Karya-karya berikut ini merupakan hasil praktik menulis deskripsi berdasarkan gambar pemantik pada kegiatan “Bingkai Ilmu dan Kajian Kepenulisan 2024” yang diselenggarakan oleh UKM KI Al-Qolam UPI.

Matahari yang menghinggapi bumi, memancarkan cahaya alami yang selalu menyinari. Seolah menjadi saksi pada ribuan jiwa yang melangkahkan kaki seolah tak ingin pergi, meninggalkan sanak saudara bahkan orang tua. Tetesan air mata perlahan menetes, menjadi saksi bisu betapa sakitnya sebuah perpisahan di tempat ini. Seretan koper mulai terdengar ketika mereka memilih pergi. Lambaian tangan perlahan demi perlahan mereka lambaikan, walau nyatanya sulit untuk dilakukan. Tempat ini akan selalu dikenang ribuan bahkan jutaan jiwa manusia, menjadi tempat terhangat karena sebuah pelukan, tangisan, bahkan raungan. Kalimat yang tak pernah mau diucapkan, dilontarkan manusia manapun, tetapi dengan berbagai alasan apapun “selamat tinggal” akan selalu terdengar oleh siapapun di tempat ini.
Penulis: Nenden
Di bandara, suasana sore itu dipenuhi dengan aktivitas yang sibuk. Dari balik jendela besar, tampak pesawat-pesawat meluncur ke angkasa, menandakan keberangkatan dan kedatangan yang terus menerus. Kerumunan orang-orang tampak bergerak cepat, bergegas dengan tujuan masing-masing, sementara cahaya senja memancarkan kehangatan lembut di seluruh ruangan. Langit di luar menyala dengan warna oranye, menciptakan kontras yang indah dengan hiruk-pikuk di dalam bandara.
Penulis: Virda
Pada saat itu, rakyat rebah-jimpah berhamburan. Teriakan pedih orang-orang, juga teriakan menuntut keadilan. Di tengah kepulan asap dari ban yang dibakar, para aparat memukuli mereka yang dianggap provokator. Satu-dua terdengar suara senapan diiringi teriakan kesakitan. Sementata itu, Soni mengucek matanya yang merah akibat gas air mata. Ia tak henti-hentinya meneriakan keadilan. Namun, sebagai balasannya ia hanya mendapatkan kekerasan.
Kembali Pulang
Di antara banyaknya manusia. Arah pandanganku fokus mencari sosok yang sudah delapan windu tak kutemui. Ah, suara-suara manusia di sini sungguh menyamarkan suara lembut yang sedang kucari keberadaannya. Wewangian yang bercampur aduk ini mengganggu penciumanku yang sedang berusaha kutangkap wangi khas yang selalu melekat di tubuhnya. Namun dengan keajaiban takdir yang saling terikat, akhirnya kutemukan ia yang selama ini kurindu. Ibu, aku di sini, kembali pulang dari perantauan.
Penulis: NaMuri
Aminah berlari-lari untuk menemui sahabatnya yang akan pergi ke Turki, bagaikan disambar petir di siang hari ia telat datang ke Bandara, pesawat yang di naiki sahabatnya sudah lepas landas tujuh menit sebelum Aminah datang ke Bandara, wajahnya memerah menahan tangis, merasa sepi dan ia merasakan perpisahan ini begitu berat, ia tak sempat melambaikan tangan sebagai perpisahan pada sahabatnya, perasaan yang huru hara membuat Aminah berdiam diri di kursi bandara sambil memeluk boneka, yang pada awalnya akan diberikan untuk sahabatnya.
Penulis: Daun Hilir
Seorang wanita muda, berjalan-jalan di bandara dengan hati yang penuh dengan harapan. Dia telah menunggu selama berhari-hari untuk bertemu dengan keluarganya yang akan tiba dari perjalanan jauh. Setiap langkahnya dipenuhi dengan semangat dan kegembiraan.
Penulis: Putri Uliwatunjanah
Aku menarik koper hitam di samping dan melangkah pelan menuju terminal keberangkatan domestik. Rasa ini kembali lagi kurasakan, rasa tak nyaman untuk pergi tapi juga tak sabar untuk segera duduk di bangku pesawat. Tepat 10 meter di sebelah kanan tempatku berdiri saat ini seorang wanita paruh baya tengah berbincang dengan seorang gadis yang mungkin seusiaku. Mereka tidak hanya berdua, seorang lelaki paruh baya dengan anak lelaki di gendongannya menghampiri mereka. Keluarga cemara, pikirku. Seketika aku menyalakan ponsel, teringat jika aku belum mengabari keluargaku.
Penulis: Beezee
Terminal kedatangan bandara adalah sebuah labirin yang mengagumkan. Cahaya lampu neon yang menyilaukan membingungkan mata, sementara suara deru mesin pesawat dan pengumuman keberangkatan menciptakan irama yang khas. Aroma parfum, makanan cepat saji, dan keringat bercampur menjadi satu, membentuk sebuah aroma yang unik. Di tengah keramaian ini, setiap orang memiliki cerita yang berbeda. Ada yang baru saja tiba dengan wajah sumringah, menyambut hangat pelukan keluarga. Ada pula yang terlihat lelah setelah perjalanan panjang, matanya sembab karena kurang tidur. Koper-koper berjejer rapi di atas troli, menunggu untuk dibawa ke tempat tujuan yang baru.
Penulis: Putriana
Berlanjut ke bagian 4~