Lompat ke konten
Beranda » Blog » Niki Ingin Kurban – Cerpen

Niki Ingin Kurban – Cerpen

Peraih penghargaan “Karya Terbaik” dalam kategori Cerpen pada Monthly Words Weaving Al-Qolam Juni 2024

Niki Ingin Kurban
Oleh Dari Bulan Mei

 Niki, gadis kecil berusia 10 tahun dengan rambut berkepang dua. Sore itu, Niki bergegas memasukkan buku-buku yang berserakan di meja ke dalam tasnya. Begitu bel pulang berbunyi, dengan langkah cepat Niki meninggalkan sekolah, mengejar angkot menuju arah rumah.

 Niki melepas tas dan sepatunya begitu saja, membiarkannya berserakan di lantai dan pergi menuju kamar. Melihat kelakuan Niki seperti itu, Bunda segera bertindak membersihkan sambil membiarkan Niki melanjutkan aktivitasnya. Bunda Niki tahu, jika kelakuannya seperti itu, Niki sedang ada masalah.

 Niki terlahir dari keluarga sederhana, yang hanya tinggal di sebuah rumah kecil berdinding kayu dan beratap bambu. Lantai yang dimaksud bukan lantai keramik, lantai itu adalah alas tanah yang bahkan belum semuanya diberikan aspal. Ketika makan bersama, keluarga Niki hanya menggelar tikar untuk duduk lesehan karena tak ada meja makan di sana. Makan nasi dan lauk seadanya seperti tahu tempe, sayur, telur mereka telan. Jangan harap daging, mereka menu langka.

 Seperti biasa malam itu mereka makan bersama, di tengah keheningan suara, Niki memecah keheningan dengan suara lantangnya.

 ”Yah, Bun, Niki pengen kurban!” seru Niki setelah mengunyah makanannya.

 ”Eh kok tiba-tiba sekali Niki bilang pengen kurban?” tanya ayah heran.

 ”Niki diejek temen-temen yah! Masa temen-temen Niki bilang mereka semua kurban domba, kambing, sapi, cuman Niki aja yang waktu ditanya gak jawab karena Niki gak kurban, terus diketawain, ya Niki ga terima lah, Niki pengen sapi!” seru Niki dengan nada tinggi.

 Ayah Bunda Niki saling bertatapan, bingung hendak merespon apa. Melihat kondisi keuangannya yang jelas tak memadai. Ayah dengan bijaksana berusaha menenangkan situasi.

 ”Ayah senang kalau Niki punya niat pengen kurban, tapi sebelumnya Ayah mau tanya dulu, Niki pengen kurban untuk sedekah pada Allah dan orang tidak mampu, atau karena apa?” tanya ayah sambil membereskan sisa piring yang berserakan.

 ”Biar kayak temen-temen Yah, keren aja gitu, mereka cerita datang ke peternakan buat milih sendiri hewan yang mau dikurbankan, terus nanti mereka antusias mau lihat hewan itu waktu disembelih, dan nanti dagingnya akan dibagikan ke orang-orang, terus nanti masak besar. Menurutku itu keren, apalagi sapi, dengan harga puluhan juta bisa mereka beli begitu saja,” jelas Niki dengan mata berbinar.

 ”Kalau begitu, Ayah tahu niat kamu ingin kurban itu kenapa, kamu bukan niat kurban untuk berbagi rezeki dan ibadah hanya pada Allah semata, kamu hanya iri, ikut-ikut orang lain supaya dianggap keren.”

 ”Kurban itu berbagi rezeki nak, kepada orang-orang yang membutuhkan sampai mereka sendiri jarang bahkan tidak pernah makan daging sedikitpun. Coba lihat kita Niki, apakah kita juga sering makan daging? Bukan berarti, Niki tidak boleh memberi daging, Niki harus punya dulu daging itu, dan satu hal lagi, tunggu Niki besar ya, agar paham apa makna dari Kurban itu sendiri,” jelas Bunda memberi pengertian.

 Niki malah bingung mendengar penjelasan Ayah dan Bunda. Memangnya, apa salah Niki ingin Kurban supaya bisa cerita dan punya pengalaman sama dengan teman-temannya. Niki masih cemberut. Tak ada jawaban dari Niki, Ayah Bunda pun tak berbicara lagi karena hendak mencuci piring.

 Suara takbir berkumandang terdengar sepanjang malam. Niki tak bisa tidur ditambah perasaan kesalnya semalam. Alhasil, Niki terlambat bangun, dan terburu-buru menuju masjid untuk melaksanakan Shalat Idul Adha. Imam sudah mulai mengangkat tangan untuk takbir, Niki cengengesan masuk shaf paling belakang yang untungnya sudah dijaga Bunda.

 Selesai Shalat Idul Adha, sepanjang perjalanan, Niki melihat hewan-hewan yang hendak dikurbankan itu digiring menuju tanah lapang. Niki ikut menyaksikan, terutama sapi yang berukuran besar yang ingin sekali Niki miliki dan Niki naiki tubuhnya. Menjelang siang, setelah persiapan menyembelih domba dan kambing, giliran sapi yang akan disembelih. Terlihat beberapa sapi memberontak, badannya besar, jadi harus digiring dan dijaga banyak orang.

 Niki berteriak, “Niki pengen sapi, suatu saat nanti salah satu sapi itu akan jadi milik Niki dan akan dikurbankan atas nama Niki!”

 ”Tapi kata Ibuku, sapi itu untuk atas nama tujuh orang Nik, mana bisa atas nama sendiri,” teman Niki yang ikut menonton di sebelah menyahuti sautan Niki.

 ”Hah, masa tujuh orang, satu orang juga bisa dong, keren gitu, bisa kurban satu sapi yang gagah perkasa, kenyang lagi, dagingnya enak!”

 Teman Niki tidak menyahutinya lagi, fokus dengan seksama melihat sapi yang sudah terbaring. Dengan mengucap bismillah, Bapak-Bapak mulai memutus urat nadi di leher sapi itu hingga mengucurkan darah. Niki berteriak ngilu, ternyata baru kali itu Niki melihat bagaimana proses penyembelihan sapi, belum lagi ketika dipotong-potong bagiannya hingga siap masak. Niki pergi berlari pulang ke rumah.

 Ayah Bunda benar, Niki belum cukup besar untuk memahami makna Kurban yang sebenarnya.


Sumber gambar: –

Bagaimana reaksi kamu?
+1
1
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

  • Dari Bulan Mei

    Nama Dari Bulan Mei tercetus dari kelahirannya di Bantul, Yogyakarta pada Bulan Mei tahun 2004 yang lalu. Hobinya membaca dan sedang belajar untuk berkarya melalui tulisan yang enak dibaca. Saat ini, tinggal di kota Cimahi dan menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Akun instagramnya bisa dilihat di @daribulanmei_

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *