Sebuah Keputusan
Oleh: Indah Sania
“Biru atau merah?” tanyaku dalam hati.
Petang saat ini sedikit membuatku gelisah, karena pengumuman yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
“Katanya mau bikin cireng, kok main HP mulu?” ungkap Ibu melintasiku, lalu menyimpan setumpuk pakaian yang baru saja ia angkat dari jemuran.
“Iya, nanti dulu. Ini Dinara lagi cari tau pengumuman lolos atau tidaknya daftar SNBP.”
Tanganku masih saja sibuk mengotak-atik ponsel, mencari tahu bagaimana cara mengetahui pengumuman itu. Di pojok kamar jaringan internet biasanya normal, tapi entah kenapa saat ini perlu sedikit aksi untuk memikat kembali jaringan yang manja itu.
DREET! DREET!
“Halo, ada apa, Ri?”
“Sudah lihat pengumumannya, belum? Temen-temen di Pesantren sini gak ada yang lolos, kamu gimana?”
“Nanti aku kabarin lagi ya,” jawabku lalu segera menutup panggilan suara.
Sedikit terkejut dengan hasilnya, tapi tak mengapa. Aku berusaha menerima dengan tulus, sebuah takdir cinta-Nya yang aku yakini.
“Selamat, anda dinyatakan lolos seleksi nasional berdasarkan prestasi tahun 2023,” gumamku membaca sebuah tulisan berlatar biru.
Rasa apa yang harus aku tampakkan saat ini? Bayangan-bayangan akan masa lalu dan masa depan mulai hadir menghantui. Aku takut, tapi di sisi lain aku sangat bersyukur.
“Dinara, gimana hasilnya? Kamu lolos, kan?” gumamku dalam hati, membaca sebuah pesan masuk dari Ria.
Dengan segera aku membalasnya, “Ya, Alhamdulillah.”
Telah cukup bagiku untuk mencari tahu sebuah informasi yang ditunggu-tunggu itu, selanjutnya keputusan ada pada kedua orang tuaku. Diriku sangat ingin sekali mendengar sebuah ungkapan bangga dari Ayah dan Ibu, seperti kebanyakan remaja yang sering aku lihat di video yang melintas di beranda IG, ketika mereka mengetahui bahwa putrinya bisa lolos dalam sebuah seleksi PTN, yang diikuti ratusan ribu pendaftar.
“Ibu,” ucapku sambil berjalan menemui Ibu di dapur.
“Apa? Sudah selesai lihat pengumumannya? Gimana hasilnya?” jawab Ibu, tanpa mengalihkan pandangannya dari tungku api yang tengah ia masukkan kayu bakar.
Aku tahu betul keadaan perekonomian di rumah saat ini. Mencari cara agar keadaan tidak semakin memanas, aku berusaha menceritakannya dengan ekspresi yang seolah-olah tidak ada hal yang luar biasa.
“Alhamdulillah, dari sepuluh orang yang didaftarkan di sekolah untuk mengikuti seleksi itu, hanya aku dan Tri saja yang lolos,” jawabku santai, dengan tangan yang kini sibuk membuat adonan.
Seketika Ibu terdiam sejenak, lalu kembali pada kesibukannya yang tengah memasak untuk makan sore ini.
“Ibu gak bisa bantu apa-apa. Ibu hanya bisa bantu do’a. Kamu sudah dewasa, kamu juga pasti paham sama keadaan di rumah,” ungkapnya kembali setelah beberapa saat.
“Aku ikut gimana Ibu sama Ayah aja. Tapi Ibu pasti tahu ingin ku saat ini apa,” ucapku menunjukkan keinginan untuk pergi dari rumah baru ini, karena entah mengapa aku masih belum bisa menerima sebuah kenyataan hidup.
Sumber gambar: Pinterest