Jika Itu Perihal Anakku, Kan Kulakukan
oleh Ilma Nur Asyiyah
Di sebuah bangunan sederhana yang beralaskan papan, rumah milik pasangan Pak Yono dan Bu Mila. Di sebuah desa kecil bernama Kampung Rejo. Mereka berdua adalah petani, menanam padi dan beberapa jenis sayuran di lahan yang tidak terlalu luas. Lahan itu menjadi sumber kehidupan bagi keluarga kecil di desa ini. Meskipun kehidupan mereka sederhana, Pak Yono dan Bu Mila memiliki tekad besar untuk anak-anak mereka.
Pak Yono hanya lulusan Sekolah Dasar, sementara Bu Mila hanya sampai Sekolah Menengah. Meskipun pendidikan mereka terbatas, tidak membuat keduanya memiliki pikiran yang terbatas juga. Keadaan mereka justru membuat kepala dan ibu rumah tangga ini sadar bahwa pendidikan adalah suatu hal yang penting bagi anak-anak mereka. Mereka memiliki tiga anak: Lina, Hari, dan Reni. Ketiga anak ini begitu menyukai akademik dan selalu mendapatkan nilai memuaskan di sekolahnya.
Setiap pagi, Pak Yono berangkat ke sawah untuk bertani. Ia bekerja begitu keras dalam membajak, menanam, dan merawat padi di bawah terik matahari. Sementara itu, Bu Mila mengurus rumah dan membantu di sawah. Usia Pak Yono tidak muda lagi. Bahkan berbagai keluhan rasa sakit sudah biasa ia tiba-tiba rasakan. Meski begitu, keduanya senantiasa bekerja keras untuk ketiga anaknya. Dan saat panen tiba, mereka berdua bekerja lebih keras lagi, memastikan semua hasil panen bisa terjual untuk mendapatkan uang.
Setiap kali Pak Yono melihat hasil panennya, ia selalu bersyukur dan berdoa supaya rezeki tersebut cukup untuk menunjang pendidikan anak-anaknya. Ia tahu, hanya dengan pendidikan yang baik anak-anaknya bisa keluar dari lingkaran kemiskinan dan meraih masa depan yang cerah dan lebih baik.
“Pak, uang hasil panen kali ini cukup untuk membayar biaya sekolah Lina,” kata Bu Mila suatu malam setelah menghitung hasil penjualan.
“Alhamdulillah, Bu. Bersyukur terus sama Allah. Anak-anak harus sekolah setinggi-tingginya. Jangan sampai mereka seperti kita yang hanya lulusan SD dan SMP,” jawab Pak Yono sambil tersenyum lelah namun bahagia.
“Iya, Pak. Harus yakin juga kalau niat kita baik, supaya anak-anak bisa jadi orang cerdas, Insyaallah dimudahkan tani kita, Pak,” jawab Bu Mila seraya tersenyum hangat.
Pak Yono dan Bu Mila sering kali harus menunda kebutuhan pribadi mereka. Padahal, jika saja Pak Yono dan Bu Mila tidak memikirkan tentang pendidikan anaknya, mungkin Pak Yono dan Bu Mila bisa membeli kebutuhan dan keinginannya. Namun, uang yang mereka dapatkan hampir seluruhnya dialokasikan untuk pendidikan anak-anak.
Pak Yono sering menceritakan kepada anak-anaknya tentang perjuangannya bersama Bu Mila supaya mereka mengerti betapa berharganya Pendidikan dan begitu kerasnya menjadi mereka. “Bapak dan Ibu ingin kalian punya masa depan yang lebih baik. Kami tidak ingin kalian merasakan kesulitan yang kami alami sekarang ini,” kata Pak Yono suatu malam saat mereka berkumpul di ruang tamu sederhana.
Anak-anak mereka selalu mendengarkan dengan penuh perhatian. Lina, yang paling tua, seringkali meneteskan air mata mendengar cerita ayahnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengecewakan orang tuanya. Hari dan Reni pun selalu berusaha keras di sekolah, ingin membuktikan bahwa usaha orang tua mereka selama ini tidak sia-sia.
Lina, anak sulung mereka, membuktikan tekadnya. Ia berhasil masuk universitas negeri di kota. Biaya kuliah dan biaya hidup di kota tidaklah murah, namun Pak Yono dan Bu Mila tak pernah mengeluh. Mereka mengirim uang setiap bulan dari hasil jerih payah mereka di sawah.
Hari, anak kedua mereka, juga mengikuti jejak kakaknya. Ia mendapatkan beasiswa di universitas yang sama. Namun, tetap saja biaya hidup dan kebutuhan lainnya harus ditanggung orang tuanya. Sehingga Pak Yono dan Bu Mila harus lebih keras mencari penghasilan.
Reni, anak bungsu mereka, masih bersekolah di SMA dengan nilai yang sangat baik. Ia bercita-cita menjadi seorang dokter, dan Pak Yono serta Bu Mila selalu mendukungnya meskipun mereka tahu itu akan membutuhkan biaya yang sangat besar.
Suatu hari, saat sedang bekerja di sawah, Pak Yono terjatuh dan harus dibawa ke puskesmas. Ternyata, ia terlalu lelah dan kurang istirahat. Bu Mila sangat khawatir, namun Pak Yono tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, Bu. Ini semua demi masa depan anak-anak kita.”
Setelah beberapa hari beristirahat, Pak Yono kembali ke sawah dengan semangat yang sama. Bu Mila terus mendukungnya, bekerja di samping suaminya dengan penuh dedikasi.
Tahun demi tahun berlalu, Lina lulus dengan predikat cum laude dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Hari juga lulus dengan hasil yang sangat memuaskan dan segera mendapatkan pekerjaan. Mereka berdua mulai membantu biaya pendidikan Reni, si anak bungsu guna meringankan beban orang tua mereka.
Pada hari wisuda Reni, Pak Yono dan Bu Mila datang ke kampus dengan perasaan bangga yang tak terhingga. Rina berhasil meraih gelar dokter, impiannya sejak duduk di bangku sekolah. Pak Yono dan Bu Mila meneteskan air mata bahagia, melihat anak-anak mereka berhasil meraih mimpi yang mereka perjuangkan dengan keras.
“Pak, Bu, terima kasih untuk semua pengorbanan kalian. Kami tidak akan pernah bisa membalas semua yang telah kalian lakukan,” kata Reni dengan suara penuh haru.
Pak Yono dan Bu Mila hanya tersenyum. “Kami hanya ingin kalian sukses dan bahagia. Itu sudah lebih dari cukup untuk kami,” jawab Pak Yono dengan suara bergetar.
Kini, meskipun sudah tua, Pak Yono dan Bu Rina hidup dengan tenang dan bahagia. Anak-anak mereka telah sukses dan selalu mengingat pengorbanan orang tua mereka. Kampung Rejo mengenal mereka sebagai contoh teladan, pasangan yang rela berkorban demi masa depan anak-anak mereka. Bahkan, memberikan teladan dalam meyakinkan para petani lain di kampungnya, bahwa anak petani bisa kuliah dan sukses dengan pendidikan.
Perjuangan Pak Yono dan Bu Mila mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah investasi terbesar yang bisa diberikan orang tua kepada anak-anak mereka, dan bahwa cinta serta pengorbanan orang tua adalah fondasi dari setiap kesuksesan. Meskipun banyak rintangan saat perjalanan, itulah prosesnya.
Orangtua bahkan rela mengerjakan semua hal, termasuk hal yang bukan fashion mereka. Untuk siapa mereka melakukan itu semua jika bukan untuk anak-anaknya.
Namun, kadang sebagai anak tidak jarang kita menuntut banyak hal pada mereka. Buruknya, kita merasa kalau mereka tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Padahal, keringat dan lelah mereka seharusnya membuat kita sadar betapa keras mereka berjuang untuk kita.
Mereka melakukan hal paling terbaik dengan versinya untuk kita. Sebagai anak sudah sepatutnya berterima kasih. Bukan sekedar kata-kata semata, melainkan dengan pembuktian bahwa kita dapat menjadi versi terbaik kita untuk dipersembahkan kepada orangtua yang senantiasa menjaga kita dengan berbagai pengawal mereka: keringat, lelah, serta rasa sakit, yang seringkali mereka sembunyikan demi anak-anaknya tetap bahagia dan merasa aman.
Namun, coba genggam kedua tangan mereka, seberapa keras telapak tangannya? Perhatikan ekspresi wajah mereka, betapa lelahnya mereka? Amati pula pola istirahat mereka, banyak yang tidak teratur, bukan?
Kita bahkan selalu ingin segera tertidur, katanya life balance. Kita ingin terburu-buru menutup buku tugas, katanya work balance. Lantas bagaimana dengan kedua orangtua kita? Bagaimana life balance dan work balance mereka?
Mereka rela melakukan segala hal demi anak-anaknya, demi pendidikan yang lebih baik, sebab semboyan mereka adalah, “Jika itu demi anakku, maka akan kulakukan.”
Dengan berusaha semaksimal yang kita bisa agar tidak mengecewakan orangtua, sudah lebih dari cukup untuk membalas jasa yang tak terhingga jumlahnya.
Sumber gambar: –