Lompat ke konten
Beranda » Blog » Jalan Mimpi – Cerpen

Jalan Mimpi – Cerpen

Jalan Mimpi
Karya: Ismi Aidhiah

 Alishba mengurung diri di dalam kamarnya. Dia tengah merenung. Mimpinya untuk menjadi seorang model harus kandas karena satu alasan.

 “Maaf, Mbak. Tinggi minimal model yang kami perlukan harus mencapai 165 cm. Jadi, sekali lagi mohon maaf, Mbak tidak bisa bergabung di sini,” ujar pegawai kepada Alishba.

 “Apakah tidak dapat dipertimbangkan lagi?”

 “Mohon maaf. Ini sudah kebijakan. Kami harap Mbak mengerti.”

 Kenapa harus pendek? Alishba mengutuk dirinya. Bagaimana mungkin dia dapat menjadi seorang model dengan tinggi badan yang hanya 150 cm?

 Usianya genap 20 tahun. Tidak ada harapan lagi untuk bertambah tinggi. Sekuat apa pun dia mencoba, hasilnya akan sia-sia.

 Saat ini, Alishba tengah menempuh pendidikan di salah satu kampus yang ada di Bandung. Selama dua semester kemarin, dia terus berusaha untuk meniti karier di bidang modeling. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil.

 Alishba membutuhkan pekerjaan. Dia tidak mau terus bergantung pada orang tua. Makin dewasa, makin terbukalah pikirannya.

 Gadis itu masih melamun. Hingga akhirnya, terdengar suara ketukan dan salam dari arah pintu. Alishba membiarkan orang tersebut masuk dan duduk di sampingnya.

 “Kenapa nggak masuk kuliah?” tanyanya.

 Alishba tidak menjawab.

 “Sabar, ya, Al. Aku ngerti apa yang kamu rasain. Tapi, tolong jangan gini terus. Kamu harus bangkit!”

 “Ngerti? Kamu nggak akan pernah ngerti, Da. Ini masalah aku. Gimana caranya kamu akan ngerti kalo nggak pernah ngerasain?”

 Saida bingung harus mengatakan apa.

 “Kamu mah enak cuma bilang sabar, sabar, dan sabar. Coba kamu ada di posisi aku. Sabar itu nggak mudah!”

 Saida masih diam.

 “Terus sekarang mau apa? Pamerin karier model kamu yang makin cemerlang? Enak, ya, udah jadi orang sukses. Nggak perlu lagi pusing mikirin hidup.”

 “Aku udah berhenti jadi model, Al.”

 Perkataan Saida membuat Alishba terkejut. Apakah sahabatnya itu sudah gila? Dia melepaskan pekerjaannya begitu saja?

 “Aku mati-matian ngejar karier ini sedangkan kamu ngelepasinnya gitu aja? Kamu gila? Kamu nggak bersyukur udah dikasih rezeki seluas itu sama Allah?”

 Saida menunduk. Matanya berkaca-kaca. Ada rasa sakit yang menyelinap ke dalam dadanya.

 Alishba menatap perempuan di sampingnya. Dia merasa bersalah. Apakah perkataannya telah melukai hati Saida?

 “Maaf. Aku nggak bermaksud ngebuat kamu sedih.”

 “Seharusnya aku nggak ambil jalan ini, Al.”

 “Kenapa?”

 “Aku malu, Al,” ucap Saida. “Aku malu sama Allah!” lanjutnya.

 “Malu kenapa?”

 “Aku udah meninggalkan akhirat demi mengejar dunia yang fana.”

 Sejak menjadi model, Saida terlibat dalam banyak pemotretan. Dia pun sering kali terlambat melaksanakan salat. Terlebih lagi, kebiasaannya membaca Al-Qur’an pun turut pudar. Bahkan, Saida juga telah ingkar terhadap perintah Allah.

 “Di dalam QS. An-Nur ayat 31 Allah nyuruh kita untuk melabuhkan kain kerudung hingga menutupi dada, tapi aku melanggarnya, Al. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Sampai akhirnya, kemarin aku dipaksa untuk melepas hijab. Katanya aku harus profesional.”

 Alishba kembali terkejut. Rupanya dunia yang dia impikan sungguh kejam. Bahkan, mampu merenggut jati dirinya sendiri.

 “Terus kamu turutin permintaan itu?”

 “Alhamdulillah Allah masih sayang sama aku, Al. Allah udah beri aku keberanian untuk bicara. Aku tolak mentah-mentah permintaan itu. Aku nggak mau menjual agama hanya untuk mencari keuntungan dunia.”

 “Kontraknya gimana? Kamu pernah bilang kalo itu dilanggar ada risiko berat yang harus ditanggung.”

 “Aku masih bisa lanjut, tapi ada denda yang harus dibayar dan itu nggak sedikit. Akhirnya, aku mutusin untuk berhenti, walaupun risikonya karier aku hancur dan gaji terakhir nggak turun. Aku mau kembali ke jalan-Nya.”

 Saida tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Jika bukan sekarang, kapan lagi? Sudah waktunya dia kembali mengejar rida ilahi.

 Alishba terharu mendengar penuturan Saida. Gadis itu tidak pernah menyangka jika semuanya akan seperti ini. Dia pun memeluk sahabatnya.

 “Maaf aku egois, Da. Aku selalu aja sibuk sama urusanku sendiri. Aku sering cerita sama kamu, tapi aku nggak pernah mau dengerin kamu cerita. Aku tahu itu adalah pilihan yang sangat berat. Tapi, kamu hebat. Bahkan, lebih kuat dari apa yang kamu kira. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik.”

 “Aamiin. Makasih banyak, Al. Kamu adalah sahabat terbaik aku,” balasnya seraya mendekap Alishba. Mereka pun saling menguatkan satu sama lain. Penuh nasihat, walau hanya sesaat.

 Allah adalah sebaik-baik penentu. Alishba sekarang yakin bahwa ini adalah jalan terbaik untuknya. Dia memang tidak berhasil mewujudkan impian. Namun, hijrahnya mampu bertahan dan menuai indahnya iman.

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
3
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

  • Gadis penyuka novel islami ini memulai kariernya di dunia kepenulisan pada tahun 2021. Harapan terbesarnya adalah menjadi seorang penulis muslimah. Dakwahnya dalam menyebarkan kebaikan melalui tulisan bisa dilihat di akun Instagram @ismiaidhiah. Karya-karyanya juga dapat dijumpai di Wattpad @ismiaidhiah.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *