Untuk Diriku Yang Hampir Menyerah
Karya : Riffa Awaliya Ramadhani
Hari ini, untuk pertama kalinya aku merasa bahwa kehidupanku di perkuliahan ini tidaklah berguna. Rasanya aku ingin berhenti! Bukan hanya berhenti kuliah, tapi berhenti dari semua kegiatan yang semakin hari semakin kurasa tidak ada artinya. Organisasi, jadwal mengajar les, tugas, semuanya terasa seperti hanyalah rutinitas yang semakin hari malah semakin… menumpuk.
Aku terdiam merenung di atas kasur-tempat favoritku. Tanganku sibuk memainkan laptop-entah untuk apa. Mungkin hanya kujadikan sebagai pelarian di tengah pikiranku yang tengah kacau.
Lalu, seolah ada yang berbisik di telingaku. Kakiku melangkah menuju laci, tempat dimana aku menyimpan berbagai catatan diary-ku di masa lalu. Lucu sekali diriku dahulu-selalu menuliskan berbagai kegiatan yang sudah kulakukan di buku diary-ku ini, entah itu senang, sedih, ataupun kesal. Semuanya tertulis rapi di buku-buku ini, seolah aku ingin dunia tahu apa yang kurasakan saat itu. Membacanya sukses membuat senyum di bibirku terbit.
Namun, tanganku terhenti ketika membuka halaman dengan judul “Ini Impianku, Mana Impianmu?” . Kata-kata di dalam halaman itu mampu membuatku berhenti bernapas untuk sejenak. Di bawah judul itu, aku hanya menuliskan 1 kalimat yang penuh dengan arti.
“Aku ingin menjadi seseorang yang bermanfaat. Yang keberadaannya bisa membantu meringankan beban orang lain, dan membuat orang tuaku berkata ‘anak cantik nan baik hati itu, anakku’”
Tanganku gemetar membaca kalimat itu. Kalimat singkat yang menjadi impian terbesarku dahulu. Bukan tentang menjadi hebat dengan memiliki prestasi yang tinggi, atau menjadi yang paling unggul diantara semuanya. Tapi cukup satu.. aku ingin diriku bermanfaat. Dan membuat orang tuaku tersenyum bangga akan hal itu.
Aku merasakan tamparan terhadap diriku, seolah aku mendapatkan surat pengingat dari diriku sendiri-dimana saat itu diriku masih memiliki semangat yang tinggi dan tak kenal rasa lelah. Dan akhirnya, di malam itu, di malam yang sunyi dan remang, aku menemukan kembali bagian dari diriku yang sempat hilang.
Aku pun menutup buku diary itu dengan perlahan-khawatir akan merusak setiap momen yang tertulis di dalam buku itu. Saat ini dadaku sesak merasakan sesuatu yang meledak, bukan rasa marah, bukan juga rasa sedih. Akan tetapi rasa bersalah.
Bagaimana bisa aku berpikir ingin berhenti dan menyerah, padahal aku memiliki impian dan yakin bahwa diri ini bisa menjadi sosok yang bermanfaat untuk orang lain? Bahwa sesungguhnya langkah kecil ini begitu berarti?
Pada akhirnya air mataku pun terjatuh juga. Beribu penyesalan timbul di dalam hatiku, mengapa aku bisa melupakan impian kecilku itu? Dan melupakan setiap perjuangan, setiap langkah yang sudah kulalui saat ini? Padahal ini semua adalah do’a-do’a yang senantiasa kupanjatkan sejak dahulu.
Maafkan aku, diriku…
Maaf karena telah lupa dan meragukan jalan yang sudah kujalani hingga sejauh ini. Maaf karena sempat berpikir ingin berhenti, hanya karena rasa lelah di dalam diriku.
Padahal mungkin… ada orang yang diam-diam merasa terbantu dengan keberadaan diriku. Anak-anak yang belajar denganku. Teman-temanku. Atau bahkan kedua orangku yang tidak banyak bicara, namun diam diam merasa bangga.
Karena malam ini, akhirnya dengan keyakinan penuh dan hati yang masih rapuh namun perlahan menguat, aku memahami satu hal bahwa :
Aku tidak boleh berhenti.