Lompat ke konten
Beranda » Blog » AKASIA – Puisi

AKASIA – Puisi

AKASIA
Karya : Maharani Intan Phitaloka

Aku telah bicara,
tanpa lidah,
tanpa suara.
Kupetik Akasia—kupaku di hadapanmu
bagai tubuh-tubuh luka
yang tak bisa kau baca.

Kau diam.
Kau tunduk pada waktu
sementara aku masih berdiri
sekeras akar, sehampa langit dini hari.

Akasia layu dengan hormat,
memberi ruang pada tanah yang dulu kita pijak.
Sedang aku,
aku bebal.
Menatapmu seperti kebenaran terakhir,
hingga mataku tuli pada dunia.

Aku bukan Akasia,
tapi setiap gugur daunnya adalah aku
yang tak sempat kau mengerti.

Dan ketika kau mulai tahu—
tak ada Akasia,
tak ada aku,
kecuali bayangan
yang pernah menggigil dalam kepalamu.

Terlambat kau.

Dan aku bukan lagi
yang bisu dan mendamba.
Aku telah jadi asing
di baris-baris orang yang datang setelahmu.

Bagaimana reaksi kamu?
+1
1
+1
3
+1
0
+1
0
+1
0

Penulis

  • Maharani Intan Phitaloka

    Saya tidak punya kata untuk dituangkan pada bagian “tentang penulis”, sebagaimana mestinya memperkenalkan diri. Namun, yang pasti, "Melecun" ditulis ketika saya harus memutuskan serta melepaskan apa yang diberiNya, dengan perasaan tak ada daya, rasa syukur harus terpanjat, sekalipun begitu meragu. Saya menulis karena ingin, karena butuh proses inkubasi, jadi... mungkin "Melecun" bukan karya baru yang dibuat spontan dadakan, tetapi hadirnya bagian dari perjalanan saya. Terima kasih.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *