Holiday Games
Oleh Iis Sumiati
Ketika libur sekolah datang, para siswa Cendekia dimasukkan ke dalam penjara. Mereka tidak boleh ke mana-mana sampai tahun ajaran baru dimulai. Sosok di balik kekejaman ini ialah Mulyana, sang kepala sekolah.
SMP Cendekia baru saja didirikan lima tahun silam. Belum banyak alumni yang lulus dari sekolah ini. Namun, setiap orang yang pernah mengeyam bangku pendidikan di Cendekia pasti sudah mengenal Mulyana karena dia merupakan kepala sekolah abadi yang belum pernah turun jabatan.
Liburan akhir semester adalah tragedi kelam yang paling menakutkan bagi para siswa. Selama liburan berlangsung, tidak ada satu pun siswa yang boleh mengunjungi sekolah dengan alasan apa pun. Mulyana melakukan hal tersebut lantaran dia ingin keamanan sekolah tetap terjaga selama libur panjang. Namun, aturan itu justru menuai pro kontra di kalangan murid dan orang tua.
“Kita tidak boleh membiarkan kepala sekolah itu sewenang-wenang terus seperti ini,” ucap Aariz pada kedua temannya sesaat setelah mendengarkan ungkapan-ungkapan “bijak” dari Mulyana pada acara seremonial perpisahan yang digelar setiap akhir tahun ajaran. Upacara itu pun menjadi gerbang siswa-siswi Cendekia untuk masuk ke dalam penjara. Mereka harus mendekam di sana selama hampir satu bulan.
“Mau gimana lagi, Riz. Pak Mul itu orangnya keras kepala terus galak lagi. Jangankan murid, orang tua aja nggak ada yang berani ngebantah keputusannya,” balas Malik.
“Bener kata Malik, Riz. Pak Mul itu orang nomor satu di sekolah ini. Jadi, semua perintahnya harus digugu dan ditiru,” timpal Ridwan.
“Nggak bisa gitulah. Emang sekolah ini punya dia? Pak Mul nggak bisa seenaknya ngelarang kita buat dateng ke sini. Sekolah itu, kan, sarana umum. Apalagi kita juga udah bayar SPP tiap bulan. Masa iya kita nggak boleh gunain fasilitasnya cuma karena hari libur.”
“Terus sekarang mau gimana, Riz?” tanya Malik.
“Aku punya rencana.” Aariz tersenyum.
Mereka pun pulang dan berkumpul di rumah Aariz. “Jadi, apa rencananya?” Kali ini Ridwan yang bertanya.
“Nih!” Aariz menyerahkan sesuatu kepada Malik dan Ridwan. Mereka pun membacanya.
“Proposal? Surat persetujuan?” ucap keduanya hampir bersamaan.
“Ya, proposal dan surat persetujuan. Aku sengaja ngebuat itu jauh-jauh hari sebelum penutupan sekolah. Pokoknya kita harus buat kepala sekolah setuju untuk memberikan keleluasaan penggunaan sekolah setiap kali liburan.”
“Hah? Gimana, Riz, aku nggak ngerti?” ucap Malik.
“Iya, Riz, aku juga,” balas Ridwan.
Aariz menarik napas panjang. “Gini. Aku punya rencana buat ngadain Holiday Games. Jadi, kita akan sulap sekolah menjadi tempat bermain dan belajar yang menyenangkan untuk para siswa. Nah, sistemnya itu nanti bakal ada berbagai jenis permainan yang bertujuan untuk melatih ketajamanan otak, misalnya tebak kata, tebak gambar, cerdas cermat, olimpiade matematika, IPA, dan sebagainya.”
“Oh, kayak acara Kelas Juara yang ada di TV itu, ya?” tanya Ridwan.
“Betul. Kurang lebih gitulah konsepnya. Di sana itu kita bisa bermain sambil belajar. Jadi, nggak ada alasan buat rebahan terus di rumah selama liburan. Selain menyenangkan ini juga bermanfaat, kan?”
Malik tampak ragu. “Tapi, gimana caranya biar kepala sekolah tanda tangan proposal dan surat perjanjian itu?”
“Gampang. Biar aku yang urus,” pungkas Aariz.
***
Holiday Games hari pertama dimulai. Aariz dan teman-temannya berhasil mengubah Cendekia menjadi wahana permainan yang menyenangkan sekaligus mengedukasi. Para siswa yang biasanya hanya liburan di rumah pun tampak bahagia mencoba berbagai permainan yang ada.
Aariz sedang asyik mengikuti Math Quiz. Kepiawaiannya dalam matematika membuat dia terlihat tidak mengalami kesulitan sedikit pun. Sementara itu, teman-temannya yang lain sudah menggaruk-garuk kepala. Mereka tidak habis pikir, mengapa soal yang ada sangatlah sulit untuk dijawab.
Aula Cendekia penuh dengan pancaran kebahagiaan. Di pojok kanan ada Malik yang sedang bermain tebak gambar. Sementara itu, di pojok kiri ada Ridwan yang tengah bermain tebak kata. Adapun separuh aula lainnya dipenuhi oleh beragam permainan, mulai dari kuis IPA, IPS, Inggris, Indonesia, dan sebagainya.
Di tengah kebahagiaan itu datanglah seseorang yang menjadi penyebab kerusuhan. Dia membawa pengeras suara dan menyalakan sirine. Anak-anak pun menutup telinga mereka lantaran kegaduhan tersebut.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanya Mulyana dengan kemarahan yang berapi-api.
Tidak ada satu pun murid yang angkat bicara.
“Kalian semua sudah melanggar peraturan yang telah saya buat. Tidak boleh ada acara apa pun di sekolah ini sampai tahun ajaran baru dimulai. Apakah kalian lupa akan hal itu?” Mulyana menatap tajam satu per satu siswa yang ada di hadapannya.
“Kalian mau saya keluarkan?”
Para murid terkejut. Mereka pun serempak mengatakan, “Tidak!”
Mulyana tersenyum miring. “Baiklah saya akan memaafkan pelanggaran yang telah kalian lakukan. Anggap saja ini sebagai peringatan yang pertama. Tapi, kalian semua harus membayar denda masing-masing 1 juta rupiah. Paham?”
“Apa? Nggak bisa gitu, dong, Pak,” tolak Malik.
“Iya, Pak. Uang segitu terlalu besar. Kami keberatan. Iya, kan, Temen-Temen?” tanya Ridwan.
“Iya,” jawab teman-temannya serempak.
Aariz naik ke panggung. Dia pun mengatakan, “Teman-Teman, tidak ada yang perlu membayar denda. Kegiatan kita sudah disetujui oleh Pak Mulyana selaku kepala sekolah. Beliau sendiri yang menandatangani proposal dan surat persetujuannya. Bukankah begitu, Pak?” Pemuda itu menunjukkan satu bundel proposal dan selembar surat kepada sang kepala sekolah.
“Ayo kita lanjutkan Holiday Games!” teriak Aariz.
“Ayo!”
“Sialan,” umpat Mulyana pelan. Dia pun turun dari panggung. Baru kali ini dia dipermalukan oleh anak kecil.
Mulyana pun teringat dengan kejadian satu minggu yang lalu. Saat tengah merapikan berkas-berkas sekolah, ada seseorang yang berkunjung ke ruangannya. Tamu yang datang tersebut adalah Harun, pemilik yayasan.
“Wah, Pak Harun. Sudah lama tidak ke sini. Silakan duduk, Pak,” sapa Mulyana setelah menjawab salam.
“Terima kasih, Pak. Sepertinya Pak Mulyana sedang sibuk, ya? Saya jadi tidak enak, nih, mengganggu,” ucap Harun.
“Tentu tidak, Pak. Saya tidak pernah merasa terganggu oleh kedatangan Bapak.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Oh, iya, saya ke sini ingin memberikan ini kepada Bapak.”
“Proposal dan surat persetujuan? Untuk apa, Pak?”
“Jadi, anak saya Aariz dan teman-temannya mempunyai ide untuk menggelar sebuah acara di sekolah. Temanya itu adalah bermain sambil belajar. Nah, mereka butuh persetujuan Bapak sebagai kepala sekolah agar kegiatan tersebut dapat terlaksana.”
“Wah, anak Bapak cerdas sekali, ya. Baru 13 tahun saja pemikirannya sudah cemerlang seperti ini. Bagaimana jika sudah dewasa nanti? Pasti dia akan menjadi orang yang hebat seperti Bapak.”
“Aamiin. Kita doakan saja, ya, Pak. Jadi, bagaimana tanggapan Bapak?”
“Kalau saya, sih, sudah pasti setuju, Pak. Apalagi itu untuk kemajuan anak-anak juga. Kita sebagai tenaga pendidik wajib untuk memikirkan perkembangan anak-anak selanjutnya. Mereka harus terus belajar, tetapi jangan sampai merasa bosan. Saya yakin jika belajarnya sambil bermain seperti ini pasti mereka akan senang.”
“Betul sekali, Pak. Sejak awal saya membangun sekolah ini, visi utama yang menjadi tumpuan adalah membentuk generasi cendekia yang berintegritas dan berprestasi. Jadi, nantinya mereka diharapkan dapat berkontribusi secara langsung untuk kemajuan bangsa.”
“Nah, itu. Luar biasa, Pak. Kalau begitu saya langsung tanda tangan saja, ya?”
“Tidak mau dibaca dulu, Pak?”
“Ah, tidak usah. Kalau Aariz yang buat, saya yakin isinya pasti bagus dan sempurna.”
Sepanjang jalan, Mulyana hanya mengomel. “Bener-bener sialan anak kepala yayasan itu. Mentang-mentang punya privilege, bisa-bisanya aku dikibulin. Kalo gini, kan, uang kebersihan selama liburan akan hangus. Pokoknya aku harus cari cara lain untuk bisa kembali mengambil keuntungan di Cendekia.” Otak licik Mulyana kembali berputar.
Sumber gambar: Pexels.com/Max Fischer
Tautan: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-berkacamata-putih-mengenakan-kacamata-berbingkai-hitam-5212334/