LANGKAH-LANGKAH KECIL
Karya: Atqiya Najmi Nazihah
Cahaya matahari menyelinap pelan melalui kaca jendela. Cahaya nya yang terang membangunkan Lintang yang masih memeluk bantal. Lintang menggeliat pelan seolah enggan berpisah dengan tempat tidurnya, sebelum akhirnya ia membuka matanya untuk bangun.
Pagi-pagi sekali ia bangun untuk berangkat ke sekolah, karena hari ini bukanlah hari yang biasa bagi Lintang. Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh Lintang sekaligus diam-diam ditakutkan, karena hari ini adalah pengumuman hasil ujian. Dibalik selembar kertas yang akan dibagikan nanti, tersimpan jejak kerja keras, dan harapan yang dipelihara setiap siswa selama berhari-hari.
Kini Lintang tengah berada di meja makan bersama ayah dan ibu. Di meja makan Lintang nyaris tak menikmati sarapannya. Tangannya bergerak cepat menyuapkan nasi goreng buatan ibunya ke dalam mulut.
Suapan yang terburu-buru itu membuat beberapa bulir nasi jatuh ke atas meja.
“Pelan-pelan Lintang, nanti kamu tersedak. Nilainya nggak akan lari kok.” Ucap Ibu Lintang penuh perhatian.
Tak lama setelah ibunya berkata seperti itu, Lintang yang terus mengunyah tiba-tiba tersedak.
“Duhh uhuk-uhuk, minum mana minum.” Tangan Lintang yang sibuk mencari gelas.
“Tuh, kan, bener apa kata ibu. Makannya, telinganya di pasang baik-baik kalau ibu lagi ngomong.” Ujar ayah sambil terkekeh, membenarkan ucapan ibu.
“Iya, iya… Lintang ngaku salah, deh,” kata Lintang sambil terkekeh kecil. “Sekarang ayo, Yah, kita berangkat. Nanti keburu pengumuman.”
Ia menarik pelan lengan Ayah, menggoyang-goyangkannya dengan wajah penuh harap. Melihat tingkah putrinya, Ayah hanya menggeleng sambil tersenyum sebelum meraih kunci motor
***
Kini Lintang dan ayahnya melaju di atas motor, semilir angin pagi membelai lembut rambutnya, sementara jalanan mulai dipenuhi dengan orang-orang yang bergegas memulai hari.
Ayah memulai obrolan, “Semangat banget ya? awas aja kalau nanti nilainya jelek.” Godanya.
Lintang langsung memonyongkan bibir, “Yah, jangan gitu dong. Dari tadi Lintang udah deg-deg an.”
Ayah kembali tertawa. “Bercanda, Nak. Apa pun hasilnya nanti, Ayah tetap bangga. Yang penting kamu sudah berusaha sebaik mungkin.”
Ayah dengan anak tersebut terus saja berbincang hingga tak terasa, tiba-tiba mereka sudah sampai di gerbang sekolah Lintang.
Setibanya di gerbang sekolah, Lintang segera turun dari motor. Ia merapikan seragamnya, lalu mengalami tangan ayahnya.
“Terima kasih sudah mengantar Yah,” Ucapan Lintang dengan penuh lembut. “Doakan Lintang Yah, semoga nilainya bagus.”
Ayah mengusap pelan puncak putrinya sambil tersenyum bangga.
Pasti, Semoga Allah memberikan hasil terbaik untuk semua usaha yang sudah kamu lakukan. Apa pun nilainya nanti, ingat, Ayah dan Ibu tetap bangga sama Lintang.”
Lintang mengangguk pelan. Senyum kecil mengembang di wajahnya sebelum ia melangkah memasuki gerbang sekolah dengan hati yang dipenuhi harapan.
***
Saat hendak memasuki kelas, bel pertama bunyi, menandakan kelas hendak dimulai.
Ketika berjalan di koridor samar-samar Lintang melihat seseorang dari kejauhan.
“Lintang!” Panggil Raka dari kejauhan.
“Hai! ayo kita ke kelas bareng.” Ajak Lintang kepada Raka.
“Ayo, aku gugup banget semalem gak bisa tidur.”
Lintang terkekeh pelan, “Tenang aja Raka.”
Mereka pun kini sudah berada di dalam kelas, tak lama dari situ Bu Dini memasuki kelas sambil membawa setumpuk kertas.
“Anak-anak, hasil ujian ini bukan akhir dari perjalanan kalian. Ini hanya penunjuk arah agar kalian tahu langkah berikutnya.”
Suasana kelas seketika hening.
Satu per satu nama dipanggil.
“Lintang.”
Lintang berjalan ke depan dengan jantung berdegup kencang. Tangannya sedikit gemetar saat menerima lembar hasil ujian. Perlahan ia membukanya.
Senyumnya merekah.
Hampir semua nilainya berada di atas sembilan puluh.
“Selamat, Lintang. Pertahankan nilai dan semangat belajarmu,” ujar Bu Rani.
“Terima kasih, Bu.”
Saat kembali ke bangkunya, pandangannya tanpa sengaja bertemu dengan Raka yang baru saja menerima hasil ujiannya. Tidak ada senyum di wajah sahabatnya itu.
Bel istirahat berbunyi.
Raka duduk sendiri di bawah pohon yang ada di halaman sekolah. Lembar hasil ujian masih berada di tangannya.
Lintang menghampiri.
“Boleh aku duduk di sini?”
Raka mengangguk pelan.
“Gimana hasilnya?” tanya Lintang hati-hati.
Raka tersenyum tipis, meski matanya tampak berkaca-kaca.
“Matematika sama IPA-ku masih harus ditingkatkan. Aku kecewa.”
Lintang terdiam sejenak, lalu memandang dedaunan yang menari ditiup angin.
“Kamu tahu nggak, Rak? Orang sering melihat puncak gunung, tapi lupa bahwa untuk sampai ke sana kita harus melewati langkah-langkah kecil.”
Raka menoleh.
“Nilai hari ini bukan penentu siapa dirimu. Ini cuma satu langkah. Besok kita belajar bareng. Pelan-pelan saja.”
Raka menghela napas panjang, lalu tersenyum lebih tulus.
“Terima kasih. Aku kira semua orang bakal menertawakanku.”
“Mana mungkin. Bukankah teman itu saling menguatkan?”
Angin kembali berembus pelan. Cahaya matahari menyelinap di sela-sela ranting, jatuh membentuk bercak-bercak hangat di atas tanah.
Saat itu Lintang sadar, kemenangan bukan tentang menjadi yang paling tinggi, melainkan tentang tetap merangkul mereka yang sedang tertinggal.
Sebab hidup tidak selalu diukur dari seberapa cepat seseorang sampai di tujuan. Ada yang melangkah dengan langkah lebar, ada pula yang hanya mampu berjalan perlahan. Namun selama kaki masih mau bergerak dan hati belum menyerah, setiap langkah kecil akan selalu membawa seseorang lebih dekat pada impiannya.
“Untuk ujian selanjutnya, Ayo kita belajar bareng-bareng gimana? mau ngga?” Ajak Lintang sambil tersenyum.
“Ayo! aku mau banget! aku seneng ada yang nemenin belajar.”
Lintang pun mengangguk “Berarti mulai besok sepulang sekolah ya, kita sama-sama berjuang.”
Mereka berjalan pulang dengan langkah ringan. Hari itu Lintang belajar bahwa hidup tidak selalu dipenuhi dengan kemurungan. Akan ada hujan, kecewa, bahkan rasa takut. Namun, selama masih ada orang yang mau berbuat baik dan saling menguatkan, selalu ada alasan untuk percaya bahwa esok akan datang membawa harapan baru.