Lemari Ajaib dan Sang Tarzan
Karya: Riffa Awaliya Ramadhani
BRUK… BRUK… BRUK…
Lagi lagi suara gaduh dari dalam lemari terdengar, Varro hanya bisa melangkah lunglai ke arah lemari untuk menghentikannya seperti hari hari sebelumnya. Setelah sampai di depan lemari itu, Varro memukul mukul lemarinya dengan keras dan suara gaduh itupun menghilang.
“Jail banget sih hantu penjaga lemari.” ucap Varro tak peduli. Ia pun kembali ke kasurnya untuk beristirahat.
Belum sepenuhnya Varro memasuki alam mimpi, suarah gaduh dari lemari kembali terdengar. Matanya kembali terbuka. Kini ia sudah benar benar kesal dengan lemari itu. Varro berjalan ke arah lemari dengan langkah lebar. Kesabarannya kini mulai habis, ia rasa sepertinya ia harus mengganti lemarinya dan membuang lemari berhantu ini.
“HEH siapapun yang ada di dalem lemari, tolong ya jangan ganggu waktu istirahat aku! Aku cape, tau ga sihh?” Varro berbicara sendiri. Ia sudah tak memperdulikan lagi rasa takutnya, ketakutannya untuk membuka lemari itu di hari kemarin kini sudah sirna. Ia pun membuka lemari itu dengan kasar. Dan yang terjadi selanjutnya…
“AAA…..” Varro tiba tiba tersedot ke dalam lemari itu.
Kini ia berada di suatu hutan yang sangat indah dengan sungai panjang yang melintas di tengah tengah hutan. Varro benar benar ketakutan, ia menyesali emosinya yang menyebabkan ia sampai di tempat antah berantah ini.
“YUHUUU.. Ada orang disini?” ujar Varro sembari mengelilingi hutan mencari jalan keluar. Ia terus berteriak, berharap keajaiban datang dan ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Hingga tanpa sadar kakinya membawa ia sampai di tengah tengah hutan yang tidak seindah sebelumnya. Bahkan penerangan dari sinar matahari pun sudah tertutupi oleh pohon pohon yang tumbuh di sekitarnya.
Varro mulai melangkahkan kakinya dengan waspada, khawatir jika ternyata aka nada ular yang menggigitnya atau bahkan sang raja hutan yang akan menerkamnya. Hingga tiba tiba…
“HAI.” Sebuah suara menggema tepat di sebelah telinganya.
Varro pun menoleh dan yang ia dapati adalah seorang manusia tarzan? “HUWAAAAAAA KAMU SIAPA?!” Varro melonjak kaget dibuatnya. Badannya gemetar hebat, keringat dingin mengucur di dahinya. Kini keberaniannya benar benar menurun hingga 0%.
Sang Tarzan tertawa melihat reaksi Varro yang begitu berlebihan. “HAHAHA… Kamu lucu sekali.”
Varro mengerutkan keningnya heran melihat reaksi sang Tarzan yang ternyata di luar nalarnya, awalnya ia mengira sang Tarzan akan membunuhnya dan menjadikan dirinya santapan makan malam.
“Tenanglah kawan, aku ini manusia biasa. Hanya saja aku dibesarkan oleh orang tua gorilla ku di hutan sehingga pakaian ku pun mengikuti aturan di hutan ini.” ujar sang Tarzan menjelaskan.
Kini rasa takut dalam diri Varro berubah menjadi rasa penasaran yang menggebu.‘Hah? Dibesarkan oleh gorilla? Jadi kisah sang Tarzan itu nyata adanya?’ Batin Varro bertanya tanya.
Varro pun mulai memberanikan diri untuk mendekati sang Tarzan. Melihat itu, sang Tarzan mengulurkan tangannya ke arah Varro. Varro menggapai tangan sang Tarzan dengan perlahan. Sejujurnya ia sangat takut, namun di lubuk hatinya terdalam ia percaya bahwa tarzan itu adalah sosok yang baik hati dan tak mungkin menyakiti dirinya. Atau bahkan tarzan itu mengetahui jalan untuk dirinya kembali pulang.
Setelah uluran sang Tarzan digapai oleh Varro, tarzan itu tersenyum senang. “Aku senang sekali akhirnya kamu memutuskan untuk datang kesini.”
“Datang kesini? Aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk datang kesini.” ucap Varro keheranan.
“Tapi kamu membuka lemari itu saat aku mengundang dirimu, Varro.”
‘Mengundang aku? Bahkan dia tau namaku? Jadi dia ini siapa?’ Varro benar benar dibuat keheranan oleh kata kata sang Tarzan.
Sang Tarzan terkekeh. “Kamu terlihat begitu kebingungan. Baiklah biar aku jelaskan semuanya agar kamu mengerti. Tapi sambil aku bercerita, izinkan aku untuk mengajak kamu berkeliling hutan ini. Bagaimana, apakah kamu setuju?” tanya sang Tarzan yang dibalas anggukan oleh Varro tanda setuju.
“Jadi begini, sebenarnya lemari yang kamu beli 2 bulan terakhir itu adalah pintu penghubung antara dunia nyata dan dunia khayalan. Jadi disini adalah khayalan masa kecil seseorang yang membeli lemari itu. Dan kebetulan sekali, kamu dulu seringkali mengkhayal ingin hidup di dunia tarzan. Dan disinilah kamu sekarang, di khayalan masa kecilmu. Duniaaaa Tar….. zannnnnn!” ujar sang Tarzan begitu excited menjelaskan, sang Tarzan pun lalu menghela napas sejenak. Sedangkan Varro masih bingung dan tak percaya akan apa yang di alaminya.
“Nah lalu, kita sebagai penghuni dunia khayalan punya data lengkap siapa saja yang berkhayal ingin menjadi tarzan, karena aku adalah tarzan jadi hanya data itu yang kita punya. Dan kamu adalah satu satunya orang yang menerima undangan dariku, dari sekian banyak orang yang berkhayal hidup di dunia tarzan.”
Varro menatap sang Tarzan lama. “Undangan yang kamu maksud tuh apa?” tanya Varro.
“Apa kamu sering mendengar suara gaduh dari dalam lemari setiap malam?” sang Tarzan malah balik bertanya.
“Iyap. Suara yang mengganggu waktu istirahatku.” ucap Varro jengkel.
Sang Tarzan menyengir, menunjukkan gigi putihnya. “Maafkan aku jika aku mengganggu waktu istirahatmu, sebenarnya itu adalah undanganku, yang bisa diterima dengan cara membuka pintu lemari itu.”
Varro memutar bola matanya, tanda bahwa ia kesal. “Ternyata selama ini kamu. Benar benar menjengkelkan.”
“Hehehe, maafkan aku Varro. Tapi sungguh, aku sangat senang bertemu denganmu.”
Varro membuang napasnya kasar. “Tapi aku tidak senang karena kamu mengganggu waktu istirahatku.”
“Tenang saja, di rumahku ada tempat istirahat dan tentunya banyak tempat bermain yang pastinya kamu sukai.” ujar sang Tarzan yang terlihat begitu gembira. Berbeda dengan Varro yang merasakan sebaliknya.
Entah sudah seberapa jauh sang Tarzan membawa Varro berkeliling hutan, namun yang ia tahu, kini mereka telah sampai di sebuah rumah yang terlihat begitu mewah dan mengagumkan.
“Ayo masuk.” ajak sang Tarzan.
Varro pun melangkahkan kakinya memasuki rumah sang Tarzan yang di dalamnya sama persis seperti rumahnya. Hanya saja, rumah sang Tarzan jauh lebih mewah dan glamour seperti rumah orang kaya, membuat Varro terkagum dibuatnya. Varro pun mengelilingi rumah sang Tarzan. Persis seperti ucapannya, terdapat taman bermain di belakang rumahnya, bahkan kolam renang pun tersedia disana. Benar benar bukan seperti rumah di tengah hutan.
“Sebentar lagi orang tua gorilla ku akan datang. Jaga sikapmu ya, Varro!” ujar sang Tarzan mengingatkan.
Selama di rumah sang Tarzan, Varro diberi makan enak, Varro mandi, Varro bermain dan kegiatan lainnya yang menyenangkan. Rasanya Varro ingin tinggal disini saja tanpa perlu kembali ke dunia nyata yang menyebalkan dan melelahkan.
Sedang asyik bermain, tiba tiba pintu terbuka dan memperlihatkan 2 ekor gorilla yang terlihat begitu besar membuat Varro ketakutan.
“Tenanglah, Varro. Ini orang tuaku yang baik hati, mereka tidak akan memakan kamu, kok. Mereka lebih suka buah buahan.” jelas sang Tarzan meredakan rasa takut di dalam diri Varro.
Selama di rumah sang Tarzan, Varro berbincang banyak dengan orang tua gorilla sang Tarzan. Tak dapat disangka bahwa orang tua gorilla sang Tarzan mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar seperti orang Indonesia pada umumnya. Hanya warna kulit saja yang membedakan.
Varro benar benar merasa nyaman berada di rumah sang Tarzan. Ingin rasanya ia terus hidup permanen bersama sang Tarzan ini. Hanya saja, syarat utama untuk tetap tinggal di dunia khayalan adalah tidak tidur selama 3 hari, dan tidak boleh kembali ke dunia nyata walaupun hanya sebentar. Dan Varro sedang mengupayakan hal itu.
Malam pun tiba, mata Varro yang tadinya begitu berbinar kini terlihat layu. 3 bungkus kopi telah memenuhi perutnya, hanya saja ia masih dihinggapi oleh rasa kantuk.
“Yaudah yu kita istirahat, besok aku ajak kamu untuk bertemu dengan teman temanku.”
Varro menyetujui keputusan sang Tarzan, tanpa mereka ketahui bahwa itu adalah penutup dari pertemuan singkat mereka. Varro pun mulai memejamkan matanya, dan terlelap ke alam mimpi.
Keesokan harinya…
“HOAM… Pagi tarzan.” Varro menyapa sang Tarzan yang berada di sebelahnya. Namun saat ia menoleh, yang ia hadapi adalah kosong. Dan ternyata, kini Varro sudah kembali ke dunia nyata, di kamar tidurnya tercinta.
Varro menghela napas kecewa, namun ia masih bisa berkunjung kesana di lain waktu, begitu pikirnya. Namun siapa sangka, selembar kertas keluar dari lemari itu yang isinya:

Membacanya, Varro meneteskan air mata. Jika tau begini, Varro mungkin akan lebih menikmati waktunya di dunia khayalan lebih lama lagi. Ia benar benar tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan sosok khayalannya di masa kecil akan terasa se-singkat itu.
“Aku ga akan lupain kamu kok, Tarzan! Semoga kita bisa ketemu lagi, ya. Aku bohong kok waktu itu, aku seneeeennngg banget bisa ketemu kamu!!!!”
Varro pun tersenyum dan memeluk surat yang berupa selembar kertas pemberian sang Tarzan.
Sumber gambar: –