Lompat ke konten
Beranda » Blog » Aku Sudah Sampai Tapi Ini Belum Usai – Review Buku

Aku Sudah Sampai Tapi Ini Belum Usai – Review Buku

AKU SUDAH SAMPAI TAPI INI BELUM USAI
Penulis : Indah Sania


RINGKASAN CERITA:
Aku Sudah Sampai Tapi Ini Belum Usai adalah sebuah novel pendek yang mengangkat kisah seorang anak perempuan dalam perjalanannya menuju perkuliahan dan meraih impian untuk bisa belajar mengaji di pesantren, dengan berbagai cobaan yang ia lalui maupun keterbatasan yang ia miliki.

Laila merupakan seorang anak pertama perempuan yang ingin menjadi anak yang shalihah dan kebanggaan bagi orang tuanya. Begitu mendengar pengalaman teman-temannya mengaji di pondok pesantren, ia pun tergerak untuk mengikuti dan kegiatannya itu mulai menumbuhkan kecintaannya pada dunia santri. Ia pun bertekad jika ia lulus sekolah nanti, ia ingin masuk ke pondok pesantren untuk berkumpul bersama orang-orang yang serius menuntut ilmu.

Namun, niat baiknya itu berjalan bukan tanpa tantangan. Kesulitan beradaptasi, keterbatasan ekonomi, hingga hilangnya pekerjaan orang tua yang mengakibatkan keluarganya pindah dan mengharuskannya keluar dari pondok pesantren tempat ia belajar sekarang.

Laila hampir putus asa, tetapi dengan dorongan guru-guru di sekolah barunya, ia kembali mendapatkan harapan dan kepercayaannya kembali. Ia pun mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di sebuah kota yang agak jauh dari kota kelahirannya. Dengan usaha dan do’a, ia pun meraih impiannya untuk kembali mengenyam pendidikan di pondok pesantren di perantauan.

BAGIAN TERBAIK DALAM CERITA:
Saya menyukai perkembangan karakter Laila yang memiliki kemauan kuat, serta kegigihan yang ia punya dalam berusaha mencapai impiannya.

QUOTES TERBAIK ATAU TERFAVORIT:
“Jika takdir perbedaan itu menguntungkan, siapa yang tak ingin? Jika takdir perbedaan itu menyulitkan, siapa yang ingin? Jika takdir perbedaan itu menguntungkan tapi sulit tuk dijalani, adakah yang menginginkan?”

“Siapapun itu bisa bermimpi, selagi ia bisa tertidur. Siapapun itu bisa mewujudkan impian, selagi ia terbangun di kala orang-orang tertidur. Memang tak mudah untuk melakukannya, jika tidak biasa membiasakannya. Dan tidak akan terbiasa, jika tidak terpaksa.”

Secara pribadi, cerita yang dihadirkan dalam buku ini menyentuh saya. Membaca cerita ini, saya merasa terhanyut dalam perjalanan spiritual yang mengharukan dari sang tokoh utama. Tekadnya yang kuat, usahanya yang gigih, serta do’a yang tidak hentinya ia panjatkan mendorong saya untuk merefleksikan kembali hubungan saya dengan kehidupan, keluarga, dan Sang Illahi. 

Buku ini merupakan bacaan yang ringan namun bermakna. Tidak hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga memantik semangat untuk terus melangkah, meski terasa berat. Saya merekomendasikannya bagi teman-teman yang sedang berjuang dalam diam, bagi yang merasa jalannya berliku, atau bahkan bagi yang pernah merasa ingin menyerah saat impian terasa terlalu jauh. Karena buku ini bukan hanya tentang perjalanan fisik menuju sebuah tempat, tapi lebih dalam lagi: tentang perjalanan hati menuju keikhlasan, kesabaran, dan pengharapan.

RATING BUKU: 8/10
Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
3
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

  • Pena Yang Terjatuh

    Pena Yang Terjatuh, atau yang akrab disapa dengan sebutan Fina, adalah seorang gadis berusia 20 tahun yang terkadang suka menulis di sela waktu kosongnya. Meskipun belum konsisten, dia berharap suatu saat akan dapat membuat banyak orang senang dengan hasil tulisannya. Karya-karyanya yang lain dapat dilihat di akun Instagram @pena_yang_terjatuh.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *