KARYA TULIS YANG TERINSPIRASI DARI FILM
“ JANGAN BUANG IBU ”
Judul Film: Jangan Buang Ibu
Pemeran Utama: Nirina Zubir
Jenis Karya: Cerpen
LAUTAN BERSAMA SANG PENCIPTA
Karya: Nur Aini Ramadhani
Nggak seru kalau setiap ada perkumpulan para ikan-ikan dan makhluk lainnya di air tak berdebat, dan air laut hanya menatap ocehan mereka tiada henti. Tapi bukan itu masalahnya, ada ikan yang bercak warna cokelat gelap dan kerap disapa dengan ikan Rougheye Rockfish. Salah satu induknya, yaitu kakek neneknya masih berenang mencari makan menyusuri perdebatan para ikan. “Tumben yaa…. kakek nenek itu nggak pernah ikutan diskusi sama kita? Padahal kan kita diskusi itu amat penting banget,” ujar salah satu ikan pelagis dengan nada mengomel. “Perdebatan apa sihh? Kalau nanti akan ada diprediksi kiamat akan datang? Atau salah satu kalian yang mulai diincar para manusia yang hobi memancing?” timpal lLautan mulai menengahi dengan deburan ombak yang menyapu lembut pasir putih sekitarnya.
“Mungkin mereka nggak takut akan hal itu… kan mereka itu kawanan ikan yang matinya bakalan lama, nggak kayak kamu yang matinya bakalan cepet kalau keluar dari air sebentar,” timpal salah satu ikan kakap dengan nada nyolotnya. “Sudah-sudah berhenti berdebat, lagian kalau mereka nggak mau ikutan berdiskusi apa perlu dikucilkan? Terutama jangan saling memandang remeh kelompok kawanan ikan lain yaa… ikan kakap, nggak baik itu,” ujar Lautan kini melerai pertikaian antara ikan kakap dan ikan pelagis. Laut hanya tersenyum akan tingkah laku para kawanan ikan yang terkadang tak akur satu sama lain.
Deburan ombak mulai melakukan tugasnya untuk pasang atau surut air lautnya, kegiatan rutinitasnya tiada henti. Sementara para kawanan kelompok ikan mulai asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Lautan sembari melakukan tugasnya, kini menatap Matahari yang mulai tergantikan oleh Bulan dengan wajah sedihnya. “Apa mereka bakalan bersedih kalau kehilangan kelompok kawanan ikan satu sama lain? Bagaimana dengan nasib kehidupan ini? Apa bakalan ada kehidupan setelah selanjutnya saat akan ada tragedi kiamat nanti” pikir Laut yang masih bersedih akan kawan-kawannya yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. “Itu sudah pasti tidak ada kehidupan selanjutnya Laut… kita diciptakan sama sang pencipta, tugas kita mungkin sudah selesai. Terkadang kita lupa siapa yang menciptakan kita, jadi kita nggak ada hak untuk menentang semua yang memang sudah ditakdirkan untuk kita semua,” timpal Matahari tiba-tiba menyaut pemikiran yang sedang memutar dipikiranku.
“Kenapa tidak, Matahari? Aku dan para penghuni kawanan ikan yang lain itu seperti indung mereka, dan aku nyaman dengan kehidupan saat ini. Mungkin yang sebelumnya sepi tanpa kehadiran mereka, dan kini sangat ramai membuat hari-hari aku tak bisa terdeskripsikan bagaimana kalau mereka tertawa atau berdebat satu sama lain,” ujar laut yang mulai terlena akan kehidupan yang sudah dijalaninya. “Bukan kamu aja Laut yang nyaman akan kehidupan ini… Semua manusia yang hidup di daratan juga sama kayak kamu, sampai karena terlalu nyamannya mereka lupa apa tujuan Sang Pencipta menciptakan kita. Kita ada di kehidupan ini bukan tanpa sebab Laut… Kita memang diciptakan juga atas kehendak dan kuasa-Nya Sang Pencipta, kamu jangan sampai terlena akan dunia yang bisa saja rusak atas kehendak-Nya. Dan mungkin tugas kamu sekarang seperti biasa, bertawakkal, dan menerima setiap keputusan untuk dunia ini ke depannya. Baiklah laut… Mungkin cukup sampai hari ini saja perbincangan kita hari ini, aku mau pamit dulu ya,” ujar Matahari yang kini akan tenggelam dan tugasnya akan beralih ke Bulan.
Kini Laut hanya terdiam termangu menatap langit-langit yang sudah mulai gelap digantikan oleh Bulan. Perkataan Matahari menyadarkan Laut bahwa semuanya ciptaan-Nya tidak ada yang kekal, dan semua yang diciptakan oleh Sang Pencipta akan rusak dengan waktu yang sudah ditentukan. Laut kini sadar, waktu ia hidup dari kesepian hingga punya keluarga yang sangat bahagia itu atas kehendaknya. Tidak ada kehidupan kalau tanpa campur tangan Sang Pencipta itu sendiri, dan semua yang hidup di dunia ini pasti diberikan tujuan mengapa diciptakan. Keterlenaan kehidupan Laut-lah yang membuat pikiran sedihnya membuncah, ia takut akan kehilangan segalanya… Padahal semua itu akan kembali kepada yang menciptakannya.
“Ibu Laut… Kenapa engkau bersedih? Apa karena perkataan Matahari?” Tanya Bulan yang mengusik kebingunganku akan perkataan Matahari tadi. “Iya Bulan, mungkin benar apa kata Matahari seharusnya aku harus menerima apa pun takdir yang ditakdirkan Sang Pencipta. Hari kiamat yang mungkin ditakuti para manusia dan kawanan ikan di laut, tetapi Matahari dengan perkataan nya menyadarkanku kalau takdir tidak akan bisa dirubah kapan tanggal mainnya. Kita semua hanya bisa menjalankan tugas tujuan kita diciptakan dengan beribadah kepada Sang Pencipta, sekaligus berdoa dengan tawakkal kepada-Nya,” ujar Laut kini mulai berfikir terbuka akan takdir Sang Pencipta.
Bulan hanya mengangguk tersenyum akan perkataan Ibu Laut, dalam hati Bulan berbisik bahwa Matahari juga pernah merasakan ketakutan layaknya Ibu Laut. Tetapi Matahari selalu diyakinkan oleh Bulan persis seperti perkataan Matahari akan ketakutannya. Bulan menyaksikan bagaimana Ibu Laut ketakutan akan anak-anaknya di laut saat hari kiamat akan terjadi, mungkin mereka akan musnah atau berpisah. Bulan juga sangat senang kalau Ibu Laut kini sudah mulai bijaksana akan tanggapan hari kiamat nanti, Bulan menjadi saksi teman mengobrol Ibu Laut saat masih sendirian sebelum ada sekelompok kawanan ikan yang selalu berada di dekat Ibu Laut. Bulan juga menjadi saksi antara perbincangan Matahari dengan awan dan pasir putih yang mulai gelisah akan hari kiamat nanti.