Lompat ke konten
Beranda » Blog » Sang Surya – Cerpen

Sang Surya – Cerpen

Sang Surya
Karya: ryfiina

Sejenak tubuh itu merasakan kehangatan, ketika semilir angin menerpa ke sela-sela helai rambut. Pria itu tengah berdiri di atas padang rumput yang hijau nan segar. Ia menoleh ke atas, tepat di bawah terik mentari yang justru tak menyilaukan mata, tetapi netranya berkaca-kaca. Bersama angin, seolah-olah ia dibawa kembali ke masa lampau ketika ia berjumpa dengan Sang Surya.

Perkenalkan, lelaki ini bernama Satria. Ia masih duduk di bangku SMA kelas dua. Satria merupakan pribadi yang suka sekali bersosialisasi dengan semua orang di sekolah. Selayaknya anak SMA pada umumnya, ia juga aktif mengikuti kegiatan sekolah seperti OSIS dan ekstrakurikuler. Saking banyaknya kenalan, di sudut sekolah mana pun pasti banyak yang menyapa Satria. Tepat pada suatu pagi di hari Senin, kelasnya kedatangan murid baru.

“Halo, teman-teman. Uh … Namaku Surya, salam kenal semuanya,” ucap seorang lelaki yang bernama Surya, ia merupakan murid baru yang pindah ke sekolahnya Satria karena alasan tertentu.

“Baik, Nak Surya, kamu boleh duduk di … Ah, di sebelahnya Satria, ya. Nggak apa-apa, ‘kan, Satria? Karena kursi sebelahmu kosong,” ujar sang wali kelas kepada Satria.

“Santai aja, pak!” Seru Satria. Ia senang karena mengetahui akan mendapatkan teman sebangku yang bisa diajak bicara di kelas

Surya hanya mengangguk, lalu berjalan menuju bangkunya Satria yang berada di baris paling dekat jendela. Bangku Satria ada di baris pertama, Surya pun tak perlu kesusahan mencarinya. Sang wali kelas langsung membuka pelajaran pada pagi hari itu.

***

Pelajaran terhenti sejenak ketika waktu istirahat tiba. Satria menoleh kepada Surya yang tengah merapikan alat tulisnya untuk memulai percakapan.

“Hey, Surya! Mau ke kantin, nggak?” Ajak Satria dengan wajah sumringah. Kantin memang selalu jadi tempat favoritnya.

“Uh … Tapi, aku bawa bekal dari mamaku,” jawab Surya sambil mengeluarkan bekal dari tasnya.

“Makan bekalnya di kantin aja! Sekalian kamu lihat-lihat sekolah baru kamu ini, gimana?” Satria tak secepat itu menyerah untuk mengajak Surya.

“Boleh, deh.” Surya mengiyakan dengan singkat.

Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin. Selama di perjalanan, Satria disapa oleh banyak orang. Surya tampak kewalahan karena banyak sekali wajah baru yang ikut menyapanya juga. Meski begitu, Surya menyimpulkan bahwa Satria adalah seseorang yang suka bergaul dengan siapa pun. Setelah tiba di kantin, Satria tampak akrab dengan ibu pemilik kantin, sampai Surya juga dikenalkan kepada beliau.

“Semoga kamu betah di sekolah ini, ya, nak,” ujar sang ibu kantin kepada Surya sembari tersenyum.

“Iya, makasih banyak, bu,” ucap Surya dengan senyuman. Matanya yang sipit membuatnya mirip seperti rubah ketika tersenyum.

“Ayo, duduk di meja sebelah sana. Mumpung kosong!” Satria berjalan duluan menghampiri meja yang ia tunjuk dengan membawa semangkuk mie ayam. Ia khawatir jika ada yang menempati meja tersebut.

Satria dan Surya menikmati makanan mereka selama istirahat berlangsung. Satria sempat kagum melihat bekalnya Surya yang rapi juga cantik ala-ala bento (sebutan untuk bekal di Jepang). Sembari makan, mereka mengobrol banyak hal. Awalnya, Surya memang masih agak canggung dengan Satria. Tetapi, lama kelamaan ia mulai terbawa arus dengan Satria. Dari interaksi ini, Satria juga mengetahui kalau Surya adalah tipe orang yang hanya akan bergaul dengan orang-orang tertentu. Bukan berarti Surya tak mau berkenalan dengan orang baru, justru Surya semakin terbuka jika ada yang mengajaknya berteman.

“Aku nggak masalah, sih, kalau nggak dapat teman baru di sini,” ucap Surya sebelum ia mendaratkan sendok berisi nasi ke mulutnya.

“Tapi, kamu juga nggak bakal nolak kalau ada yang ngajak temenan, ‘kan?” Tanya Satria dengan menopang dagu, pandangannya terarah kepada Surya.

“Maksudnya itu kamu? Karena kamu ngajak temenan duluan, masa aku tolak, sih?” Jawab Surya dengan mengerutkan keningnya.

“Ahahahaha! Iya juga, ya! Hahaha- uhuk uhuk!” Satria tersedak daging ayam yang tadi ia kunyah. Mengingatkan semua bahwa jangan tertawa nyaring ketika sedang makan.

Surya langsung memberi botol minumnya kepada Satria. Saat Satria tengah sibuk melegakan kerongkongannya, Surya diam-diam tertawa kecil. Dalam hati, Surya berbatin kalau Satria pasti akan menjadi teman yang dapat dipercaya.

***

Hari demi hari silih berganti, Satria dan Surya semakin akrab. Mereka berdua saling mengenal satu sama lain. Keduanya membicarakan banyak hal seperti hobi, lagu yang sering didengarkan, makanan dan minuman favorit, juga hal-hal acak lainnya. Walau terlihat dekat, tampaknya mereka masih mengunci rapat rahasia yang dipendam. Topik pembicaraan mereka beralih tentang ekstrakurikuler. Beberapa hari setelah pindah, Surya memang belum bergabung dengan ekstrakurikuler mana pun. Karena kurangnya informasi, Surya bertanya kepada Satria. Sama halnya dengan Surya, Satria juga ikut berpikir sambil menyentuh dagunya.

“Ikut ekskul PMR aja!” Seru seorang gadis berhijab putih tepat di samping bangku Satria dan Surya. Sepertinya gadis itu tak sengaja menguping pembicaraan kedua sohib ini.

“Boleh juga, tuh! PMR masih butuh orang, ya?” Ujar Satria yang tampak akrab dengan gadis berhijab tersebut.

“Lebih banyak lebih baik. Oh, iya, namaku Sofia. Kita sekelas, tapi aku belum kenalan sama kamu,” ucap Sofia kepada Surya.

“Aku Surya. Salam kenal, ya. Makasih udah ajak aku buat gabung, kayaknya aku bakal tertarik.” Selama berinteraksi dengan Satria, diketahui kalau Surya memiliki minat terhadap dunia kesehatan.

“Oke, deh! Nanti aku sampaikan ke pembinaku dahulu,” ujar Sofia senang tawarannya diterima langsung oleh Surya.

Sofia pergi meninggalkan bangku kedua teman lelakinya itu. Surya tampak masih memperhatikan Sofia yang saat ini sedang mengobrol dengan teman perempuannya. Satria malah cengar-cengir sambil memegangi kedua pipinya, lalu mendekat ke arah Surya, seolah-olah menggoda temannya yang masih memperhatikan Sofia. Surya langsung sadar dan menyikut pelan Satria agar menjauh darinya.

“Hm…?” Satria masih senyum-senyum tak jelas.

“Apaan, sih?” Surya mengerutkan dahinya terhadap tingkah laku temannya itu.

“Nggak ada apa-apa, kok, hehe!” Satria tetap cengengesan, sedang Surya hanya bisa menghela napas.

Beberapa hari kemudian setelah diajak bergabung ke ekstrakurikuler PMR, ternyata Surya masih diberikan tempat di sana. Kabar itu pun disambut baik oleh Sofia dan Satria.

***

Tak seperti biasanya, Satria masuk kelas dengan mimik wajah kesal. Saat menghampiri bangkunya, ia menaruh tasnya sedikit keras seperti membantingnya. Surya yang memang sudah ada kelas lebih awal, tampak kebingungan dengan tingkah laku Satria yang cukup berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Kamu kenapa? Datang ke kelas kayak orang lagi kesel gitu?” Tanya Surya berusaha memahami Satria.

“Hah? Eh, nggak, kok … Apa tadi aku kelihatan kayak orang lagi marah…?” Ucap Satria yang awalnya menyangkal, tiba-tiba memelankan suaranya.

“Kalau ada yang mau diceritain, cerita aja, ya?” Ujar Surya sambil menaruh satu telapak tangannya di pundak kiri Satria. Kelihatannya Satria mulai berkaca-kaca, tetapi ia tahan karena guru yang mengajar sudah tiba di kelas.

Satria berjanji akan bercerita kepada Surya di jam istirahat. Sehingga, pada saat jam istirahat, mereka langsung menuju kantin. Kali ini, mereka bukan hanya akan menghabiskan waktu istirahat dengan mengisi perut kosong, sebab ada luka batin yang harus dibenahi. Satria juga mengajak Sofia yang ternyata mereka berdua adalah saudara sepupu dari pihak ibu.

Di kantin, Satria membuka gembok rahasia di hidupnya yang belum pernah ia ceritakan kepada Surya. Meskipun Satria menampilkan diri sebagai pribadi yang ceria dan bersemangat ketika di sekolah, rupanya ia menyimpan luka besar yang diakibatkan dari situasi di rumahnya.

Satria merupakan anak dari keluarga berada. Meski begitu, kedua orang tua Satria sering berseteru sejak ia masih duduk di bangku SMP. Ternyata, sang ayah membagi perhatiannya kepada wanita lain. Ibunya dilanda amarah ketika menemukan ayahnya bermain serong di belakang. Sudah ada indikasi untuk berpisah, tapi mereka sengaja bertahan karena ada Satria yang masih di bawah umur. Mungkin pertikaian ini akan berakhir ketika Satria mulai berkuliah. Hanya saja, kehidupan setelah kebenaran pahit itu terungkap, ayahnya mulai berani main tangan. Setiap kali sang ibu mempertanyakan sang ayah yang pulang larut malam, ia pasti dikasari entah secara fisik atau verbal. Jika dirasa hal itu akan terjadi, Satria selalu dititipkan ke kerabat ibu, yaitu keluarganya Sofia.

Sebetulnya sang ayah masih menjalankan tanggung jawab menafkahi keluarganya, tetapi beliau semakin jarang pulang ke rumah. Puncaknya kemarin malam ketika ayahnya tiba-tiba pulang. Tapi, berharap apa dengan kedatangannya, yang ada kedua orang tua Satria semakin berseteru. Mereka saling adu mulut yang dihiasi lontaran kasar dari keduanya dengan suara yang keras. Satria mendengar semuanya, berusaha pura-pura tidur seolah tidak terjadi apa-apa. Keesokan paginya, orang tua Satria masih berseteru. Sang ayah mengakhiri adu mulut dengan mendaratkan tangan di pipi sang ibu, lalu pergi meninggalkan rumah dengan membanting pintu. Satria yang telat bertindak langsung menghampiri sang ibu. Melihat ibunya yang menangis, ia benar-benar marah kepada ayahnya. Itulah kenapa Satria datang ke sekolah dengan emosi yang semrawut.

Satria bercerita sambil berusaha membendung air mata sudah tak terelakkan lagi, ia benar-benar menumpahkan semua tekanannya bersama air mata. Surya belum merespons dengan lisan, ia hanya bisa memeluk Satria yang sesenggukan. Sofia hanya terdiam sendu dengan situasi yang penuh awan kelabu ini.

***

Setelah diterpa badai, Satria akhirnya kembali ke mode ceria di esok paginya. Ia menyapa Surya dan Sofia yang daritadi sedang mengobrol berdua. Sejak kemarin, Satria sadar akan satu hal bahwa baru kali ini ia benar-benar bisa bercerita panjang kepada orang lain. Sebelumnya ia hanya berbagi keluh kesahnya kepada Sofia, tapi gadis itu hitungannya masih bagian dari keluarganya. Surya menjadi orang pertama di luar keluarganya, yang mau dia bagi keluh kesahnya. Selama ini, Satria selalu menjadi sosok “mentari” bagi yang lain karena kepribadiannya yang sengaja ia tampilkan pada dunia. Tetapi, siapa yang akan menjadi “mentari” bagi Satria? Jawabannya tepat berada di hadapan Satria saat ini.

“Surya! Makasih, ya! Kutraktir kamu sepulang sekolah hari ini mau, ya?” Satria menawarkan dengan nada penuh semangat bagaikan apinya kembali membara.

“Wah, kalau mau ditraktir gas aja! Um … Tapi, kayaknya nggak sekarang, deh … Maaf, ya…” Ujar Surya berusaha menolak secara halus.

“Loh kenapa? Ada urusan kah?” Tanya Satria untuk memastikan keadaan temannya.

“Ya begitulah. Sekali lagi, maaf, ya,” ucap Surya karena tidak mau menyakiti perasaan Satria. Meski sedikit kecewa, Satria berusaha untuk memahaminya.

“Aku aja yang kamu traktir sekarang,” timpal Sofia tiba-tiba.

“Dih, nanti aja bareng sama Surya!” Balas Satria yang memang seperti ini interaksinya dengan Sofia, bagaikan kakak adik yang bertolak belakang.

Beberapa bulan berlalu, dalam rentang waktu tersebut, Surya masih terus menolak ajakan Satria dengan alasan yang tidak ia sebutkan secara detail. Namun, pada akhirnya Satria bisa memenuhi janjinya untuk mentraktir Surya, juga Sofia. Untuk merealisasikannya, Satria mengajak kedua temannya itu untuk sekalian jalan-jalan ke taman kota. Satria mengaku kalau ada tempat makan ala kafe dekat taman kota yang ingin sekali ia kunjungi. Sembari membuat memori, tentu saja ajakan tersebut diiyakan oleh Surya dan Sofia.

Berangkatlah mereka menuju taman kota. Agenda jalan-jalan ini memang dilakukan secara spontan. Tiba-tiba saja dari taman kota, mereka pergi ke mal untuk menonton di bioskop, lalu bermain di game center. Setelahnya, mereka mengunjungi kafe yang dimaksud oleh Satria. Rata-rata harga makanan dan minuman di kafe tersebut cukup terjangkau untuk anak sekolahan. Mereka mengabadikan momen di hari itu dengan berfoto random juga melakukan swafoto bertiga. Sepulang dari kafe, mereka mampir ke taman kota lagi. Di sana, mereka seolah-olah mengadakan sesi deeptalk. Pembahasannya seputar pendidikan serta karier yang ingin dibangun di masa depan.

“Aku pengen banget jadi perawat di panti asuhan,” terang Surya menyampaikan tujuannya untuk masa depan.

“Kalau aku rencananya mau ambil jurusan kedokteran di kampus impianku,” Sofia juga tidak mau kalah menyatakan ambisinya.

“Keren banget teman-temanku ini! Hm, kalau aku apa, ya…?” Sekarang Satria yang justru dilema dengan minatnya sendiri.

“Kamu buka usaha aja, mumpung punya banyak modal,” ujar Sofia membantu keresahan Satria mengenai masa depan.

“Iya juga, ya … Kira-kira usaha apa yang bisa selevel Elon Musk?” Kata Satria dengan ekspresi sok serius sambil memegangi dagu seolah-olah ucapannya bukan bercanda.

“Apaan, sih! Di mana-mana usaha itu dimulai dari nol, kocak!” Ujar Sofia sedikit kesal tapi sudah terbiasa dengan pernyataan asal bunyi milik sepupunya ini.

Satria malah tertawa terbahak-bahak, diikuti dengan Surya yang ikut tertawa melihat kelakuan Satria. Tanpa diketahui siapa pun, di lubuk hatinya Surya, ia ingin memori pada hari itu terus berlangsung lama tanpa ada sesuatu yang memisahkan mereka.

***

Hari ini tampak sedikit berbeda. Satria duduk sendirian di bangkunya selama pelajaran berlangsung. Diketahui bahwa Surya mengambil absen karena sakit. Memang sedikit tidak biasa karena Surya hampir tiap hari datang ke sekolah. Wajar namanya juga manusia, sewaktu-waktu akan merasa kurang sehat. Itulah yang awalnya dipikirkan oleh Satria.

Keesokan harinya, Surya masih belum terlihat batang hidungnya. Satria dan Sofia tetap berpikir positif, lagipula baru di hari kedua Surya tidak masuk sekolah. Mungkin karena sakitnya membutuhkan istirahat yang cukup. Satria mencoba untuk menanyakan kabar Surya lewat pesan teks, tapi sayangnya sejak hari kemarin Surya belum merespons apa-apa. Satria dan Sofia hanya bisa menunggu sampai hari berganti esok.

Nyatanya, Surya sama sekali tidak memberi timbal balik dari pesan terakhir Satria. Mencoba cara lain dengan meneleponnya pun tidak membuahkan hasil. Sampai ketika sang wali kelas masuk di jam pertama, rasanya waktu tiba-tiba terhenti sejenak. Sang wali kelas menyampaikan kabar bahwa Surya sedang dirawat inap di rumah sakit karena kondisi penyakit tertentu. Kabar itu cukup membuat Satria dan Sofia terkejut tidak main. Selama ini, Surya tak pernah bercerita kalau ia menderita suatu penyakit. Sang wali kelas meminta murid-muridnya untuk mendoakan yang terbaik terhadap kondisi Surya, lalu mengadakan perencanaan untuk menjenguk Surya di rumah sakit.

Ketika pertama kali menjenguk, Surya menyambut teman-temannya dengan senyum khas layaknya rubah, berusaha menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Satria dan Sofia berusaha tersenyum walaupun hati tengah dilanda awan mendung. Setidaknya mereka berdua bisa berjumpa lagi dengan Surya.

Hingga bulan berganti bulan, Surya masih belum bisa hadir di sekolah. Satria tetap bersikap layaknya anak ceria kepada teman-teman yang lain, meski nuansanya berbeda jika tidak ada kehadiran Surya. Sofia juga sibuk dengan dunianya, tapi ia sesekali merasa sedih karena sekarang ia jadi jarang bertemu dengan Surya di PMR.

Namun, agaknya hidup mereka perlahan berubah karena satu pesan teks yang dikirim oleh Surya kepada Satria dan Sofia.

“Makasih banyak buat semuanya. Aku senang bisa temenan sama kalian. Makasih udah jadi teman baikku.”

Tanpa pikir panjang, Sofia langsung menghubungi Satria yang ternyata lelaki itu sudah berada di depan pintu rumahnya. Mereka berdua langsung bergegas menuju rumah sakit tempat Surya dirawat. Sesampainya di sana, mereka langsung menghampiri resepsionis untuk menanyakan ketersediaan jadwal menjenguk Satria. Di sana, mereka juga melihat keluarganya Surya yang sempat mereka temui ketika awal menjenguk. Mereka tampak tergesa-gesa. Satria dan Sofia langsung mengikuti keluarga Surya tanpa menghiraukan sang resepsionis. Mereka akhirnya tahu kalau semuanya sudah terlambat.

“Hiks, hiks, hiks … Anakku! Hiks! Secepat itu kamu tinggalkan mama! Hiks, hiks…”

Satria dan Sofia mematung tak berkutik sedikit pun. Sofia langsung sesenggukan sambil menutup mulutnya sendiri agar tidak terlalu bersuara. Satria tidak langsung menangis, hanya saja tiba-tiba ia lupa caranya bernapas normal. Keadaan di rumah sakit pada saat itu sangat kelabu, bahkan mendekati gulita.

Prosesi pemakaman diadakan tidak lama semenjak kabar duka itu mencuat. Guru wali kelas dan teman-teman sekelasnya diundang untuk mengantar Surya menuju peristirahatan terakhirnya. Sofia lagi-lagi tak kuat membendung perasaan sendunya, sedangkan Satria sejak kemarin sudah retak topeng cerianya. Semuanya dengan penuh hormat memberi doa kepada almarhum juga sanak keluarga yang ditinggalkan. Seusai prosesi pemakaman, ibunya Surya menghampiri Satria dan Sofia. Beliau menyodorkan secarik surat yang memang ditulis oleh Surya sebelum tiba waktunya. Ibunya Surya sekali lagi berterima kasih kepada Satria dan Sofia karena sudah mau menjadi teman baiknya Surya.

***

Dirasa sudah punya waktu yang tepat, Satria dan Sofia mulai memberanikan diri membaca pesan terakhir dari Surya. Cukup berat bagi mereka untuk melalukan hal tersebut. Membaca paragraf awal rasanya seperti dibawa lagi ke masa duka itu. Kurang lebih isinya mengenai ucapan maaf dan terima kasih dari Surya. Sungguh, lelaki yang amat rendah hati. Tanpa sadar, Satria akhirnya meloloskan air mata yang tertahan sejak kepulangannya Satria. Tangisannya kali ini bisa terdengar lebih hancur, dibandingkan terakhir kali ia menangis. Sofia pun jadi ikut menangis tersedu-sedu.

Di akhir surat, Surya menitipkan Satria satu hal berupa impian yang ingin sekali ia wujudkan, yaitu menjadi perawat untuk anak-anak panti asuhan. Kalimat tersebut bukan sekadar titipan, melainkan sebuah warisan mimpi yang ia terima dari Surya. Sejak saat itu, fokus utama Satria bertambah. Selain menjalankan aktivitas sekolah seperti biasa, Satria juga meluangkan waktunya untuk mencari-cari informasi mengenai dunia kesehatan. Ia juga banyak bertanya ketika di kelas, dan terkadang ia belajar bersama Sofia di perpustakaan sekolah. Seiring berjalannya waktu, Satria merasa sudah menemukan minatnya, ia membulatkan tekad untuk menjadi bagian dari tenaga kesehatan sebagai kariernya di masa depan.

***

Begitulah kisah permulaannya. Kini, Satria sudah berdiri di atas mimpi dan doa-doa yang selama ini ia panjatkan. Satria yang termenung menikmati terik mentari, dihampiri oleh anak-anak kecil yang sedang bermain di sekitar padang rumput itu. Satria memang sedang menemani mereka bermain di luar panti.

“Bapak! Ayo main petak umpet!” Ujar salah satu anak dihiasi tawa kecilnya sambil memeluk kedua kaki Satria.

“Ayo-Ayo! Bapak yang jaga, ya!” Ujar anak-anak lain yang tiba-tiba menarik lengan Satria, bahkan ada yang sampai bergelayut di tubuhnya meminta gendong.

“Aduh…! Iya-iya, sabar, dong! Ya udah, bapak langsung hitung, nih! Satu … Dua … Tiga…” Ucap Satria sambil memejamkan kedua matanya. Anak-anak yang tadi mengerubungi Satria langsung berlari kocar-kacir tanpa arah meninggalkan Satria sambil tertawa riang, berusaha mencari tempat persembunyian.

Di hari yang cerah kala itu, Satria berbisik pada dirinya sendiri.

“Temanku, atau sahabatku. Sepertinya Surya bukan hanya namamu. Kamulah ‘Sang Surya’ yang pernah hadir di lembar kehidupanku. Meskipun suara ini tak tersampaikan padamu. Sampai nanti lagi, ya!”

TAMAT

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0
+1
1

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *