Lompat ke konten
Beranda » Blog » Di Bandara Kala Itu… – Kumpulan Fiksi Mini – Bagian 4

Di Bandara Kala Itu… – Kumpulan Fiksi Mini – Bagian 4

Karya-karya berikut ini merupakan hasil praktik menulis deskripsi berdasarkan gambar pemantik pada kegiatan “Bingkai Ilmu dan Kajian Kepenulisan 2024” yang diselenggarakan oleh UKM KI Al-Qolam UPI.


 Terik matahari menembus kaca-kaca besar, memantulkan bayangan pesawat yang berjajar di landasan. Troli-troli bergerak pelan, sesekali berhenti di depan gerbang keberangkatan. Orang-orang dengan tas punggung dan koper-koper kecil berdiri, duduk, atau berjalan dengan tatapan yang fokus ke depan, seolah waktu terus berputar dengan cepat. Di kejauhan, deretan layar digital berkelap-kelip, menampilkan jadwal keberangkatan dan kedatangan, mengiringi detik yang terus berdetak. Petugas dengan seragam rapi berkeliling, memberi isyarat dengan tangan yang tegas, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Penulis: Daniir (Fleasure)


 Senja di langit jingga tampak menyambut kedatangan para penumpang pesawat. Banyak orang membawa barang bawaannya masing-masing. Beberapa dari mereka berseru riang, berjumpa kembali dengan teman dan keluarga yang menjemputnya, melepas rindu, bersiap menikmati suasana kota yang menjadi tujuannya pulang. Matahari yang perlahan surut di kaki barat menjadi saksi atas pertemuan yang sudah lama didambakan itu. 

Penulis: Ay Dhiyaa


 Dalam kelam senja yang perlahan terbenam, seorang wanita masuk kedalam Bandara. Gemerlap sinar matahari jingga menembus kaca Bandara yang luas, menyinari helaian rambut yang terurai, menciptakan siluet keemasan yang memukau. Dari kejauhan, ia seakan bagai lukisan hidup yang menyatu sempurna dengan latar keindahan senja. Tiap langkahnya seolah berirama dengan detak jantung orang-orang yang berlalu lalang, sibuk dengan urusan masing-masing.

Penulis: Dari Makhluk Bumi


 Bandara, salah satu tempat persinggahan pulang perginya orang-orang. Berpacu menghirup udara seakan mau habis saja. Rasa lega ketika sampai, rasa cemas, ingin terburu-buru sampai di tempat yang dituju. Tidak banyak yang saling sapa, semua sibuk dengan perasannya masing-masing. Bahkan langit sore ikut serta menemani. Ada cerita apa dibalik pulang, perginya mereka? harap-harap cerita baik, namun kerap kali sendu membiru. Doa selalu teriringi setiap langkah, tidak mungkin sang khalik berdiam diri. Pilot yang membawa keberangkatan saja bisa dipercayai, mustahil sang maha pasti tidak diikut sertakan dalam hati-hati yang selalu mengharap keselamatan atas diri. Percaya dan yakin, Allah selalu melindungi.

Penulis: Restifani


 Di selasar pagi kutemukan secarik puisi, gemuruh angin desirkan bait bait sunyi mengetuk hati, Teringat tragedi dua tiga bulan Juni, aku kunjungi tempat ini lagi. Di musim yang ranggas angin bertiup begitu deras menampar reranting getas. Begitupun kenangan ; menjelma di tiap deru nafas.

Penulis: Diazz


Be Aware of One Thing

 Langit senja mulai terlihat. Namun, kegiatan masih berlangsung seperti awalnya pagi. Riuhnya tempat itu menemaniku dalam kesendirian. Aku melihat sekeliling. Semua orang menggandeng barang berharganya. Aku menarik napas panjang seolah rasa sesak menghinggapi relung pernapasan. Mencoba untuk berjalan dan mengitari setiap koridor. Apakah ada yang mengenalku? Menunggu satu orang yang sangat berharga dalam hidupku setelah mama. Namun, semuanya sia-sia. Aku kembali menyadarkan diri dan pikiranku. Aku harus ikhlas dan mengakui bahwa ia telah bahagia di surga-Nya.

Penulis: Dhia Salsabila


 Aroma kesedihan menguar bersama pahitnya kopi yang kuminum. Dadaku semakin sesak terimpit batu-batu besar nan tajam. Sungguh pedih perpisahan yang harus dijalani. Masih tampak jelas wajah-wajah penuh guratan itu di pelupuk mataku. Linangan air matanya ibarat sungai yang telah menghanyutkan berlian. Mereka harus kehilangan satu-satunya permata yang menjadi buah hatinya. Jiwaku seakan terenggut oleh Pedang Zulfiqar. Tersayat, terkoyak, dan terempas. Kini, tubuhku hanya seonggok daging tanpa nyawa.

Penulis: Iis Sumiati


 Di sore hari yang hangat, Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi berbagai macam orang. Seorang ibu dengan dua anak kecil tampak tergesa-gesa menuju gerbang keberangkatan, sementara seorang pria tua duduk tenang, menikmati secangkir kopi di kafe bandara. Di sudut lain, sepasang kekasih saling berpelukan erat, enggan berpisah. Suara pengumuman penerbangan bergema, menambah suasana riuh. Meski begitu, ada rasa tenang di tengah keramaian ini. Setiap orang membawa cerita, harapan, dan rencana, semuanya berkumpul di tempat yang sama untuk melanjutkan perjalanan hidup mereka.

Penulis: Putri


Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *