Lebih dari Teduh
Karya: Sachiemori
Tepat saat aku mengeluh tentang betapa menyengatnya matahari hari ini, sebuah tangan mendarat lembut di atas kepalaku, menghalangi cahaya yang menusuk mata, lengkap dengan senyuman manisnya yang selalu berhasil membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat.
“Kepanasan, ya? Kenapa kamu nunggu di sini?” tanya sosok tersebut sembari menuntunku menuju tempat teduh.
Aku patuh melangkah di sisinya. “Aku nunggu abang ojol, di aplikasi tertera 3 menit lagi sampai, tapi aku tunggu malah engga sampai-sampai juga, tuh!” Aku mendengus kesal.
“Kamu sendiri kenapa ada di sini, Raden?” lanjutku bertanya.
Raden terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat, ia cengengesan. “Mau ketemu orang cantik, hehehe.”
“Ohhh, mana orangnya? Belum sampai, ya?” Aku bertanya tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Raden tiba-tiba menyentil dahiku, membuatku meringis kesakitan dan menatapnya dengan tajam. “Aduh, apaan, sih?”
Raden tertawa lebar, lalu ia menatapku. “Lagian, sih, bikin gemes aja. Ini, kan, orangnya ada di depanku sekarang.”
Wajahku langsung terasa panas. Aku yakin, pipiku pasti sudah memerah. Lucunya, aku bisa saja menyalahkan teriknya matahari siang ini atas warna merah di wajahku, padahal pelakunya adalah lelaki di hadapanku ini.
“Terus ojolmu, gimana?” tanya Raden lagi, melirik ponselku.
“Cancel aja deh,” jawabku cepat, pura-pura sibuk menatap layar demi menyembunyikan degup jantung yang kian ugal-ugalan. “Mending kamu temenin aku jalan.”
Raden menaikkan sebelah alisnya, senyum jailnya kembali terbit. “Oh, berarti ojolnya kalah saing sama aku, ya? Malah aku yang diajak jalan, nih.”
“Terserah kamu mau anggapnya apa,” balasku sedatar mungkin, menolak menyerahkan kemenangan telak pada Raden. Aku tidak mau terlihat sepasrah itu setelah digoda olehnya. Tapi sial, Raden sepertinya bisa membaca kilat panik di mataku karena tawanya kembali pecah.
***
Akhirnya, di sinilah kami sekarang. Berjalan beriringan menyusuri deretan pertokoan outdoor yang menjual barang-barang jadul dan estetik. Matahari siang ini benar-benar sedang semangat-semangatnya bersinar, memayungi jalanan aspal dengan cahayanya yang benderang. Uniknya, setiap kali kami melangkah, Raden selalu memastikan dirinya berjalan di sisi luar yang terpapar terik, sementara aku dibiarkan berjalan santai di sisi koridor toko yang teduh. Perhatian kecil darinya itu sukses membuatku kesulitan menyembunyikan senyum.
Langkah kami terhenti di depan sebuah toko loak yang memajang aneka pernak-pernik antik di rak bagian depan. Cahaya mentari yang menerobos masuk dari celah atap koridor membuat barang-barang usang di sana—mulai dari kamera analog tua, jam saku, hingga pajangan kristal—tampak berkilau indah, seolah-olah mereka punya sihir tersendiri. Sama seperti hari biasa yang mendadak terasa berkilau karena kehadiran Raden di sampingku.
“Wah, lihat deh, ada kacamata hitam lucu!” seruku antusias sambil menunjuk sebuah kacamata hitam berbingkai bulat dengan gaya retro.
Sebelum aku sempat meraihnya, Raden sudah lebih dulu mengambil kacamata itu. Dia berbalik membelakangi matahari, menghadapkan tubuhnya sepenuhnya padaku untuk menghalangi silau yang sempat membuatku menyipitkan mata.
Namun, tepat sebelum kacamata itu terpasang, embusan angin siang menerbangkan beberapa helai anak rambut hingga menutupi wajahku. Raden urung memakaikannya. Dia diam sejenak menatapku lurus, lalu dengan gerakan pelan, jemarinya yang bebas terulur menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telingaku. Setelah wajahku bersih dari halangan, dia memakaikan kacamata retro tersebut dengan sangat hati-hati. Sentuhannya yang hangat menyisakan sengatan halus yang langsung mengacaukan irama pada jantungku. Aku mematung.
Raden mundur selangkah, menatapku dengan senyuman puas. “Nah, begini, kan, matanya jadi engga kesilauan.” Dia menjeda kalimatnya, mengunci pandanganku sepenuhnya. “Lagian, sayang kalau mata kamu harus merem-merem terus gara-gara matahari. Mendingan buat lihat aku aja, ya?”
Kalimat manisnya sukses membuatku mati kutu. Demi menyembunyikan senyum yang nyaris keduluan lolos, aku buru-buru memalingkan wajah. “Cukup, ya, Raden. Udah, ah, aku mau bayar dulu kacamatanya.”
“Eh, udah itu sama aku, aman aja,” potong Raden. Dia mengusap kepalaku dengan lembut sambil menyengir kecil.
Aku sempat mendelik tidak terima karena dia main bayar saja tanpa izin, tapi pada akhirnya, hanya kepasrahan yang tersisa di ujung lidahku. “Huft, okay, makasih banyak, ya.”
Raden terkekeh melihatku. “Sama-sama. Anggap aja ini investasi biar kamu betah jalan sama aku hari ini,” ucapnya santai, lalu menyunggingkan senyum jail yang menyebalkan. “Meski kamu yang minta ditemenin duluan, sih.”
Aku hanya mendengus kesal mendengar ledekannya. Namun, alih-alih membalas dengan kata-kata, jemariku yang tadinya meremas ujung kaus sendiri mendadak dilanda gejolak keberanian yang tidak biasa. Aku tidak mau terus-menerus kalah telak dan menjadi pihak yang selalu digoda. Aku ingin Raden tahu, kalau aku juga bisa membuat jantungnya berdegup gila.
Tanpa aba-aba, aku mengambil langkah maju hingga posisi kami sejajar, lalu langsung menyusupkan jemariku ke sela-sela jarinya, menggenggam tangan Raden dengan erat.
Gerakan Raden mendadak terkunci. Langkah kakinya yang baru saja mau terayun langsung terhenti seketika. Aku bisa melihatnya menoleh dengan mata membelalak bulat, menatapku dengan ekspresi yang mendadak gugup.
Merasa menang karena berhasil membuatnya terkesiap, aku mendongak dari balik kacamata hitam retroku, lalu tersenyum. “Katanya biar aku betah? Makanya gandeng, jangan ditinggal.”
Sepasang mata Raden berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya tawanya kembali pecah. Dia tidak melepas genggamanku, justru membalasnya dengan remasan yang jauh lebih hangat dan erat.
Kami kembali melangkah beriringan menyusuri deretan pertokoan itu. Matahari siang ini memang sedang terik-teriknya membakar aspal. Namun, sambil mengayunkan tangan kami yang saling bertautan, aku tahu kehangatan yang menjalar di hatiku saat ini rasanya jauh lebih menyenangkan daripada teduhnya koridor toko mana pun.