terus-terusan nyiksa hati, apalagi sampai lupa makan atau menyakiti diri. Nangis itu nggak apa-apa… asal jangan sampai gak makan. Coba bilang jujur ke diri sendiri: ‘Aku habis ngelakuin kesalahan.’ Terus pelan-pelan, maafkan. Bilang: ‘Aku maafin diriku sendiri atas apa yang terjadi.’ Meski sambil nangis dan hati masih berat, tetap bilang aja. Akui semuanya, sampai kamu mulai bisa nerima dan sedikit lebih tenang. Setelah itu, berdo’alah. Ceritain semua ke Tuhan. Bilang kamu marah, kecewa, kesel banget. Nggak perlu ditahan, bahkan kalau rasanya pengen lempar batu ke pelaku, bilang aja. Tuhan nggak pernah jijik sama kejujuran hati. Dan ini yang paling berat tapi juga paling ajaib. Di tengah semua rasa nggak adil itu, coba bilang: ‘Karena Tuhan dan Rasul-Nya, aku maafin dia.’ ulang kalimat itu berkali-kali, meskipun sambil nangis, sambil nahan sesak. Tapi kamu tahu? Setelah itu, rasanya… ringan banget. Seolah beban berat yang udah lama dipikul, tiba-tiba diangkat. Aku nggak tahu perasaan apa ituu, tapi yang pasti, hatiku… lega. Sejak itu, aku belajar banyak. Aku lebih hati-hati sama orang baru. Nggak taruh barang sembarangan. Tapi yang paling penting aku belajar teknik memaafkan yang paling ampuh buat diriku sendiri. Aku belajar, gimana caranya sayang sama diri.”
Wisnu terdiam cukup lama. Lalu tiba-tiba tertawa kecil bukan karena lucu, tapi karena akhirnya ia mengerti.
“Aku pikir keadilan itu soal siapa yang punya hidup paling enak. Tapi ternyata… bukan hidupnya yang nggak adil, mungkin cuma cara pandang kita yang belum cukup luas.”
Matanya menatap langit, lalu bergeser pada perempuan di sampingnya.
“Tuhan nggak pernah tidur, ya… Kadang Dia nulis rencana pakai bahasa yang nggak kita pahami. Tapi tetap, semua yang kita alami bahkan yang pahit sekalipun ada sebab dan tujuannya.”
Ia menghela napas. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya terlihat tenang.
“Aku juga baru sadar… kalau memaafkan itu bukan soal siapa yang salah. Tapi soal siapa yang ingin bebas. Termasuk bebas dari rasa benci ke diri sendiri.”
Perempuan itu kembali menatap rembulan, tak berkata apa-apa. Karena memang, beberapa hal… cukup untuk dirasa.
Dan malam pun diam-diam menjadi saksi: bahwa berdamai dengan hidup adalah bentuk keadilan paling sejati, bukan karena segalanya adil, tapi karena hati akhirnya bisa menerima apa pun yang datang dengan lapang.