KARYA TULIS YANG TERINSPIRASI DARI LAGU
“THE ARCHER”

Judul Lagu: The Archer
Penyanyi: Taylor Swift
Jenis Karya: prosa reflektif / cerita pendek
ULURKAN TANGANMU UNTUKKU
[unwritten souls]
Aku manusia yang paling siap berperang. Berapa kali sang jenderal membutuhkanku, aku selalu hadir. Kapan pun, siapapun, dan dimanapun aku dibutuhkan, aku bersedia membantu. Aku siap kala mereka tiba-tiba memanggilku di tengah malam, kala bintang dan bulan masih menggantung indah di langit yang gulita, saat seharusnya aku memejamkan mata. Namun, siapa yang bisa mengulurkan tangannya saat aku memerlukannya?
Kala siang menyapa, aku sudah siap dengan alat berpanahku. Anak panah sudah siap aku lepaskan di busurku yang besarnya setara dengan kepalaku hingga pinggangku. Mataku memicing mencari mangsa seraya berwaspada, barangkali akulah mangsanya.
“Hati-hati!” kamu berseru seraya mengarahkan anak panah ke arah musuh. “Jangan melamun, kau sedang di medan perang!”
Ah, kalau aku melakukan suatu kesalahan, bisa saja tiba-tiba anak panah telah menghunus salah satu anggota tubuhku. Aku merasa tidak sedang melamun, tapi tetap saja aku tidak begitu yakin bahwa diriku ini mampu. Apa yang sebenarnya orang lihat dariku? Apa yang kamu percayai tentangku?
Nyaris aku mencaci maki karena bodohnya kamu maju terlebih dahulu sebelum aba-abaku. Tapi, kalau tidak ada yang seberani kamu, mungkin kita semua sudah mati di padang pasir tandus ini. Jadinya aku hanya bisa menggumamkan kata ‘terima kasih’ secara terburu-buru karena anak panah dari arah lawan tengah memburu. Kamu menarik tanganku untuk melindungiku. Ternyata kamu lah yang akan mengulurkan tangan.
“Jangan sampai latihanmu yang mengorbankan tidurmu itu sia-sia karena kamu mati di sini,” katamu dengan nada rendah. Matamu menatapku dalam. Ada kesan melankolis di sana. Sepertinya kamu sendiri dipukuli oleh rasa pilu saat mengucapkan kalimat itu. Kamu sebenarnya takut aku menyia-nyiakan latihan kerasku atau kehilangan separuh jiwamu yang tersimpan di dalam diriku?
Yang kusadari adalah bahwa ternyata kamu melihat semuanya tentangku. Aku yang mengorbankan waktu istirahatku untuk berlatih. Aku yang rela maju ketika yang lain tampak ragu. Atau mungkin saat jenderal memanggilku, aku pun langsung bergegas pergi tanpa perlu menghitung mundur. Kamu lihat itu semua dan kamu paham betul bahwa aku rela mengorbankan segalanya tanpa memikirkan diriku sendiri.
Pernah suatu ketika, saat aku terlalu lalai hingga sebuah pedang berhasil meninggalkan bekas di pipiku. Sejak saat itu, aku benci refleksiku di cermin. Namun, kamu selalu membawa cermin di saku kecilmu itu, memaksaku menerima bahwa luka itu juga bagian dari diriku sekarang. Kamu akui aku masih orang yang sama dan luka kecil itu tidak lantas mengubah diriku. Mulai dari detik itu, kamu yang beralih menjadi plester di atas lukaku.
Aku sudah hidup sebagai diriku seumur hidupku, tapi tidak sekali pun aku memercayainya. Entah bagaimana, aku lebih percaya kamu walaupun kebersamaan kita masih bisa dihitung jari. Kamu pergi ke mana pun, akan aku ekori. Kalau kita berakhir di jurang, sengaja maupun tidak disengaja, aku tidak akan menyalahkanmu ataupun menyalahkan diriku. Sederhananya, aku berinvestasi pada kepercayaanku pada dirimu.
Berapa banyak orang yang aku kenal menyerah atau gugur, ya? Aku pun tidak tahu jawabannya. Mereka bertolak belakang meninggalkanku di kala aku membutuhkan mereka. Memang tidak semua orang rela untuk setia, tapi ku rasa mungkin itulah bentuk lain dari keberanian juga. Keberanian untuk meninggalkan. Perlukah kita—apalagi kamu—merasa beruntung karena rasa itu nihil dalam diri kita? Mungkin iya. Kita bisa tinggal untuk satu sama lain. Kita bisa berperang bersama. Kamu dengan pedangmu dan aku dengan busur panahku. Kita bisa menjadi hebat dan terkenang dalam sejarah.
Ulurkan tanganmu. Ulurkan tanganmu untukku. Hanya itu pintaku. Jika sang jenderal meminta terlalu banyak atau aku dijatuhkan oleh musuhku yang sebelumnya adalah rekanku, bantu aku. Bantu aku bangkit kembali. Bimbing aku dengan cahayamu kala aku tersesat dalam gelap. Aku hanya punya kamu. Tanganku hanya ingin meraihmu.