Karya fiksi mini ini merupakan hasil dari kegiatan Upgrading: Permainan Menyulam Cerita.
Prompt: “Suara pintu di tengah malam membuatnya terjaga tetapi saat ia membuka pintu, tidak ada seorang pun disana.”
Sosok di Balik Pintu
Oleh: Pelbim Well – Daun Kelor, Daun Kemangi, Daun Kering, Daun Hilir
Setelah ia menutup pintu dan kembali ke tempat tidurnya, beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan jendela yang sangat keras. Lalu ia memberanikan diri untuk membuka gorden jendela. Ketika ia membuka gorden dan melihat ke sekelilingnya lagi-lagi tidak ada seorang pun disana. Lalu ia berkata dalam hatinya, “Sepertinya, ini ada yang gak beres.” Ia mulai menerka-nerka mengenai siapa yang sedari tadi mengetuk pintu dan jendela kostnya.
Ia kembali untuk mencoba memejamkan mata dan suara itu kembali terdengar. Gorden jendela itu ia buka kembali dan lagi-lagi tidak ada siapapun disana. Tetapi tiba-tiba saja ia merasakan hawa di sekitarnya menjadi dingin dan ia merasakan ada tangan berkuku panjang sedang mencengkeram kedua bahunya. Ingin sekali rasanya ia berbalik ke belakang, tetapi kepalanya sangat kaku untuk digerakkan.
Karena tangan misterius itu masih belum kunjung diturunkan dari kedua bahunya, ia pun memberanikan diri untuk melihat ke belakang dan betapa kagetnya ia. Di belakangnya terdapat hantu bertangan panjang sedang menyunggingkan senyum. Lidahnya kelu, ingin berteriak meminta tolong, tetapi tak bisa. Hantu menyeramkan itu semakin mendekat. Dirinya pun refleks menjauh, mundur sampai mentok dinding. Keringatnya bercucuran, wajahnya sudah pucat. Ia baru kali ini merasakan ketakutan seperti ini.
Ia menggeleng-gelengkan kepala. “J-jangan mendekat.” Percuma, hantu tersebut sudah di depan mata dan mengangkat kedua tangannya yang berkuku.
“Aaaaaa!” Teriakannya seakan menggemparkan seisi rumah. Ia berusaha membuka matanya lebar-lebar. Dia merasa mimpinya itu seperti nyata. Hantu berlengan panjang dengan kuku-kuku tajamnya itu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. Ia berusaha untuk tidur kembali tapi dia tidak bisa tertidur dengan lelap.
Semakin dipaksa untuk tertidur, sosok hantu itu semakin jelas terngiang-ngiang. “Ahhhhhh!” ia berteriak, rasanya ingin memaki hantu itu. Karena tak tahan, ia memaki hantu itu. “Dasar hantu! Potong tuh kuku, lipat lengan bajumu, jangan ganggu aku tidur!” Karena teriakannya, seisi rumah menghampiri untuk menenangkannya. Setelah dipeluk, ia sedikit tenang.
“Dari mana asal hantu jelek itu?” Tanyanya kepada keluarganya. Keluarganya tak bisa menjawab. Sosok itu hanya bisa dilihat olehnya. Ia teringat seminggu lalu menabrak seekor kucing tanpa dikubur dan dibiarkan tergeletak di jalan. Kucing itu hewan kesayangan hantu yang terus menghantuinya. Ia menyadari kucing itu setelah ingat. Hantu itu berkata, “Sudah ingat? Kubur kucingku hihihihi…” Akhirnya ia mengubur kucing itu dan hidupnya menjadi lebih tenang.