Lompat ke konten
Beranda » Blog » Antara Jarak dan Pilihan – Cerpen

Antara Jarak dan Pilihan – Cerpen

Antara Jarak dan Pilihan
Karya: Nur Aini

 Apakah pilihan yang kini ku genggam seerat-eratnya tak membuatku berfokus pada kebahagiaan? Jarak tak menjadi akhir dari segalanya, tetapi apa kita harus menyerah begitu saja akan takdir yang nantinya akan menentukan segalanya? Rasanya otak ini tak bisa menampung pertanyaan yang begitu membebankan untuk dipikirkan sedemikian rupa, mungkin aku butuh memberi waktu untuk tubuh ini bersenang-senang hari ini. Ternyata pilihan ini memporak-porandakan kehidupanku, dia yang kini menjadi pilihan sekaligus jarak membuat diri ini tak percaya apakah aku mampu untuk tetap bertahan dalam pilihan ini?

 Ternyata pilihan ini tak di dukung oleh kedua orang tuaku, bahkan rasanya pilihan untuk memilih dia menjadi tempat labuhan kapalku menjadi begitu berat. Aku rasa itu hanyalah opini mereka yang belum mengenal sosok dia, toh itu tidak akan membuatku untuk menyerah begitu saja. Terkadang juga jarak yang membuatku sedih akan pilihan ini, tetapi pikiran ini mampu memberikan energi positif bahwa tak perlu risau akan jarak dan buktikan bahwa kau dan dia mampu menjalani hubungan ini. Kehadirannya mampu membuat diri ini memahami kalau mengenalnya tiada penyesalan didalamnya, dan mampu menjadi support system sekaligus motivasi baru bagiku.

 Tetapi pilihan yang dimaksud disini berpacu pada meningkatnya jenjang Pendidikan baru dalam kehidupanku, ya siapa sangka bandung ini menjadi saksi bisu dalam perjuangan baru yang berliku. Kampus yang menjadi pilihanku yaitu Universitas Padjadjaran dengan jurusan Bahasa dan sastra Indonesia, tetapi apakah kalian mengira bahwa ini pilihan kedua orang tua? Disini pilihanku dipertaruhkan, antara mengikuti pilihan kedua orang tua atau memilih pilihan sendiri.

 Takdir yang saat tiga tahun ini membawaku ke kota bandung untuk mengadu nasib, terkadang jarak ini membuatku terbiasa untuk tak bergantung pada siapapun. Sedari kecil diri ini dididik untuk mandiri, dari berpindah kota ke malang hingga saat ini menetap di bandung. Tak terduga apakah ada tantangan yang menunggu dalam tahun kedepannya? Apakah hanya ada tugas yang menumpuk dengan deadline begitu cepat? Aku hanya bisa menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.

 Perkenalkan namaku Syahira Mayla Deyaniara, sosok Wanita yang cerdas, mandiri, penurut dan motivator bagi teman terdekatnya. Siapa sangka sosok syahira memilih pilihan yang membuat dirinya terhalang jarak oleh seluruh keluarganya, mungkin tak ada yang berharap jarak akan memisahkan mereka. Begitu banyak pertimbangan dan banyak perhitungan dari mengambil pilihan yang sedemikian rupa, dan inilah jalan yang kupilih.

 Kebahagiaan terpaut di layar ponsel handphone yang ku genggam dan menampakkan sesosok wajah familiar. “Halo nenek, bagaimana keadaan Kesehatan nenek sekarang?” tanyaku yang menampakkan wajah penuh raut kekhawatiran. “Kamu yakin mau ke luar negeri?” tanya nenek yang kini memastikan pilihanku. “Ya jadi dong nenek, do’ain aku yaa nek semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusan ini, biar aku lulus dengan cepat” ujarku yang kini berhasil meyakinkan nenek akan pilihan yang tentu saja berat bagi keluarga besarku. “Yaudah jaga kesehatan kamu yaa sayang, kalau ada apa-apa kabarin nenek ya” ujar nenek kini mengingatkan akan segala yang berkaitan denganku. “Siap nenekku sayang, jangan lupa sama kesehatan nenek juga yaa. Yaudah kalau gitu aku mau packing-packing lagi yaa nek, aku matiin telponnya yaa” ujarku yang kini mematikan secara sepihak telepon dari nenek.

 Hari ini keberangkatanku menuju kampus yang kupilih yaitu Oxford University (Inggris), banyak barang bawaan yang sedang kupersiapkan untuk kebutuhan nantinya selama di Inggris. Siapa yang akan memprediksi bahwa kini pilihanku dilanda kebimbangan yang begitu dahsyat, ternyata pesawat yang akan ku tumpangi mengalami kecelakaan tragis. Kejadian aneh terus terjadi secara beruntun, seakan tak membiarkanku untuk meninggalkan tempat tinggal ku saat ini. Hingga kejadian tak terduga menyadarkanku, aku ternyata memilih segala sesuatunya tanpa meminta bimbingan dan petunjuk oleh sang maha pencipta. “Mama pikir pilihan kamu udah didiskusiin terlebih dahulu, tetapi sepertinya kamu lupa akan berkonsultasi akan segala yang terjadi dalam kehidupan kamu kedepannya. Mama beri kamu waktu untuk memikirkan kembali yaa sayang” ujar mamaku kini sedikit menegurku akan tidak bertindak gegabah.

 Pernah terbayang nggak mimpi dan uang yang selama ini ku impikan terasa sia-sia saja, tapi apakah kalian akan menyangka bahwa ada hikmah pembelajaran yang bisa di petik di dalamnya. Perasaan ini teras tiba-tiba tak karuan, ada perasaan bersalah didalamnya apalagi tak berdiskusi terlebih dahulu terhadap sang pencipta. Apakah pilihanku jalan yang terbaik untuk dipilih? Kemungkinan apakah itu kesalahan fatal yang ada di kehidupanku? Ternyata dugaanku benar selama ini, dan kini aku sudah mempertimbangkan segala pilihan ini untuk tak pergi kemana-mana. Tahukah apa yang terjadi saat itu? Tak ada yang bisa membelaku bahwa pilihan ini benar dan tak mendukung bahwa pilihan ini juga benar. Hingga malam yang penuh keheningan itu, kubiarkan diriku me time terhadap sang pencipta.

 Dalam hatiku sengaja kupasrahkan kesalahanku dan ampunan kepadanya, yang tak menyertakan segala pilihan kepada sang pencipta. Ku biarkan air mata ini mengalir sederas mungkin, sembari ku tengadahkan wajahku menatap langit-langit kamar dan berdo’a dengan khusyu’ di dalamnya. Ternyata pilihan yang akhirnya ku mantapkan dalam segenap hati dan dengan modal keyakinan, pilihanku menetap untuk menerima universitas yang sudah kupilih dengan matang. Tak ada yang mengira kalau kampus oxford university tak menjadi takdirku kali ini, tetapi menjadi takdir yang hanya sebatas numpang lewat saja. Awal kesabaranku mungkin akan diuji dalam tantangan yang begitu hebat, apakah aku bisa bertahan dengan modal kenekatan melindungi keluarga terdekatku atau malah sebaliknya?

 Kini aku berharap bahwa kampus Universitas Padjajaran adalah jalan hidupku selama empat tahun kedepannya, dan semuanya akan bermulai dari awal ku langkahkan kakiku menuju kampus Impian terakhirku. Hampir semua keluarga besarku sangat bahagia karena aku tak jadi pindah menuju luar negeri, tetapi menetap di kampung halamanku. “Kamu tak tahu kedepannya akan seperti apa, tetapi jarak yang kamu impikan bakalan segera terjadi. Semuanya tinggal menunggu tanggal waktu kejadian yang begitu mengerikan akan tiba, entah baik atau buruk dan firasatku sudah tidak enak hati dari sebelumnya” batinku dalam hati akan mimpi yang kualami malam itu. Mimpi itu terasa nyata dalam kehidupanku, tetapi semuanya seakan terlihat baik-baik saja tanpa ada kendala. Padahal mimpi tersebut yang memberikan petunjuk bahwa ada kematian akan terjadi pada keluarga terdekat, tak ada yang tahu pastinya kapan tapi pasti secepatnya akan terjadi.

 Kampus itu begitu mewah dan membuatku berdecak kagum akan pemandangannya yang begitu indah, hingga sekian berjalannya waktu aku mulai beradaptasi dengan lingkungan baruku yang begitu mengasyikkan. Semuanya berjalan dengan begitu cepat, hingga tak ada yang menyangka sudah semester tiga saja perjuanganku. Hingga semua bermula dari pertengahan semester tiga menjadi awal keterpurukanku, dan kapan akan berakhir dari hal yang tak indah untuk diingat atau diabadikan? “Suami saya sakit apa yaa dok?” tanya mama kini mengkhawatirkan kondisi papa yang sudah lemas tak berdaya. “Kondisi bapak akhir-akhir ini makin buruk bu, saya kira mungkin faktor dari penuaan atau makanan yang dikonsumsi oleh bapak secara berlebihan. Tetapi baru saja saya cek kembali keadaan kondisi kesehatannya ternyata umur bapak sudah tidak akan lama lagi bu” ujar dokter tersebut menyampaikan asumsi tentang kesehatan dari sang suami yang mulai makin memburuk kian bertambahnya waktu.

 “Tetapi dokter apakah ada cara lain untuk membuat kesehatan suami saya membaik?” tanya mama yang kini memohon kepada dokter tersebut untuk membantu kesehatan suaminya kembali pulih seperti dahulu. “Maaf buu sebelumnya, dalam kesehatan suami ibu kali ini hanya meminta perlindungan dari sang maha pencipta saja. Penyakit yang diderita bapak kali ini belum ada obatnya, bahkan peneliti atau dokter yang terkenal juga belum mampu membantu kondisi kesehatan bapak. Jadi saya sarankan untuk berkonsultasi kepada keluarga anda, apakah mau dibawa keluar negeri untuk konsultasi dengan guru dokter saya yang mungkin tahu tentang kesehatan buat suami anda atau kah tidak? Semuanya tergantung pada Keputusan keluarga anda, mari saya permisi terlebih dahulu” ujar sang dokter kini menyodorkan secarik kertas yang berisikan resep obat untuk di beli ke apotik terdekat.

 Sang istri hanya terpaku terdiam menatap keadaan suaminya yang sedang sakit dan perlu pengobatan lebih intensif ke luar negeri, apakah semuanya berjalan mulus sesuai dugaan sang istri ataukah ada hambatan lain yang akan mendatang? Ternyata belum apa-apa saja datanglah syahira masuk dan menanyakan keadaan papanya saat ini. “Apakah ada hal yang serius terkait kesehatan papah mah?” tanyaku kini duduk disamping mamahku. Mungkin mana ada orang tua yang ingin membebankan anak-anaknya karena kondisi papah yang sedang tidak membaik, tetapi apakah mungkin sang istri membawa suaminya keluar negeri dalam keadaan ekonomi yang begitu memprihatinkan?

 “Mah apakah ada yang membuat mamah berpikir begitu lama? Jawablah pertanyaanku mahh, kalau papah ada apa-apa jangan lupa bilang ke aku yaa” ujarku kini berpamitan ingin menuju kampus karena ada jadwal mata kuliah pagi. Mamah hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum baik -baik saja. “Mah… papah nggak perlu di bawa keluar negeri kok, keuangan kita kan hanya cukup untuk biaya kuliah anak kita dan kehidupan sehari-hari. Mamah nggak perlu khawatir akan kondisi papah, semuanya akan baik-baik saja kalau papa ditakdirkan sembuh dari penyakit ini. Kejadian ini jangan sampai ada keluarga besar kita tahu yaa mahh… lagian kalau mamah yang merawat papah pasti akan cepat sembuh tanpa perlu ke luar negeri” ujar sang suami yang mencoba menenangkan istrinya bahwa kondisinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

 Tapi siapa yang sangka, disisi lain syahira sang anak belum berangkat kuliah malahan menguping pembicaraan kedua orang tuanya dan menahan isak tangisnya agar tidak ketahuan. “Aku harus meminta bantuan terhadap keluarga besar, jangan sampai terlambat karena nyawa papah sudah di ujung tanduk” batinku kini berusaha menelfon siapapun yang mampu membantu kedua orang tuanya. Takdir hanya bisa mempermainkan nyawa seseorang yang tak berdaya, semua harapan hanyalah angan yang tak terwujudkan. Sesosok papah yang hanya bertahan cuman sampai kepulanganku yang susah payah sudah berusaha mencari uang untuk pengobatan, tetapi takdir tak memihak pada sosok syahira yang sudah kehilangan sosok papah kesayangannya.

 Rasa duka dan sedih masih menyelimuti keluarga besar syahira, mungkin tak ada pilihan yang terbaik selain menerima keikhlasan bahwa papah sudah tenang di alam barunya. Tak ada jarak yang lebih jauh melainkan jarak antara sosok yang sudah tiada dengan sosok yang masih ada. Aku bahagia papah sudah menjadi sosok panutanku yang tak lelah dalam menjalani kehidupan keluarganya, meskipun masalah ekonomi menjadi kendala dari segalanya tetapi papah tak pernah sekalipun untuk mengeluh akan takdir yang tidak beruntung itu.

 Papah yang tenang yaa disana, aku janji akan menjaga mamah selalu. Papah nggak perlu mengkhawatirkan aku dan mamah yaa… masih ada kok keluarga besar yang akan membantu menjaga mamah dan membiayakan kehidupan mamah dan aku. Kita semua selalu sayang sama papah dan sangat merindukan papah, terimakasih yaa pah atas segala jasa -jasa papah selama ini. Aku akan selalu mampir ke tempat baru papah setiap ada waktu luang, jangan merasa sendiri yaa papah… Aku pamit dulu sama mamah dan keluarga besar.


Sumber gambar: –

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

  • Nur Aini

    Nama ku Nur Aini tetapi biasanya kerap dipanggil Aini. Sekarang hobiku kadang membaca novel atau buku, menulis novel atau cerpen, terkadang kalau bosan main game, dan bersih-bersih. Perjuangan aku menulis itu terkadang banyak hambatannya, baik itu kadang tugas, kadang malas, dan terkadang juga belum ada ide untuk menambah tulisan yang baru. Motivasi aku menulis itu menyalurkan emosi yang terkadang mungkin menjadi energi negatif, tetapi aku merubahnya dengan hal positif menambah tulisan baru dan ide-ide yang tertuliskan dalam tulisan. Tentu juga dukungan dari orang tua untuk tetap mengembangkan tulisan atau ceritaku, jangan sampai berhenti untuk menulis. Alasan aku mengikuti kegiatan al-qolam karena ingin menambah ilmu dalam kepenulisan, dan mendapat ilmu lainnya dalam kegiatan ini sekaligus mengembangkan minat aku untuk tetap terus berkarya.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *