Lompat ke konten
Beranda » Blog » Cahaya – Cermin

Cahaya – Cermin

Cahaya
Karya: Nailah Amani Nuryaman

“Hahh.”

Hembusan napas tipis seorang wanita terdengar memecah keheningan. Pandangan wanita itu mengarah ke langit malam, menatap bulan sabit yang menerangi cakrawala yang gelap.

“Kenapa Sar? Masalah kerjaan lagi?” tanya seorang wanita di sebelahnya.

“Iya. Sudah hampir dua minggu gak dapet inspirasi. Targetku bulan ini harus selesai buat konsep dan alur keseluruhan. Kalau lewat dari itu bisa bisa aku nanti harus mengundur jadwal rilis selanjutnya,” keluh Sarah sambil memijat pelipisnya yang sudah mulai terasa pusing.

Sarah adalah seorang penulis novel. Ia sudah menulis lima buku. Dalam setahun ia menulis dua sampai empat buku. Target Sarah tahun depan ia merilis setidaknya tiga novel. Karena itu ia mulai mempersiapkannya dari sekarang.

“Gimana kalau ke rumah nenekmu Sar? Kamu sudah lama gak ketemu beliau kan? Kemarin nenekku juga nanyain kamu kapan mampir. Sudah empat tahun kamu tidak ke sana. Lumayan buat healing sekalian cari inspirasi,” usul Linda yang duduk di sebelahnya.

Nenek mereka berdua adalah tetangga di desa. Karena itu Linda tahu bahwa Sarah sudah lama tidak ke sana. Lagi pula mereka adalah teman masa kecil. Bahkan sudah seperti saudara.

“Hmm. Boleh juga. Di sana udaranya segar dan sejuk, suasananya juga damai. Baiklah. Aku akan pergi ke sana. Makasih atas sarannya ya.”

“Sama-sama. Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh ya! Hehe.”

“Iya-iya.”

***
“Nenek!”

“Cucu kesayanganku! Akhirnya kamu datang juga. Nenek kangen banget sama kamu,” seru sang nenek sembari memeluk dan mencium pipi Sarah.

“Ayok masuk. Nenek sudah buatkan makanan favorit kamu.” Tangan kiri nenek mengambil sebagian barang bawaan sarah, sementara tangan kanannya merangkul bahunya dengan lembut.

“Wahh. Makasih banyak Nek! Makin sayang deh sama Nenek,” ujarnya sambil mendusel-duselkan kepalanya ke bahu sang nenek.

Keduanya menikmati makan bersama dengan riang. Mereka saling bercerita tentang keadaan masing-masing akhir-akhir ini. Sarah banyak menceritakan tentang kehidupannya selama merantau di kota. Sedangkan nenek bercerita tentang beberapa perubahan di desa. Saking asyiknya mereka bercerita, senja pun datang.

Sarah duduk bersila di atas karpet ruang tamu. Wajahnya tampak sangat serius menatap laptop di hadapannya. Sesekali jemarinya mengetik cepat, menuangkan apa pun yang melintas di pikirannya.

Sayup-sayup terdengar suara berbincang di luar. Salah satunya adalah suara khas sang nenek yang sedang menyapu halaman, berbaur dengan suara melengking khas anak kecil.

“Nenek Ran, lihat apa yang baru saja Ibu belikan untukku!” seru anak itu riang seraya memamerkan sebuah boneka berambut pirang.

“Wahh. Ini boneka barbie yang kamu mau kemarin itu kan? Lucu sekali!”

“Hehe.” Tawa bangga anak itu terdengar. Mungkin bila di dalam komik, hidungnya sudah memanjang karna senang mendengar pujian pada boneka barunya.

“Nenek habis buat puding. Kamu mau?”

“Mauu!”

Tak lama, derap langkah kaki mereka terdengar memasuki rumah. Sarah mengalihkan pandangan dari laptop ke arah pintu. Ia melihat sang nenek menuntun seorang anak perempuan berusia sekitar sembilan tahun.
Anak itu awalnya berlarian memasuki rumah dengan ceria. Tetapi begitu menyadari ada orang lain di dalam rumah, ia langsung bersembunyi di belakang nenek Ran.

“Eh, anak siapa itu nek?” tanya Sarah.

“Eh iya, Sarah belum pernah ketemu ya. Ini Ayla, anak tetangga sebelah,” jawabnya sambil memegang pucuk kepala Ayla. Setelah itu tatapan nenek Ran beralih ke arah Ayla. “Ayla, kenalin ini cucu nenek. Namanya Sarah.”

Ayla mengintip Sarah dari belakang tubuh nenek Ran. Dilihat sekilas saja sudah bisa ditebak anak ini adalah anak yang pemalu.

“Nah, Ayla tunggu di sini ya sama Kak Sarah. Nenek akan ambilkan pudingnya.” Nenek membimbing Ayla agar duduk di sebelah Sarah. Dengan diam seribu bahasa, anak itu menurut sambil mendekap boneka barbie nya dengan erat.

Setelah nenek Ran berlalu ke dapur, mereka hanya saling lirik dengan canggung. Setelah beberapa saat, Sarah sebagai orang dewasa merasa lebih baik ia memulai pembicaraan duluan. “Jadi namamu Ayla ya? Nama yang cantik. Salam kenal ya!” ujar Sarah ramah.

Ayla mengangguk pelan. “Salam kenal kak,” jawabnya dengan suara kecil.

“Itu boneka kamu? Lucunyaa~” puji Sarah lagi.

Ujung telinga Ayla berkedut pelan. Wajahnya memerah. Ia terlihat sangat senang.

“Kakak juga ada loh boneka. Kayaknya udah agak usang sih. Soalnya udah lama banget. Mau liat?”

Seketika sepasang mata Ayla berbinar terang. “Mau!” serunya antusias.

Berawal dari obrolan boneka, kecanggungan itu menguap begitu saja. Mereka mendadak jadi sangat akrab.

***
Beberapa hari berlalu. Ayla mendatangi Sarah yang lagi-lagi sedang duduk di ruang tamu dengan wajah yang terlihat sangat frustasi. Wanita itu mengacak rambutnya, alisnya mengerut, mulutnya tak berhenti bergumam kalimat tak jelas.

“Kak Sarah sibuk?” tanya Ayla pelan.

“Hmm. Gak terlalu sih. Lagi pusing mikir alur aja. Kenapa Ay?”

“Nggak jadi deh. Kak Sarah keliatannya sibuk.”

“Ehh. Nggak kokk. Kakak masih ada waktu kalau untuk temenin Ayla.”

“Tapi…”

“Kalian main aja ke luar. Malem ini kan ada festival kembang api. Sarah, kamu juga sudah lama tidak lihat kan?” sela Nenek Ran yang tiba-tiba melintas.

“Ohh iya! Hari ini ya? Udah lama gak ke sini, jadi lupa kalau ada kembang api. Gimana Ay, mau ikut ke festival bareng?”

Ayla mengangguk dengan penuh semangat. Sejujurnya sejak awal ia memang ingin mengajak Sarah pergi ke festival tersebut.

Setelah mereka bersiap, keduanya pergi ke festival bersama.

Suasana ramai membuat mereka harus berpegangan tangan agar tidak berpisah. Dengan riang Ayla menarik tangan Sarah untuk membeli makanan dan juga bermain permainan yang ada di sana.

Syuuttt…

Duarr!

Suara kembang api pertama memecah langit. membuat orang-orang menoleh. Cahaya warna warni berbentuk bunga di langit itu membuat pandangan semua orang menatap dengan takjub.

Tak jauh berbeda dengan Sarah dan Ayla. Tapi rasa senang itu tak berlangsung lama karena area festival semakin ramai. Ditambah postur tubuh Ayla yang mungil membuatnya kesulitan melihat kembang api dengan jelas karena tertutupi tubuh orang dewasa di depannya.

Sarah yang menyadari hal itu teringat sesuatu. “Kakak ada tempat rahasia di dekat sini. Di sana kita bisa melihat kembang api lebih jelas tanpa terhalang. Mau ke sana?”

Ayla mengangguk cepat.

Mereka pun memisahkan diri dari kerumunan, menyusuri jalan setapak kecil di pinggir area festival. Suasana yang remang-remang dan rimbunnya pepohonan membuat Ayla mempererat cengkeramannya pada jemari Sarah.

Setelah melewati rute menanjak, mereka akhirnya sampai di dataran yang sedikit lebih tinggi. Di tempat ini mereka bisa melihat tempat festival dan juga kembang api dengan jelas. Meski tidak sedekat dan terlihat sebesar saat di tempat festival berlangsung, tetapi setidaknya mereka tidak terhalangi apapun saat melihat kembang api.

“Ayla, lihat itu juga,” bisik Sarah lembut.

Ia mengarahkan telunjuknya ke arah samping mereka yang penuh dengan semak serta pepohonan.

Ayla menoleh dengan kebingungan. Namum kemudian, ia membuka mulutnya lebar mengagumi pemandangan yang dilihatnya.

Satu demi satu, bintik cahaya kecil bermunculan dari balik dedaunan. Cahaya-cahaya redup yang indah itu mulai beterbangan, menerangi kegelapan di sekeliling mereka. Itu adalah kawanan kunang-kunang.

“Keren! Seperti sihir!” seru Ayla dengan mata berbinar-binar.

“Ya kan. Keren banget! Ini namanya kunang-kunang. Kakak juga sudah lama sekali tidak melihat ini. Kamu senang?”

“Senang banget! Makasih udah ajak aku ke sini Kak!”

Salah satu kunang-kunang hinggap di telunjuk Sarah. Dari perut kunang-kunang itu berkedip lembut cahaya kekuningan. Ia jadi teringat dengan kalimat yang sering di ucapkan dahulu ketika ingin bermain sulap. “Simsalabim!”

Kunang-kunang itu pun bersinar. “Wahhh. Kerennn!!” Ayla tertawa lepas.

Sarah yang menyaksikan tawa polos Ayla, ikut tertawa juga.

Sihir ya…

Seketika sesuatu terlintas di benaknya. ‘Hmm. Gimana kalau karya selanjutnya tentang seorang anak desa yang belajar ingin sihir, lalu latar ceritanya tentang bersekolah di sekolah sihir. Awalnya ia di remehkan karena berasal dari desa, tapi ternyata dia memiliki bakat sihir luar biasa. Memang klise, tapi jika di buat sangat menarik, mungkin saja akan banyak yang baca.’ Gumam Sarah. Jemarinya gatal ingin segera mengetik.

“Kak Sarah?” panggil Ayla membuyarkan lamunan Sarah.

“Eh, iya kenapa Ay?”

“Apa kakak akhirnya dapet ide untuk cerita Kakak?”

“Iya. Makasih ya Ay. Kalau kamu gak dateng ke rumah nenek, mungkin Kakak gak bakal ke sini. Berkat kamu akhirnya Kakak dapet ide.” Sarah mengusap kepala Ayla gemas.

Ayla tidak begitu paham, tetapi ia hanya mengangguk dan tertawa. Setelah itu mereka menyaksikan pemandangan dengan tenang.

“Kak Sarah,” panggil Ayla memecah keheningan di antara mereka.

“Hm? Kenapa?”

“Itu… mmm…” Ayla melirik Sarah malu-malu, jemari kecilnya saling bertautan gelisah di depan baju.

“Ayla gak punya teman akrab di sini. Kebanyakan anak-anak di sekitar rumah itu laki-laki. Jadi…”

Ayla menarik napas dalam-dalam. “Tahun depan Kakak mau ke sini bareng lagi gak sama Ayla?”

Sarah tersenyum hangat. “Tentu mau dong! Kakak bakal usahain tahun depan dan tahun depannya lagi, dan tahun-tahun selanjutnya datang ke sini bareng Ayla.”

“Janji?” Ayla menyodorkan jari kelingkingnya pada Sarah.

Sarah tersenyum. “Janji.” Sarah menautkan keingkingnya pada kelingking Ayla.

Setelah itu mereka tertawa bersama. Malam itu, hari penuh cahaya bagi mereka, sekaligus mulainya persahabatan yang erat. Meski perbedaan umur mereka cukup jauh sekali, tetapi itu tidak masalah bagi mereka. Karena waktu yang mereka habiskan bersama benar-benar seperti sahabat sejati.

TAMAT.

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *