Lompat ke konten
Beranda » Blog » Kerinduan yang Mendalam – Cerpen

Kerinduan yang Mendalam – Cerpen

Peraih penghargaan “Karya Terfavorit” dalam kategori Cerpen pada Monthly Words Weaving Al-Qolam September 2024

Kerinduan yang Mendalam
Oleh: Nur Aini Ramadhani

 Apakah aku berhak membenci takdirku saat ini? Keselarasan akal sehat dan perasaanku sudah tak karuan. Aku merasa doa doa yang kupanjatkan di sepertiga malamku terasa tak berguna. Sejauh aku menahan deru kemarahan bertahun-tahun, apakah aku mampu bertahan di era keterpurukanku?

 Kesedihanku terasa sangat menyayat semua yang ada di kehidupanku, apakah aku tak ditakdirkan untuk bahagia meski dalam sekejap saja? Atau untuk sepersekian detik juga tak ada masalah bagiku. Permohonan yang selama ini ku mimpikan terasa lenyap begitu saja. Andai waktu bisa mengubah rasa sakit ini menjadi kebahagiaan, mungkin aku sudah tak menginginkannya. Jikalau doa ini tak dapat engkau kabulkan, maka biarkan aku bertakdir dengan kenyataan yang ada.

 Kilasan masa laluku kembali mengingatkanku bahwa betapa aku menginginkan kerinduan belaian kasih sayang dari keluargaku, tetapi aku tak menyangka bahwa hari ini aku dipertemukan oleh keluarga yang sudah lama berpisah. Jarak memang suka memisahkan antara aku dengan keluargaku, tapi apakah salah jika aku ingin mereka tetap bersamaku untuk selamanya? Apakah aku yang terlalu egois di sini dan mementingkan bahwa diriku hanya mampu mengisi kerinduan sementara?

 Ku langkahkan perlahan kakiku, menapaki jalan terjal menuju rumahku yang kini terasa hampa dan sepi. Aku sangat ingin tinggal bersama dengan mereka, tapi apalah daya kalau aku hanya keluarga yang tak dianggap. Aku hanya mengetahui bahwa aku itu anak yang dibenci kelahirannya, dan aku tak mengetahui apa alasan di balik itu semua.

 ”Aku bahagia kamu sudah bertemu dengan keluargamu, apakah kamu sangat senang?” tanya seorang pria paruh baya yang kini berjalan di sampingku. “Ya, itu hanya angan-anganku yang tak tersampaikan” ujarku kembali meratapi kesedihanku saat ini. Dia sahabatku namanya Muhammad Keynand, dan biasanya aku memanggilnya dengan sebutan Key. Dia yang selalu menghiburku disaat aku bersedih. Dia sahabat yang super baik sekaligus cerewet, banyak hal konyol yang dia buat untuk menghiburku untuk tak sedih lagi.

 Aku dan keluarga Key sangat menjaga silaturahmi yang baik, aku tinggal seorang diri di rumah yang ditinggalkan untukku sedari SMP oleh Ayah. Di sini lah takdirku dipertemukan oleh kesedihan mendalam, entah apakah aku yang salah atau akunya yang tak mampu bertahan. Terkadang Key juga punya kesibukan tersendiri, dan aku hanya menopang semua kesedihanku dalam sunyinya malam hari. Semuanya berawal dari kehampaan malam itu, begitu menyayat hati karena kedatangan sebuah keluarga yang tak kukenal berkunjung ke rumahku.

 ”Maaf apakah saya bisa bertemu dengan Keyra Mahesa” ujar seorang wanita paruh baya yang berparas cantik dalam usia nya yang sudah menua. “Saya sendiri bu, ada apa mencari saya?” tanyaku yang kini menatap heran wanita tersebut dengan memikirkan siapa sosok keluarga ini. “Keyra… ini ibu, Nak. Ibu sangat merindukan kamu. Maafin ibu ya, Nak,” ujar wanita tersebut memelukku dengan sangat erat dan tak bisa membendung air matanya yang mengalir membasahi pipinya.

 ”Maaf mungkin anda salah alamat, saya sudah yatim piatu dan nggak punya siapa-siapa. Saya permisi dulu ya” ujarku kini melangkahkan kakiku untuk kembali kerumah. “Tunggu, Keyra. Papa telah menitipkan kamu untuk ibu. Maafin ibu, Nak… ibu baru sempat datang setelah kepergiannya papa kamu, ibu tau ibu salah jadi tolong berikan ibu kesempatan untuk merawat mu sesuai janji ibu ke papa kamu” ujar wanita tersebut yang kini mencegahku untuk tak beranjak kemanapun.

 Aku kini membalikan badan dan menatap sang empunya yang menggenggam erat pergelangan tanganku, aku tak mampu untuk berkata seucap patah katapun. Permainan takdir apa yang engkau berikan ini untukku? Apakah rasanya sekaku ini untuk tetap tegar dan tersenyum untuk momen tak terduga yang engkau ciptakan.

 Rasanya seakan tak bisa menerima kenyataan pahit saat ini. Aku masih terdiam dengan memikirkan apa yang harus kulakukan? Otakku mulai bergelut dengan pikiran dan hati, apakah aku harus bersikap layaknya anak yang merindukan belaian sosok ibu nya? Atau kah aku harus bersikap tegas terhadap apa yang terjadi hari ini? Entahlah rasanya aku harus berani angkat bicara untuk memberikan waktu berpikir sejenak.

 ”Maaf, bu, saya lagi nggak enak badan. Mungkin lain waktu ibu bisa kesini kembali, saya butuh istirahat, ya, bu,” ujarku yang kini berpamitan untuk segera beristirahat secepatnya. “Tunggu nak, ibu hanya menitipkan sebuah alamat untukmu. Ibu tunggu kehadiranmu dirumah, ya, sayang,” ujar wanita tersebut menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan alamat rumahnya. Aku mengambil kertas tersebut dan menyimpannya di saku. Aku kini menatap langit-langit kamarku dan memejamkan mataku untuk menenangkan pikiranku yang kacau balau, tak butuh waktu lama tetesan air mata mengalir membasahi pipiku dengan derasnya. Mungkin keluarga itu memahami kondisiku untuk tak terlalu memaksa akan kejadian takdir yang tak terduga ini.

 Malam itu, penyakit ibu yang diderita selama ini kambuh, sang ayah dan anaknya membawa sang ibu untuk diperiksa ke rumah sakit. Tak ada yang menyangka, tenyata ibu dianjurkan oleh dokter untuk secepatnya menjalani operasi cangkok jantung. ”Pah… bagaimana ini? Keadaan ibu semakin memburuk dan harus secepatnya mencari donor jantung yang cocok untuk ibu” ujar sang anak yang mengkhawatirkan kondisi ibunya. ”Mungkin anak tadi mempunyai jantung yang cocok untuk diberikan kepada ibu” ujar sang ayah yang saat itu teringat akan anak yang ditemuinya malam itu. “Tapi pah… dia saudara tiriku, mana mungkin ibu mau menerima donor jantung dari anak yang selama ini dicarinya,” ujar sang anak kini menatap heran papahnya.

 ”Itu bukanlah hal yang susah anakku, mana mungkin dia membiarkan ibunya sekarat. Dia tak akan menolak jikalau jantungnya didonorkan kepada ibunya” ujar sang papah kini merencanakan hal buruk yang tak diketahui oleh sang istri. “Pah… Raya mohon jangan mengkorbankan kehidupan orang lain untuk kebahagiaan papah tersendiri, ingat pah ibu pasti akan kecewa sama tindakan keji yang papah lakukan,” ujar sang anak yang kini mengingatkan sang ayah untuk tak berbuat nekat.

 Ibu ternyata menikah kembali disaat sudah bercerai dari ayah Keyra, dan suaminya itu bernama Leo Lexianor. Keluarga baru ibu mungkin sangatlah berkecukupan, dan disanalah ternyata aku punya saudara tiri. Seorang remaja yang kini bernama Raya Lexianor itulah saudara tiriku, dan ibuku bernama Leyna Mahira. Keluarga baru tersebut ternyata tak seindah yang dibayangkan oleh Raya, banyak permasalahan yang begitu tak masuk akal untuk dipikirkan.

 Takdir ternyata mempermainkan kehidupan seorang Keyra, tak ada belas kasihan baginya untuk hidup sesuai keinginannya. Do’a yang dipanjatkan setiap malamnya tak ada yang terkabulkan, apakah ada yang salah dengan permintaanku untuk hidup bahagia bersama orang yang kita rindukan selama ini. ”Maafin aku ya bu… aku masih belum bisa menerima kejadian yang terlalu cepat ini, tapi aku tetap menganggap bahwa ibu itu pasti merindukanku sepertiku” batinku yang kini mengistirahatkan tubuhku.

 Keesokan harinya, aku mencoba untuk mendatangi alamat rumah yang dimaksud oleh ibuku. Pagi itu aku mempersiapkan makanan untuk diberikan kepada keluarga ibu nantinya, mungkin hari ini ada secercah harapan bagiku untuk layak bahagia dengan keluarga baruku. Tetapi disisi lain, di rumah sakit dimana sang anak menunggu ibunya yang lagi dirawat tiba-tiba papah memberitahukan bahwa hari ini sudah ada pendonor jantung yang cocok bagi sang istri. “Papah mau kerumah terlebih dahulu, tolong kamu jaga ibu kamu terlebih dahulu.” Ujar papah kini membawa tas yang sudah ia bawa untuk mengambil pakaian. “Pah… siapa gerangan orang yang mau mendonorkan jantungnya ke ibu pah?” tanya Raya yang kini mencegah papahnya itu. “Kamu tak perlu tau siapa orangnya, yang penting kesehatan ibu bisa kembali pulih seperti dahulu” ujar sang papah kini meninggalkan diriku yang penuh dengan banyak pertanyaan begitu banyak.

 Keyra kini mengetahui bahwa keluarga tersebut belum kembali dari kemarin malam, dan informasi terbaru yang kudapati adalah bahwa ibuku memiliki riwayat penyakit jantung. Kondisi ibu mungkin harus segera dioperasi untuk kesehatannya, dan dengan saat itu juga ada mobil sedang terparkir di depan gerbang rumah mewah itu. Ternyata itu suami baru ibuku, yang kini menuruni mobilnya untuk segera mengambil pakaian dan kembali lagi ke rumah sakit. “Apakah saya bisa bertemu dengan ibuku?” tanyaku yang kini menunggu jawaban dari sang empunya rumah mewah ini. “Tidak bisa, kau hanya malah memperburuk keadaan istri saya” ujar sang suami menolak dengan tegas sembari membawa pakaian dan meninggalkanku seorang diri.

 Hingga takdirlah yang berkata bahwa do’a yang kupanjatkan selama ini tak sia-sia, aku hanya ingin ibuku hidup bahagia dengan keluarga barunya. Mungkin aku bukan anak yang dibanggakan, tetapi aku ingin memberikan apapun untuk kesembuhan ibu kandungku. Tak akan kupedulikan nyawaku menjadi taruhannya, meskipun aku terkadang selalu merindukan belaian darinya. Kecelakaan itulah takdir yang mungkin sudah tertuliskan di sana, aku hanya berdo’a kepada Sang Maha Kuasa untuk menyembuhkan ibuku seperti dahulu kala. Kala itu hujan mengguyur deras tubuhku yang berlumuran darah terbujur kaku di jalanan, kejadian kecelakaan tragis iitu ternyata membawa kebahagiaan bagi sang suami bahwa rencananya berhasil sesuai yang diinginkan.

 Waktu operasi terus berjalan dan tak ada yang menyangka bahwa dalang kecelakaan tragis yang menimpa Keyra yaitu ulah dari sang papah. Akhirnya operasi tersebut berhasil dan menunggu keadaan pasien sadar, tetapi kejadian begitu cepat tanpa bisa menduga apa yang terjadi saat itu. Polisi kini tiba-tiba membawa surat penangkapan atas nama sang papah, yang kini terbukti kejahatan berencana untuk membuat nyawa seseorang diambang kematian. Raya hanya bisa meratapi papahnya dibawa polisi, dan melihat siapakah gerangan orang yang telah mendonorkan jantungnya untuk sang ibu. Ternyata dia melihat sebuah tubuh yang sudah terbujur kaku dingin dan inilah saudara tirinya, isak tangis memenuhi ruangan mayat tersebut dan raut penyesalan akan apa yang harus ia jelaskan kepada sang ibu.

 Hingga ada seorang suster memberikan surat untuk ibuku dari sang pendonor, Aku tak bisa berkata-kata sampai ada keajaiban bahwa ibu telah sadar dari pasca operasi dan menanyakan dimana sang suami dan anak yang dicarinya selama ini. “Ibu, ini ada surat dari orang telah rela mendonorkan jantungnya untuk ibu” ujarku yang kini menyodorkan surat yang sudah ditulis khusus untuk ibu. Surat tersebut berisikan Keyra sangat merindukan kasih sayang dari ibunya.


Bagaimana reaksi kamu?
+1
1
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

  • Nur Aini

    Nama ku Nur Aini tetapi biasanya kerap dipanggil Aini. Sekarang hobiku kadang membaca novel atau buku, menulis novel atau cerpen, terkadang kalau bosan main game, dan bersih-bersih. Perjuangan aku menulis itu terkadang banyak hambatannya, baik itu kadang tugas, kadang malas, dan terkadang juga belum ada ide untuk menambah tulisan yang baru. Motivasi aku menulis itu menyalurkan emosi yang terkadang mungkin menjadi energi negatif, tetapi aku merubahnya dengan hal positif menambah tulisan baru dan ide-ide yang tertuliskan dalam tulisan. Tentu juga dukungan dari orang tua untuk tetap mengembangkan tulisan atau ceritaku, jangan sampai berhenti untuk menulis. Alasan aku mengikuti kegiatan al-qolam karena ingin menambah ilmu dalam kepenulisan, dan mendapat ilmu lainnya dalam kegiatan ini sekaligus mengembangkan minat aku untuk tetap terus berkarya.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *