Denayut Irama
Oleh: Aulia Nur Latifah
Kota itu tidak lahir dari tanah. Ia tersusun dari kalimat-kalimat yang diucapkan berulang hingga bunyinya mengeras dan menetap. Dari sanalah dinding-dinding bertumbuh, dari kebiasaan yang diulang tanpa jeda. Atap-atap menjulur dari anggukan yang tak pernah diminta alasan, sementara jalan-jalan memanjang mengikuti kehendak yang terus menarik langkah menuju arah yang sama. Tidak ada ingatan tentang perintah pertama. Yang tersisa hanya pola pelaksanaannya, diwariskan dari satu pagi ke pagi berikutnya, mengalir setenang napas yang tak pernah disadari keberadaannya.
Di pusat kota berdiri Ibu Batu. Tubuhnya menjulang dan menahan cahaya hingga berubah pucat di permukaannya. Dari dalam dirinya bergerak denyut halus yang merambat ke aspal, masuk ke pipa-pipa air, lalu menyusup ke tulang-tulang penduduk yang berbaring tanpa benar-benar tiba pada sunyi. Dari pusat itu irama kota dijaga agar tetap berlanjut.
Getaran tersebut lebih dahulu dikenali oleh tubuh daripada pikiran. Ia tidak meninggalkan luka, tetapi juga tidak memberi ruang untuk dilupakan. Dalam bahasa para penjaga kota, denyut itu disebut irama ketertiban, nadi yang memastikan segala sesuatu berada di tempatnya. Bagi banyak tubuh, ia hadir sebagai beban pagi yang menetap di dada, napas yang bergerak sesuai garis yang telah ditentukan, serta rasa asing yang tumbuh perlahan hingga raga terasa bukan lagi wilayah milik sendiri.
Ratna tumbuh di antara hitungan-hitungan itu. Belajar duduk pada waktu yang tepat, bergerak dalam ukuran yang diperbolehkan, dan berhenti sebelum isyarat benar-benar muncul. Tubuhnya cepat mengenali batas, bahkan ketika batas tersebut tidak pernah diucapkan. Tidak ada bentakan dan tidak ada ancaman. Yang ada hanyalah rasa aman yang muncul ketika segala sesuatu tetap berada dalam ukuran yang diharapkan.
Hingga suatu pagi langkahnya terhenti tanpa sebab yang bisa dijelaskan. Di kepalanya muncul denyut lain, bukan nyeri, melainkan tekanan yang bergerak perlahan, bekerja seperti hitungan yang menjaga jarak. Setiap kali ia mempercepat langkah, memperlambatnya, atau menggesernya sedikit dari jalur umum, napasnya memendek dan dadanya mengeras. Ruang di sekelilingnya menyusut. Bukan karena arah yang salah, melainkan karena tubuhnya berada di luar ukuran yang disukai kota.
Sejak hari itu Ratna memahami satu hal. Kota menyukai mereka yang mudah dibentuk, yang jejaknya cepat lenyap dari permukaan apa pun. Ibu Batu justru paling terasa ketika ia berusaha tidak memikirkannya. Bangunan itu tidak memanggil dan tidak bersuara, tetapi kehadirannya melekat pada hari-hari Ratna, mengikuti dari belakang tanpa jarak. Pada jam-jam tertentu, cahaya di punggungnya memucat dan bersamaan dengan itu tekanan di kepala Ratna menguat, menjalar ke tengkuk, menahan kata-kata agar kembali tenggelam sebelum sempat menjadi wujud.
Di depan etalase kaca, Ratna melihat dirinya terbagi. Satu sisi rapi, tenang, mudah dikenali oleh mata kota. Sisi lain bergerak tanpa kepastian, menyimpan gelisah yang terus ditekan agar tidak keluar dari bingkai. Denyut di kepalanya bergetar lebih cepat, mengingatkan bahwa tubuhnya bukan sepenuhnya wilayah pribadi, melainkan bagian dari rancangan yang harus dijaga keseimbangannya. Ketertiban yang dahulu terasa wajar kini tampil sebagai pelajaran lama yang dihafalkan terlalu lama tanpa pernah disentuh oleh pertanyaan.
Malam datang tanpa penanda. Lampu-lampu kota menyala hampir bersamaan, mengikuti kesepakatan yang tak pernah dibahas. Dari balik jendela, Ratna memandang pusat kota yang berkilau pucat. Ibu Batu tetap diam, tapi getarannya terasa lebih dekat, lebih padat. Kali ini Ratna tidak menunduk. Ia membiarkan tekanan itu bergerak di tulang dan napasnya hingga menjadi jelas bahwa irama tersebut tidak berasal dari dalam dirinya.
Malam itu ia tidak tidur. Denyut di kepalanya berdetak dengan ritme yang tak cocok dengan jam-jam kota, bekerja bukan untuk mengingatkan, melainkan memisahkan. Bayangannya di dinding bergerak lebih dahulu daripada tubuhnya, condong dan ragu, menimbang pertanyaan yang tak pernah diajarkan dalam bahasa kota, tentang keberadaan dan kelanjutan.
“Jangan,” bisiknya pelan. Suaranya jatuh ringan dan tidak cukup kuat untuk berubah menjadi perintah.
Ketika kota terlelap dalam keteraturannya, sesuatu di dalam dada Ratna bergeser. Bukan luka dan bukan pula retakan, melainkan celah yang telah lama menunggu pengakuan. Dari sana keluar napas yang berbeda, kasar dan terlalu hidup untuk patuh pada irama yang biasa. Tubuhnya bergetar seperti benda yang terlalu lama menerima panas hingga lupa pada bentuk awalnya.
Di tengah ruang yang ia sebut kamar, cahaya lampu membelah udara menjadi dua pantulan. Yang satu berdiri tegak dan tenang, terlatih untuk bertahan. Yang lain bergerak tanpa kerapian, matanya menyimpan sesuatu yang belum memiliki nama.
“Kau siapa?” tanya Ratna.
“Aku yang kau simpan,” jawabnya tanpa suara. “Agar semuanya tetap berjalan.”
Dari balik dinding, denyut Ibu Batu bergerak lambat dan berat, menuntut kepastian dari hitungan lama yang tak pernah digugat.
“Kembali,” kata gema yang tak memiliki wajah. “Keseimbangan harus dijaga.”
Untuk sesaat Ratna hampir menurut. Namun, sosok itu melangkah lebih dulu, menembus pintu tanpa membukanya, meninggalkan hawa dingin yang menetap di kulit.
“Aku akan berjalan,” katanya, “meski jalurnya belum pernah disediakan.”
Ratna tidak berteriak. Yang tertinggal bukan kehampaan, melainkan ruang yang lapang dan asing. Sunyi hadir sebagai kelegaan, napas yang akhirnya bergerak tanpa tekanan.
Sesudah pergeseran itu, kota tidak melangkah ke depan. Ia mengulang dirinya dengan selisih yang nyaris tak terbaca. Cahaya jatuh terlalu cepat di beberapa sudut, lalu tertahan terlalu lama di permukaan lain. Waktu tidak bergerak maju; ia menumpuk, menetap seperti debu yang lupa disingkirkan. Ratna merasakannya bukan sebagai rentang, melainkan sebagai berat yang berpindah dari satu sendi ke sendi lain tanpa aba-aba.
Langkah-langkah tidak lagi tiba bersamaan. Ada jeda tipis antara tumit dan tanah, ada napas yang berhenti di tengah jalan. Kota tidak memberi tanda. Ia hanya memadatkan ruang di sekitar tubuh, menggeser jarak dengan ketelitian yang nyaris lembut, berusaha mengembalikan sesuatu ke ukuran lama tanpa perlu menyebutkannya.
Lorong-lorong menyimpan gema yang enggan pergi. Suara melekat di dinding lebih lama dari maknanya, lalu luruh dengan kecepatan yang tak seragam. Kalimat-kalimat kehilangan ujungnya. Beberapa tubuh berhenti di tengah gerak karena hitungan di kepala mereka tidak lagi menemukan pasangannya. Tidak ada yang menyebutkan apa pun. Kota selalu lebih percaya pada pengulangan daripada pengakuan.
Pada satu titik yang tak memiliki nama, Ratna berdiri di batas lapang yang biasa dilewati tanpa disadari. Dari sana, Ibu Batu tampak sama, utuh dan tegak, tidak pernah belajar arti perubahan. Namun denyut yang mengalir dari tubuhnya menyimpan sela kecil, tarikan napas yang tidak dilepaskan. Ratna menekan dadanya, mencoba menyesuaikan irama, tetapi tubuhnya menolak untuk menyatu sepenuhnya.
Sebuah suara melintas, terlalu tipis untuk menjadi panggilan dan terlalu jelas untuk diabaikan. Ratna menoleh, tetapi yang tersisa hanyalah arah yang cepat kehilangan bentuk. Meski begitu, ruang kecil tertinggal dan tidak segera tertutup, sebuah kemungkinan yang dibiarkan menggantung.
Ada jam-jam ketika kota terdengar bergeser tanpa bergerak. Berat berpindah dari satu waktu ke waktu lain tanpa melewati detik. Cahaya bergetar di permukaan lampu, ragu antara padam dan bertahan. Penunjuk waktu melompat tanpa pola yang dapat dihafalkan. Segalanya tampak sama, tapi tidak lagi selaras bagi tubuh yang telah belajar membaca sela.
Di hadapan bayangannya, Ratna berdiri diam. Pantulan itu tidak selalu setia. Kadang ia tertinggal setengah gerak, kadang mendahului tanpa isyarat. Ada kalanya ia hanya menatap balik, menunggu sesuatu yang tak pernah dijanjikan.
“Kau belum kembali,” ucap Ratna, bukan sebagai permintaan, melainkan sebagai penanda bahwa jarak masih ada.
Udara bergetar ringan. Tidak menekan dan tidak memerintah. Ia hanya membuka kemungkinan.
Dari pusat kota, denyut Ibu Batu turun sekali, berat, lalu terpecah sebelum mencapai hitungan berikutnya. Jalan-jalan tetap memanjang, dinding tetap berdiri, atap-atap masih menaungi. Namun di sela-selanya, waktu-waktu kecil muncul tanpa bisa dikunci, jeda di antara langkah, diam yang tak segera diisi, napas yang dibiarkan berhenti sedikit lebih lama dari izin kota.
Ratna melintasi pusat itu tanpa menurunkan pandang. Ia tidak menantang dan tidak pula sepenuhnya menyesuaikan diri. Di dalam tubuhnya, sebuah irama bergerak tanpa kebutuhan akan hitungan. Dan kota, untuk pertama kalinya, tidak tahu apakah waktu itu harus diteruskan atau dibiarkan berlalu tanpa dicatat.