Lompat ke konten
Beranda » Blog » Antara Kita yang Tak Terucap – Cerpen

Antara Kita yang Tak Terucap – Cerpen

Peraih penghargaan “Karya Terbaik” dalam kategori Cerpen pada Monthly Words Weaving Al-Qolam September 2024

Antara Kita yang Tak Terucap
Oleh: Virda Arifa Rahma

 Sudah hampir tujuh tahun sejak Zidni terakhir melihat Paul, teman sekelas yang diam-diam mencuri hatinya sejak masa SMA. Mereka pernah begitu dekat, sering mengerjakan tugas bersama, mengobrol hingga larut malam tentang mimpi-mimpi dan harapan, tetapi perasaan Zidni tak pernah terucap. Dia terlalu takut mengakui perasaannya, takut kalau hubungannya dengan Paul berubah menjadi canggung. Jadi, dia lebih memilih diam.

 Setelah lulus SMA, mereka pun terpisah. Paul pergi kuliah di luar negeri, sementara Zidni tetap di kota kecil mereka, melanjutkan studinya di universitas lokal. Hidup terus berjalan, dan meski Zidni sudah mencoba melupakannya, bayangan Paul selalu hadir di benaknya. Dia berpikir, mungkin ini hanya cinta monyet yang akan hilang seiring berjalannya waktu. Tapi, hingga hari ini, tujuh tahun kemudian, rasa itu masih ada, tersimpan rapi di sudut hatinya.

 Di kampus, Zidni dikenal sebagai mahasiswi yang cerdas dan berdedikasi. Tak banyak yang tahu bahwa di balik senyumannya yang ramah, ada ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi. Setiap kali dia melihat pasangan berjalan bersama di taman kampus, hatinya terasa pedih. Bukan karena dia iri, tetapi karena dia selalu bertanya-tanya, bagaimana jika dulu dia memiliki keberanian untuk jujur pada Paul?

 Hari itu, ketika dia sedang membaca di kafe dekat kampus, suara lonceng pintu berbunyi. Zidni mengangkat pandangannya, dan saat itulah dunia seolah berhenti berputar. Di ambang pintu, berdiri seseorang yang tak pernah ia sangka akan ia lihat lagi— Paul.

 Paul tampak sedikit berbeda dari yang ia ingat. Lebih dewasa, lebih tenang, tetapi senyuman yang pernah membuat Zidni jatuh hati itu masih sama. Dia berdiri terpaku, jantungnya berdegup kencang. Apakah ini benar-benar terjadi? Apakah ini mimpi?

 Paul tampak mencari tempat duduk, dan matanya bertemu dengan Zidni. Raut wajahnya berubah, penuh keterkejutan. Dia berjalan mendekat, dan untuk sesaat, Zidni ingin melarikan diri. Tapi, kakinya seperti terpaku di lantai.

 “Zidni?” sapa Paul dengan nada yang penuh keterkejutan.

 Zidni memaksakan senyum. “Hai.”

 Paul tertawa kecil, duduk di hadapannya. “Ya Tuhan, aku nggak percaya ini kamu. Kamu masih di sini?”

 Zidni mengangguk, mencoba meredakan debaran di dadanya. “Iya. Masih di sini, kuliah di kampus ini. Kamu, kapan pulang?”

 “Baru dua minggu lalu. Aku selesai kuliah di luar negeri, sekarang lagi coba cari kerja di sini.”

 Percakapan berlanjut dengan canggung. Mereka berbicara tentang masa lalu, tentang teman-teman lama, dan bagaimana hidup telah membawa mereka ke tempat yang berbeda. Tapi dibalik semua obrolan ringan itu, hati Zidni masih terus berperang. Haruskah dia memberitahu Paul sekarang? Haruskah dia jujur tentang perasaannya yang telah ia pendam begitu lama?

 “Sebenarnya,” Paul tiba-tiba berkata, memotong alur pikirannya, “aku sering ingat kamu, Zi. Aku ingat kita dulu sering ngobrol sampai malam, ngomongin hal-hal random yang nggak penting tapi menyenangkan.”

 Zidni menunduk, hatinya terasa sakit. Paul mungkin mengingat semuanya, tetapi dia tak pernah tahu bahwa ada perasaan lebih dalam yang tersembunyi di balik setiap tawa dan percakapan mereka.

 “Ya, aku juga sering ingat,” jawab Zidni pelan.

 Suasana berubah tenang sejenak. Paul menatap Zidni dengan serius, seolah ingin mengatakan sesuatu. “Zi, aku penasaran. Waktu kita di SMA… kamu pernah suka sama seseorang, nggak?”

 Pertanyaan itu seakan menghantam Zidni seperti petir di siang bolong. Dia menatap Paul dengan tatapan bingung. Apakah ini momen di mana dia harus jujur? Apakah ini kesempatan yang ia tunggu-tunggu selama tujuh tahun?

 Paul tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Aku nggak tahu kenapa aku nanya ini, tapi aku sering bertanya-tanya. Waktu itu, aku merasa kamu dekat sama banyak orang, tapi nggak pernah cerita kalau kamu suka sama seseorang.”

 Zidni tersenyum tipis, menutupi kegelisahannya. “Ya… ada, sih.”

 Paul tampak terkejut. “Serius? Siapa? Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

 Zidni merasakan sesak di dadanya. Ini adalah saat di mana dia bisa mengatakan semuanya, mengungkapkan perasaannya yang sudah lama terpendam. Tapi, bibirnya terasa terkunci.

 ”Aku nggak pernah bilang karena aku takut. Takut kalau nanti perasaannya nggak sama,” jawab Zidni akhirnya, setengah berbisik.

 Paul menatapnya dalam-dalam. “Sekarang kamu masih suka sama orang itu?”

 Pertanyaan itu seperti mengiris hatinya. Zidni ingin berbohong, ingin mengatakan bahwa semuanya sudah berlalu. Tapi dia tahu, takdir mungkin telah menempatkan Paul di depannya saat ini untuk sebuah alasan.

 Zidni menarik napas panjang, lalu memandang Paul dengan tatapan yang penuh keteguhan. “Aku pernah menyukai seseorang dan perasaan itu nggak pernah hilang.”

 Paul terdiam, menunggu kata-kata selanjutnya. Zidni menunduk, merasa ragu sejenak, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk jujur. “Dan orang itu adalah kamu, Paul.”

 Waktu seolah berhenti. Zidni menahan napas, menunggu reaksi Paul. Jantungnya berdegup kencang, seakan-akan seluruh dunianya bergantung pada momen ini.

 Paul tampak terkejut, tak mengira bahwa jawaban itu akan datang dari Zidni. Dia terdiam beberapa saat, seolah-olah memproses semua yang baru saja ia dengar. “Aku, Zi? Kok, aku nggak pernah tahu,” kata Paul, suaranya pelan.

 Zidni tersenyum lemah. “Aku memang nggak pernah bilang juga.”

 Keheningan meliputi mereka berdua, dengan suara orang-orang di kafe yang terdengar jauh di latar belakang. Zidni merasa beban besar terangkat dari pundaknya, meskipun ia tahu bahwa jawaban Paul mungkin takkan seperti yang ia harapkan.

 Paul menghela napas panjang. “Zi, aku benar-benar nggak tahu harus bilang apa. Karena kamu salah satu teman terbaikku, dan aku selalu menghargai itu. Tapi, mungkin aku terlambat untuk menyadari perasaan ini.”

 Hati Zidni seakan hancur mendengar kata-kata itu. Meskipun ia sudah siap menghadapi penolakan, tetap saja sakit rasanya.

 “Tapi…” lanjut Paul, suaranya terdengar ragu. “Mungkin kita bisa mulai lagi dari awal. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku berharap ini awal yang baik bagi kita.”

 Zidni menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Meski takdir mungkin mempertemukan mereka dengan cara yang tak terduga, dia tahu bahwa keputusan ada di tangan mereka. Mereka bisa memilih untuk membiarkan masa lalu berlalu, atau mencoba mengukir masa depan bersama.

 Zidni tersenyum lembut, merasakan harapan kecil tumbuh di hatinya. “Kita lihat aja, ya,” katanya pelan. “Siapa tahu takdir punya rencana lain untuk kita.”


Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *