Karya fiksi mini ini merupakan hasil dari kegiatan Upgrading: Permainan Menyulam Cerita
Prompt: “Ketika alarm tua itu berbunyi, ia sadar bahwa waktunya hampir habis untuk menyelamatkan dunia…”
Surat Budi Anak Bapak
Oleh: Pengurus Inti x Produksi – Kota Bulan, Pena Yang Terjatuh, Peri Kecil, Kota Bintang
Sinar mentari yang terik tidak kunjung membangunkan Budi dari tidur panjangnya. Semakin menyengat panasnya hingga alarm terakhir dari benda tua itu berbunyi nyaring. Budi tersentak dan sontak mematikan bunyi memekakkan telinga itu. Ia tersadar ada hal penting yang harus dijaga, yaitu keamanan dunia. Ruang kosong menatapnya dari kejauhan, ia kebingungan dengan hilangnya semua orang. Padahal baru semalam ia bersenda gurau dengan sahabat-sahabatnya. Ia kelimpungan tak tentu arah, mencari harapan dan bantuan kesana kemari.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyanya kebingungan.
Budi yang telah kelelahan mencari kemana perginya orang-orang di sekitarnya, mengalihkan usahanya ke media sosial. Berharap bahwa ia bukan satu-satunya orang yang tersisa di dunia ini. Syukurlah cuitannya di salah satu media sosial membuahkan hasil. Masih ada beberapa orang yang membalas cuitannya, ikut bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi dan apa penyebab semua orang menghilang. Sebagai penjaga keamanan dunia, Budi pun mengumpulkan orang-orang yang masih tersisa di media sosial dengan membuat sebuah group chat dan mendiskusikan tentang keadaan dunia dan langkah mereka selanjutnya.
Budi menghubungi orang-orang yang berada di group chat satu per satu, memastikan mereka benar-benar ada. Setelah memastikan keberadaan mereka, Budi mengajak mereka untuk mengadakan pertemuan secara langsung. Pertemuan dijadwalkan dilakukan di sebuah markas penyimpanan dokumen negara yang sangat rahasia malam nanti. Diskusi terus dilakukan melalui group chat juga dari komenan twitter, untuk memastikan mereka datang tepat waktu dan mengetahui dimana keberadaan orang-orang yang menghilang.
Setelah diskusi panjang, terungkaplah rahasia besar negara. Budi ternyata anak haram Pak ******. Dia sebenarnya adalah dalang dari menghilangnya orang-orang, tapi karena dia sangat ahli dalam dunia politik, semua orang percaya pada kata-kata manipulatifnya. Ini adalah kisah yang dibuat oleh Budi sendiri. Dia menciptakan sebuah situasi yang menggemparkan hanya karena dia sedang gabut. Saya adalah salah satu korban dari kejamnya sosok Budi.
Surat ini saya tulis dengan darah yang mengalir di jari telunjuk saya. Saya harap ada orang yang menemukan surat ini dan segera sadar dengan kekejaman Budi. Lalu, harapan terbesar saya untuk orang yang membaca surat ini adalah segera menjauhi “Bapak” karena beliau adalah orang yang lebih berbahaya dari Budi.