Lompat ke konten
Beranda » Blog » Tamu Agung Kota Raya Rupawan – Cerpen

Tamu Agung Kota Raya Rupawan – Cerpen

Tamu Agung Kota Raya Rupawan
oleh Iis Sumiati

Kota Raya Rupawan kedatangan seorang Tamu Agung. Dia adalah Ekbal, cendekiawan muda lulusan Universitas Arif Bestari. Pria 25 tahun itu sedang mencari tempat tinggal untuk menetap, membangun rumah tangga, dan menghabiskan hari tua. Namun, dia belum menemukan kota yang cocok untuk ditinggalinya.

Setelah berkeliling dari satu kota ke kota yang lain, Ekbal akhirnya tertarik untuk melakukan kunjungan di Kota Raya Rupawan. Kota itu dipimpin oleh kakak-beradik bernama Bakir dan Bagus. Meskipun bersaudara, keduanya justru tidak akur. Oleh karena itu, kota yang terletak di jantung kota ini dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kota Raya yang dipimpin oleh Bakir dan Kota Rupawan yang dipimpin oleh Bagus. 

Walaupun terbagi ke dalam dua wilayah, pemerintahan Kota Raya Rupawan masih berpusat di satu titik yang sama. Raya Rupawan memang  memiliki dua walikota, tetapi menteri-menteri dan kabinet kerja lainnya dipegang oleh satu orang. Hal ini dilakukan atas kesepakatan dari kedua belah pihak. Bakir dan Bagas tidak jika harus menghabiskan dana dua kali lipat hanya untuk menggaji karyawan yang kebanyakan kurang gesit dalam bekerja.

Seperti namanya, Kota Raya memang dihuni oleh orang-orang kaya yang sukses di bidangnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka menguasai bidang ekonomi, seperti perdagangan. Bahkan tidak sedikit juga yang berhasil mempunyai rumah pribadi layaknya kerajaan-kerajaan di negeri dongeng. Uang tersebut diperoleh mereka dari bisnisnya selama bertahun-tahun. Namun, ada beberapa pengusaha kelas kakap yang justru mendapatkan uang dari hasil menipu klien. Di Kota Raya penipuan diperbolehkan karena hal itu dapat memberikan keuntungan berlipat dengan syarat orang yang ditipu harus berasal dari luar kota. Artinya sesama penduduk Kota Raya dilarang saling menipu.

 Adapun Kota Rupawan ialah kota yang dihuni oleh pria-pria tampan dan perempuan-perempuan cantik. Kota ini dikenal mampu menghasilkan bibit unggul yang tidak diragukan lagi. Semua penduduk asli Kota Rupawan memiliki ketampanan dan kecantikan alami sejak mereka lahir. Namun, ada satu-dua pendatang yang memiliki kerupawanan dari hasil operasi. Bedah plastik memang legal di kota ini bahkan para rakyat yang sudah dianugerahi ketampanan dan  kecantikan oleh Tuhan pun diperbolehkan untuk melakukannya. Mereka diberikan keleluasaan untuk melakukan serangkaian tindakan medis guna menyempurnakan penampilannya. Orang-orang di Kota Rupawan memang terbilang memiliki pendapatan yang rendah dan tergolong ke dalam kelas menengah ke bawah. Akan tetapi, klinik-klinik kerupawanan tersedia di seluruh penjuru kota dengan tarif terjangkau sesuai kantong masyarakat.

Setelah mendengar pemaparan keunggulan Kota Raya Rupawan, Ekbal semakin antusias untuk bisa tinggal di sana. Soal ketampanan, dia tidak bisa disepelekan. Wajahnya perpaduan Timur dan Barat. Hidungnya mancung, alisnya tebal, kulitnya kuning langsat, dan badannya tinggi semampai lagi tegap. Bagaimana dengan kekayaan? Itu juga tidak usah diragukan. Selama menempuh pendidikan S2 dan S3, Ekbal telah berhasil menjadi Dewan Kemakmuran Rakyat Nasional (DKRN). Oleh karena itu, dia hanya perlu memainkan kecerdasan otaknya untuk bisa mendapatkan uang senilai puluhan bahkan ratusan juta rupiah dengan mudah.

Kandidat seperti Ekbal sangat cocok untuk menjadi salah satu warga di Kota Raya Rupawan. Dia bahkan bisa bebas memilih antara Kota Raya atau Kota Rupawan. Karakteristiknya sudah memenuhi standar kedua kota tersebut. Secara fisik, Ekbal sangat cocok untuk tinggal di Kota Rupawan sedangkan secara finansial Ekbal sangat cocok untuk tinggal di Kota Raya. Sungguh, dia adalah manusia paling sempurna yang diidamkan oleh banyak orang karena memiliki perpaduan kerupawanan dan kekayaan yang serasi.

“Jadi, bagaimana Tuan Ekbal? Anda berminat untuk tinggal di Kota Raya atau Kota Rupawan?” tanya Penasihat Kota Raya Rupawan. 

“Saya pikirkan dulu,” jawab Ekbal.

“Tuan Ekbal lebih baik tinggal di Kota Raya saja. Saya jamin peluang Tuan untuk meningkatkan kekayaan di sana sangatlah besar. Saya yakin tidak akan ada orang terkaya di sana selain saya dan Tuan tentunya,” ucap Bakir, Walikota Raya.

“Hm, menarik,” balas Ekbal.

“Lebih baik Tuan Ekbal tinggal di Kota Rupawan saja. Saya jamin ketampanan Tuan akan meningkat berkali-kali lipat. Saya yakin tidak akan ada orang tertampan di kota itu selain saya dan Tuan tentunya. Satu hal lagi, Tuan. Jika tinggal di sana, saya percaya bahwa Tuan akan mendapatkan perempuan mana pun yang Tuan inginkan. Pasti Tuan akan senang dengan perempuan-perempuan cantik yang ada di sana,” ujar Bagus, Walikota Rupawan.

“Hm, lebih menarik,” sahut Ekbal.

Bagus tersenyum puas. Dia seakan meledek Bakir, kakaknya, dengan penuh kemenangan. Jika bukan karena Tamu Agung ini, Bakir pasti sudah membuat rencana untuk melakukan penyerangan. Bukankah dirinya sudah lama menginginkan Perang Panas Ketiga terjadi?

“Nah, Tuan sudah mendengar berbagai penawaran, baik dari Kota Raya maupun Kota Rupawan. Apakah sekarang Tuan sudah dapat memutuskan ingin tinggal di kota mana?” tanya Penasihat lagi.

“Jujur saja saya masih bingung. Ini adalah pilihan yang sulit. Tolong beri saya waktu 7 x 24 jam untuk berpikir. Saya tidak bisa mengambil keputusan dengan tergesa-gesa dan terburu-buru seperti ini. Saya harap tawaran ini dapat dimengerti.”

“Baiklah kalau begitu. Terkhusus untuk Tuan, kami akan memberikan penangguhan. Waktu satu minggu untuk berpikir itu tidak terlalu buruk. Kami tunggu jawaban Tuan minggu depan.”

“Baik. Terima kasih atas penyambutan luar biasa ini. Saya permisi dulu.” Ekbal pergi meninggalkan Penasihat, Bakir, dan Bagus.

“Dia pasti akan tinggal di kotaku, Anak Kecil,” ucap Bakir.

“Hei, Orang Tua, dia sudah pasti akan tinggal di kotaku. Jelas-jelas dia lebih tertarik untuk tinggal di Kota Rupawan daripada Kota Raya. Lihat saja nanti,” balas Bagus.

“Maaf Tuan-Tuan sesuai peraturan perdamaian kota, tidak boleh ada keributan sebelum calon penduduk memutuskan untuk memilih tempat tinggalnya. Saya harap Tuan-Tuan dapat mengerti. Jika memang ingin mengadakan peperangan, harap tunggu sampai minggu depan. Terima kasih!” seru penasihat.

***

Tamu Agung datang kembali. Namun, kali ini ada yang berbeda dari penampilannya. Dia tidak lagi menggunakan mobil mewah dan pakaian mahalnya. Jambang yang semula bersih pun, kini tumbuh cukup lebat. Selain itu, kopiah putih juga melengkapi setelan baju kokonya yang berwarna senada. Apa yang terjadi dengan cendekiawan muda ini?

“Selamat pagi, Tuan Ekbal,” sapa Penasihat.

“Pagi,” balas Ekbal.

“Langsung saja, Tuan. Jadi, apa keputusan yang Tuan ambil? Apakah Tuan akan tinggal di Kota Raya atau Kota Rupawan?”

“Tidak keduanya,” jawab Ekbal santai.

“Apa!” teriak Bakir dan Bagus hampir bersamaan.

“Lantas, Tuan akan tinggal di mana?” Penasihat bertanya lagi.

“Kota Salam.” 

Bakir dan Bagus membelalakkan kedua matanya.

“Kota Salam? Apakah saya tidak salah dengar, Tuan.”

“Tentu tidak. Saya sudah memikirkan keputusan ini secara matang. Waktu itu selepas pulang dari sini, saya tidak sengaja bertemu dengan Tuan Tabik. Tuan Bakir dan Tuan Bagus pasti lebih mengenal beliau. Tuan Tabik mengenalkan saya pada Kota Salam. Kota itu memang kecil dan sederhana serta jauh dari kerupawanan ataupun kemegahan seperti Kota Raya Rupawan. Namun, di kota itu justru terdapat kedamaian yang mampu menenangkan hati. Bukankah hal itu mustahil ditemui di kota ini?

“Lagi pula saya sudah terlalu jauh dari Tuhan. Saya ingin kembali mendekatkan diri kepada-Nya. Sudah saatnya saya fokus mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal. Tuan Tabik juga bersedia untuk membimbing saya. Selain itu, insyaallah saya akan segera menikahi putri bungsu Tuan Tabik. Semoga Tuan-Tuan sekalian berkenan untuk menghadiri pernikahan kami nanti. Anggap saja ini bukan undangan dari saya, melainkan Tuan Tabik, ayah kalian. “Baiklah keputusan sudah disampaikan. Mohon maaf apabila hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Saya izin pamit. Assalamu’alaikum.” Ekbal pergi meninggalkan Penasihat, Bakir, dan Bagus.


Sumber gambar: Pexels.com/Mete Kaan Özdilek
Tautan: https://www.pexels.com/id-id/foto/diproses-dengan-vsco-dengan-preset-hb2-26113654/

Bagaimana reaksi kamu?
+1
0
+1
4
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *